Beranda Pemuda Antara Aktivis Dakwah dan Aktivis Dawah

Antara Aktivis Dakwah dan Aktivis Dawah

0
Ilustrasi: Cody Davis

Apa yang membedakan aktivis dakwah dengan aktivis dawah (Jawa: jatuh)?

Pernah dibilang “anjing” oleh seseorang? Atau minimal “Njing”? Tentu sangat menyakitkan.

Anjing kerap dianggap binatang yang najis atau kotor. Sesuka-sukanya orang sama anjing pasti enggan dibilang anjing. Atau kalau yang menganggap wajar mungkin dinilainya bukan kurang ajar karena menganggap anjing adalah sahabat.

Aktivis dakwah tentu tak akan melakukan tuturan itu. Aktivis dakwah nyali dakwahnya masih nyala. Rabb tujuannya. Tutur kerap diatur.

Sementara aktivis dawah, ia sedang jatuh. Jatuh pada kebinasaan. Jatuh pada ketidakmampuan menggembala tutur kata. Teman dihantam dan yang pernah membina pun dibinasakan.

Ia sudah lupa betapa ukhuwah itu bagaikan mata dan tangan. Jika mata menangis, tangan mengusapnya. Jika tangan sakit, mata meneteskan airmatanya.

Dulu; saat bertemu dengan yang senior, ia akan bilang. “Inilah kader yang banyak jasanya.”

Ketika yang senior bertemu yunior. Maka senior berkata, “Inilah penerusku.”

Sekarang; saat bertemu, paling tidak tersimpan di dada, “Kamu ada di pihak mana?”

Saat berjalan memperjuangkan yang patut diperjuangkan, aktivis dakwah sudah memiliki peta. Sementara aktivis dawah memiliki peta yang berbeda—atau merusak peta saudaranya sendiri.

Abdulaziz Thuraify berkata, “Jika Anda dalam perjalanan menuju Allah, jangan gunakan peta jalan selain yang bersumber dariNya…”

Aktivis dakwah pun bisa menjadi aktivis dawah. Ia benar-benar jatuh karena terkena penyakit dan menyebarkan penyakit yang diidapnya. Menyerang hati, bermula dari butiran-butiran debu “aku” kemudian membatu. Bagaimana mungkin cahaya kebenaran bisa masuk sementara ia sudah dirasuk?

Aktivis dakwah tahu apa itu adab, apa itu biadab. Tidak. Tidak boleh ada pembenaran terhadap adab tercela, sebagaimana tidak boleh ada pembenaran terhadap amanah yang cedera.

“Tidak memihak saat telah tampak kebenaran dari kebatilan, merupakan tanda-tanda nifaq.” (An-Nisa: 143)

“Njing!” duh sangat tidak menyejukkan. Kita ini manusia, bukan derajat binatang piara. Jika memang sedang dikejar anjing, cukup berjongkok saja. Niscaya dia akan pergi. Tak mengejar lagi. [@paramuda/BersamaDakwah]

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.