Home Kisah-Sejarah Kisah Sahabat Tak Hiraukan Seruan Jihad, Ini yang Dialami Sahabat Rasulullah (3)

Tak Hiraukan Seruan Jihad, Ini yang Dialami Sahabat Rasulullah (3)

560
0

Kami pun mengucilkan diri dari masyarakat umum. Mereka bersikap lain kepada kami. Pada waktu itu seakan aku hidup di suatu negeri yang berbeda dari negeri yang aku kenal sebelumnya. Sedangkan kedua temanku tadi mendekam di rumah masing-masing. Mereka menangisi nasib dirinya masing-masing. Aku termasuk orang yang paling kuat dan tabah di antara mereka. Aku tetap keluar untuk shalat jamaah dan keluar masuk pasar meski tak seorangpun yang mau berbicara denganku atau menanggapi ucapanku. Aku juga datang ke majelis Rasulullah SAW. Sesudah beliau shalat, aku mengucapkan salam sembari hati kecilku terus bertanya dan memperhatikan bibir beliau. Apakah beliau mau menggerakkan bibirnya untuk menjawab salamku atau tidak.

Aku juga shalat dekat sekali dengan beliau. Aku mencuri pandang melihat ke arah beliau. Kalau aku bangkit hendak shalat, ia melihat kepadaku. Namun apabila aku melihat kepadanya, ia segera memalingkan wajahnya. Belum lagi sikap dingin masyarakat kepadaku terasa lama sekali.

Pada suatu hari, aku mengetuk pintu pagar rumah Abu Qatadah, saudara misanku. Ia saudara yang paling aku cintai. Aku mengucapkan salam kepadanya, tetapi demi Allah, ia tidak menjawab salamku. Aku menegurnya, “Abu Qatadah..! Aku mohon dengan nama Allah, apakah kau tahu bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya..?” Aku mengulangi permohonanku itu, namun ia tetap diam. Aku mengulanginya sekali lagi, tetapi ia hanya menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui!.”

Air mataku pun meleleh. Aku kembali dengan penuh rasa kecewa.

Pada suatu hari, aku berjalan-jalan ke pasar kota Madinah. Tiba-tiba datang orang awam dari negeri Syam. Orang itu biasanya mengantarkan dagangan pangan ke kota Madinah. Ia bertanya, “Siapakah yang mau menolongku menemui Ka’ab bin Malik..?” Orang-orang di pasar menunjuk ke arahku. Lalu orang itu menemuiku dan menyerahkan sepucuk surat dari raja Ghassan. Setelah kubuka, isinya sebagai berikut, “…Selain itu, sahabatmu telah bersikap dingin terhadapmu. Allah tidak menjadikan kau hidup terhina dan sirna. Maka, ikutlah dengan kami di Ghassan. Kami akan menghiburmu..!”

Ketika membaca surat itu hatiku berkata, ‘Ini juga salah satu ujian!’ Lantas aku memasukkan surat itu ke dalam tungku dan membakarnya.

Sampailah aku pada hari yang ke-40, di pengasingan dalam kampung halamanku sendiri. Aku terus menantikan turunnya wahyu dari Allah. Namun tiba-tiba datanglah seorang utusan Rasulullah SAW menyampaikan pesannya, “Rasulullah memerintahkan kamu untuk menjauhi istrimu..!” kata utusan tadi.

Aku semakin sedih mendengar hal ini, namun aku tetap pasrah kepada Allah. Aku tanya utusan tadi, “Apakah aku harus menceraikannya atau apa yang harus aku lakukan..?” Ia menjelaskan, “Tidak, tapi kamu harus menjauhinya dan mejauhkannya darimu..!”

Ternyata Rasulullah juga mengirimkan pesan yang sama kepada dua sahabatku yang bernasib sama denganku. Aku langsung memerintahkan istriku, “Pergilah kepada keluargamu sampai Allah memutuskan hukum-Nya kepada kita..!”

Adapun istri Hilal bin Umaiyah, ia datang menghadap Rasulullah SAW memohon keringanan, “Wahai Rasulullah, sebenarnya Hilal bin Umaiyah sudah sangat tua dan ia tidak memiliki seorang pembantu. Apakah engkau keberatan kalau aku melayaninya di rumah..?” tanyanya. “Tetapi ia tidak boleh mendekatimu..!” jawab Rasulullah. Istri Hilal menjelaskan, “Ya Rasulullah..! Ia sudah tidak bersemangat pada yang itu lagi. Demi Allah, yang dilakukannya hanya menangisi dosanya sejak saat itu hingga kini..!”

Salah seorang saudaraku juga mengusulkan kepadaku, “Cobalah minta izin kepada Rasulullah supaya istrimu melayani dirimu seperti halnya istri Hilal bin Umayah..!” Aku jawab dengan tegas, “Tidak, aku tidak akan meminta izin kepada Rasulullah. Apa yang akan beliau katakan nanti, padahal aku masih muda.”


(Yakhsyaaa/BersamaDakwah)

Dikutip dari buku: Ayat-Ayat Pedang-Kisah Kisah Pembangun Semangat Juang

Berlanjut ke: Tak Hiraukan Seruan Jihad, Ini yang Dialami Sahabat Rasulullah (4)