Home Kisah-Sejarah Kisah Sahabat Tak Hiraukan Seruan Jihad, Ini yang Dialami Sahabat Rasulullah (4)

Tak Hiraukan Seruan Jihad, Ini yang Dialami Sahabat Rasulullah (4)

902
0

Subuh menjelang pada hari ke-50 pengasinganku. Ketika tengah berzikir memohon ampunan dan mohon dilepaskan dari kesempitan hidup dalam alam yang luas ini, tiba-tiba terdengar teriakan orang-orang memanggil namaku.

“Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah..! Wahai Ka’ab bin Malik bergembiralah..!”

Mendengar berita itu aku langsung bersujud memanjatkan syukur kepada Allah. Aku yakin pembebasan hukuman telah dikeluarkan. Aku yakin, Allah telah menurunkan ampunan-Nya.

Rasulullah menyampaikan berita kepada para sahabatnya usai shalat Subuh bahwa Allah telah mengampuni aku dan dua orang sahabatku. Orang-orang pun berlomba mendatangi kami, hendak menceritakan berita gembira itu. Ada yang datang dengan berkuda, ada pula yang datang dengan berlari mendahului yang berkuda. Sesudah keduanya sampai dihadapanku, aku berikan kepada kedua orang itu dua setel pakaian yang aku miliki. Demi Allah, saat itu aku tidak memiliki pakaian kecuali yang dua itu.

Aku segera mencari pinjaman pakaian untuk menghadap Rasulullah. Ternyata aku telah disambut banyak orang dan mereka mengucapkan selamat kepadaku. Demi Allah, tidak seorangpun dari Muhajirin yang berdiri memberi ucapan selamat selain Thalhah. Sikap Thalhah itu tak mungkin aku lupakan. Sesudah aku mengucapkan salam kepada Rasulullah, mukanya tampak cerah dan bergembira.

“Bergembiralah engkau atas hari ini..! Inilah hari yang paling baik bagimu sejak engkau dilahirkan oleh ibumu..!” kata Thalhah haru.

“Apakah dari Allah ataukah dari engkau ya Rasulullah..?” aku bertanya sambil berupaya menyabarkan diri. “Bukan dariku..! Pengampunan itu datang dari Allah..!” jawab Rasulullah.

Demi Allah, belum pernah aku merasakan besarnya nikmat Allah kepadaku sesudah Dia memberi hidayah Islam kepadaku, lebih besar jiwaku daripada sikap jujurku kepada Rasulullah SAW.

Ka’ab bin Malik lalu membaca ayat pengampunannya itu dengan penuh haru dan syahdu. Sementara air matanya terus berderai membasahi kedua pipinya.

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah melainkan kepada-Nya saja. Kemudian, Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Menerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah : 118).


(Yakhsyaaa/BersamaDakwah)

Dikutip dari buku: Ayat-Ayat Pedang-Kisah Kisah Pembangun Semangat Juang

SHARE