Beranda Suplemen Renungan 5 Pelajaran di Hari Ibu Berpulang

5 Pelajaran di Hari Ibu Berpulang

2
ilustrasi shalat jenazah (tuntunanshalat.com)

Sesungguhnya tak ada satupun kejadian di dunia yang kebetulan, semua pasti ada maknanya. Termasuk hari itu, 13 September pukul 2.30, saat ibu dinyatakan meninggal. Sungguh, saya tidak percaya ibu sudah tiada. Begitupun orang-orang yang hadir di pemakamannya. Kebanyakan tidak menyangka, ibu yang tiga hari masih terlihat berjalan-jalan di seputar rumah, minggu paginya kembali ke haribaan Allah. Tetapi begitulah laiknya jodoh dan rizki, kematian itu adalah rahasia Empunya hidup. Tak satupun manusia dapat menerka bilakah ia akan tiba.

Sedih? Tentu saja. Tetapi di balik rasa sedih itu sesungguhnya kami patut bersyukur sebab Allah yang Maha Pengasih justru mengingatkan kami pelajaran besar yaitu :

1. Setiap yang berjiwa itu pasti akan mati

Kapanpun maut datang tanpa tiada satu orang pun yang sanggup menghindar. Tidak peduli tua, muda, wanita, pria, miskin, atau kaya. Bahkan tak peduli tunai atau belum urusannya di dunia. Seperti yang disebutkan dalam QS. An Nisa’ ayat 78 :

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu dalam benteng yang tinggi dan kokoh.”

2. Yang kekal hanyalah Allah

Melihat ibu saya dimakamkan pagi itu, tak urung saya berpikir jauh kepada Dzat yang luar biasa, Allah yang Maha Segala. Hanya Dia yang kekal sementara bumi dan seisinya kelak akan binasa. Mengenai hal ini Allah berfirman dalam QS. Ar Rahman ayat 26-27 :

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”

3. Jangan terlalu larut dalam kesedihan

Layaknya orang lain yang ditinggal orang yang ia sayang, kami sekeluarga pun sedih ketika mengetahui ibu meninggal. Tetapi menangis meraung-raung takkan mengubah keadaan. Sehebat apapun kami menangisinya ibu takkan kembali.

Rasul sendiri melarang perbuatan meratap tersebut. Selain tergolong dalam dosa besar, meratap juga termasuk dalam empat perilaku jahiliyah yang harusnya ditinggalkan. Oleh sebab itulah Rasul meminta umatnya agar tak meratapi orang yang meninggal secara berlebihan.

Dalam surat Al Baqarah ayat 155 Allah berfirman , “Dan sungguh akan kami berikan kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang bersabar.”

Jika demikian janji Allah atas orang-orang yang bersabar atas ujian-Nya, maka tak selayaknya kita berlarut-larut dalam kedukaan bukan?

4. Bersegera dalam mengurusi jenazah

Di hari ibu saya meninggal, adik saya tidak bisa menghadiri pemakaman. Tinggal jauh di Kalimantan membuatnya baru bisa tiba di Jawa dua hari kemudian. Bukannya menunggunya pulang, Bapak justru melaksanakan pemakaman sesuai syariat—tidak menunda pemakaman meski salah satu anggota keluarganya belum datang. Perkara tersebut sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW. yang berbunyi :

“Segerakanlah (pengurusan) jenazah! Jikalau dia seorang yang shalih maka kepada kebajikanlah kalian membawanya, sedangkan kalau tidak seperti itu maka keburukanlah yang kalian letakkan di punggung kalian.”

5. Saat meninggal segala kebesaran di dunia tiada berguna

Di hari kita dimakamkan kelak segala kekayaan, harta benda, dan pangkat takkan lagi berguna. Kalaupun memaksa disertakan takkan menolong mengurangi dosa. Hanya dalam balutan kain kafan sederhana manusia menghadap-Nya berserta amal perbuatan yang dilakukan di dunia.

Allah Ta’ala telah berfirman :
“Demi Rabb-Mu, Kami pasti akan menanyai mereka semu, tentang apa yang mereka kerjakan dahulu.” (QS. Al Hijr ayat 92-93)

Bahkan jika amalan itu sebesar biji sawi seperti yang tersebut dalam surat Al Anbiya’ ayat 47 :
“Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Meski (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala). Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.”

Maka begitulah Allah menunjukkan rasa cintanya pada manusia. Bahkan saat manusia diuji dengan berpulangnya anggota keluarga yang disayang, disaat yang sama juga Ia juga memberi pelajaran besar sehingga kita teringat untuk bersiap sebelum ajal menjelang. [Afin Yulia/Bersamadakwah]

2 KOMENTAR

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.