Home Pemuda Agar Jadi Manusia Limited Edition

Agar Jadi Manusia Limited Edition

2516
0
unsplash (ilustrasi)

Awkarin atau Karin Novilda (18) telah menjadi fenomena satu bulan terakhir ini.  Bukan karena prestasinya yang gemilang melainkan postingan melalui vlognya mengenai curahan isi hatinya yang sarat dengan akhlak yang tak layak. Ia juga melakukan maintenance luar biasa terhadap seluruh kanal jejaring sosial yang dimilikinya, dari mulai Instagram, Youtube, Snapchat hingga Askfm, dll.

Padahal diketahui, riwayat Karin sebelumnya tergambarkan sebagai sosok yang baik-baik dan punya prestasi di sekolahnya. Tidak penting untuk dibahas mengapa dia berbeda 180 derajat dari sebelum dan sesudah. Urusan perut memang bisa membuat akhlak bertekuk lutut.

Fenomena Awkarin hanya puncak gunung es, hanya ‘sampel’. Masih banyak anak-anak remaja di luar sana yang perlu ditolong agar tidak menjadi orang gampangan.

Agar tidak menjadi orang gampangan itulah yang digarap oleh penulis muda Silmy Kaffah Rohayana melalui bukunya yang berjudul “Jangan Jadi Manusia Gampangan; Jadilah Manusia Limited Edition.”

Diakui atau tidak, kita, manusia, memang gampang sekali melakukan perbuatan yang gampangan. Satu diantaranya adalah gampang marah. Marah memang lumrah, yang tidak lumrah marah yang membuat kondisi makin parah.

Layaknya air yang mendidih, semakin besar api yang dinyalakan dalam kompor, maka sebesar gelembung air mendidih yang dibuatnya. Sebaliknya, jika api itu kita kecilkan, maka berkurang pula gelembung yang ditimbulkan sehingga air  tak keluar dari panic. Begitu pula dengan hati kita. Saat marah itu muncul, maka hati kita seakan dibakar hingga meletup-letup, terasa panas dan sesak. Ketika marah itu kita padamkan, maka perasaan hati kembali sejuk, sehingga kemarahan tak terlampiaskan. (hal. 6)

Di sisi lain, kita juga gampang sekali untuk baper (bawa perasaan).  Sedikit-sedikit baper, sedikit-sedikit baper. Merasa hidup tidak dibutuhkan orang sama sekali, lebih lagi orang terdekat.

Terkadang kita merasa tidak dibutuhkan orang lain, maka buatlah dirimu dibutuhkan orang lain. Tentu niatkan lillahi ta’ala. Menjadi orang bermanfaat untuk orang lain sangatlah mudah. Hanya saja niat kita yang selalu diperbarui. Niatkan untuk mencari rida Allah. Jangan pernah berpikir apa yang akan orang lain berikan, berpikirlah apa yang dapat kita berikan untuk orang lain. Insya Allah kebaikan selalu datang dalam setiap langkah kehidupan kita (hal.125)

Dampak dari ketidakberdayaan dengan gampangan tersebut adalah kita sering lalai, mungkin juga alay atau anak layangan. Yang gampang diombang-ambing, ditarik kesana-kemiri sesuai arah mata angin.

Pertanyaannya sekarang adalah pernahkah kita menyesali segala sesuatu yang kita perbuat terutama mengenai hubungan kita dengan Allah? Tak jarang dari kita lalai dalam mengingat rahmat dan kasih sayang Allah berikan. Tak jarang pula kita sebagai hambaNya lalai dalam mensyukuri nikmat. Merasa segala sesuatunya kurang hingga menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang kita inginkan.  (hal.73)

Buku yang ditulis mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin Al-Hikmah Jakarta ini lumayan renyah bahasanya, bisa dituntaskan membaca dengan sekali  ketika pergi pulang kerja.  Ringan tapi dengan bobot yang tidak bisa dikatakan ringan untuk remaja muslim . Mengapa? Karena disertai beberapa cerita penuh hikmah seperti ada suara orang membaca alquran disebuah kamar padahal pemilik kamar yang rajin membaca alquran itu telah meninggal.

Judul buku                  : “Jangan Jadi Manusia Gampangan; Jadilah Manusia Limited Edition.”
Penulis                        : Silmy Kaffah Rohayana
Penerbit                      : PT Elex Media Komputindo
Tahun Terbit                : 2016
Jumlah Halaman          : 137 halaman

[Paramuda/ BersamaDakwah]