Home Keluarga Pernikahan Di Hari ke-50 Pernikahan, Tak Ada Lagi yang Memanggilku “Humairoh”

Di Hari ke-50 Pernikahan, Tak Ada Lagi yang Memanggilku “Humairoh”

7700
0
Dok: Rina Desiana

“Humairoh, istriku!”

Kini tidak ada lagi suara yang memanggilku seperti itu lagi. Dia, imamku, suamiku. Tidak butuh waktu yang lama untuk benar-benar mengenal dia.

Tepat 50 hari kami menikah. Di waktu yang singkat itu dia memberiku begitu banyak pelajaran, sampai dia mengembuskan nafasnya yang terakhir pun aku bisa mengerti pelajaran yang dia sampaikan, tapi sayangnya aku baru menyadarinya saat Allah memanggil dia.

Dia paham betul bahwa istrinya manja, cengeng, dan juga pecemburu seperti Aisyah.

“Jangan menjadi pencemburu seperti Aisyah, tapi jadilah wanita yang kuat pula seperti Aisyah,” Aku selalu bertanya-tanya apakah aku secengeng itukah sampai dia selalu berkata seperti itu, tapi saat ini aku sadar, bahwa maksudnya aku harus menjadi seperti Aisyah yang benar-benar kuat ketika kekasih hatinya Muhammad Saw pergi dipanggil Allah SWT.

Kodrat seorang suami dan istri sudah ditentukan sesuai porsinya masing-masing. Kodrat seorang istri yang selalu ingin didengar setiap curhatannya, keluh kesahnya. Tapi kodrat seorang suami yang selalu ingin terlihat bahwa dia tegar, kuat, seakan tak ada rasa lelah, tak ada masalah, sehingga mata seorang istri pun terkelabuhi oleh kodrat seorang suami.

Begitulah almarhum suamiku, yang selalu berusaha terlihat bahwa dia kuat, tegar, bahkan tak kenal lelah. Apapun akan dilakukan agar istri dan juga seluruh keluarganya bahagia, hingga kami pun tak sadar akan lelahnya dia. Wajahnya yang selalu tersenyum, candanya yang slalu melepas tawa dan bahkan usilnya yang membuat orang sampai kesal dengannya. Tapi ya itu yang membuat setiap orang tak akan bisa melupakannya.

Dia sosok yang betul-betul tak akan terlupakan. Itu lah suamiku. Saat ini dia sudah di tempat istirahatnya hingga dia tak akan lagi merasa lelah dan harus menutupi rasa lelahnya itu.

Tak tahu harus berkata apalagi. Begitu banyak orang, dari teman dan kerabat bahkan orang yang tidak saya kenali ataupun tidak mengenali saya. Semuanya ikut mendoakan almarhum suami saya dan slalu memberi semangat kepada saya.

Jujur, saya terharu. Saya tidak pernah membayangkan jalan hidup saya yang seperti ini, dan saya juga tidak tahu apa rencana Allah untuk saya setelah ini, saat ini saya hanya menjalaninya saja sesuai yang ada di hati nurani saya. Sedih yang tak tertahankan, tapi saya selalu berpegang teguh pada prinsip saya “لايكلف الله نفسا إلا وسعها ”

Yakin bahwa saya kuat menjalani sisa hidup saya walaupun tidak bersama kekasih hati saya lagi, bahkan saya berfikir bahwa Allah masih memberikan saya kesempatan untuk terus beramal di dunia ini, mungkin agar kelak Allah bisa menyatukan lagi saya dengan kekasih hati saya di surga-Nya.

Sadar bahwa masih bnyk lagi yang diuji, dengan ujian yang lebih dari yang saya alami, Allah sudah mengatur semuanya sesuai denga porsinya masing-masing, Allah lebih tahu batas kemampuan hambaNya.

Saya berpikir dan bertanya-tanya, kenapa harus saya yang Allah pilih untuk dia, menemani sisa hidup dia, bahkan saya sendiri yang menyaksikan secara langsung bagaimana malaikat mencabut nyawanya dari dunia ini. Tapi saya sadar bahwa Allah memilih saya karena saya kuat dan mungkin Allah ingin saya memperjuangkan amal jariyah almarhum suami saya d dunia ini. Harapan utama saya adalah semoga saya kuat dan benar-benar mampu menjalani amal jariyah untuk almarhum suami saya.

Teruntuk seluruh saudara, teman yang saya kenal ataupun tidak, di mana pun kalian berada, saya ucapkan beribu terima kasih karena telah mendoakan almarhum suami saya serta menguatkan saya agar saya mampu menghadapi apa yang telah menjadi takdir saya. Maafkan suami sy jika slama ini dia pernah berbuat kesalahan disengaja ataupun tidak.

“Saya ingin smua orang tahu bahwa tidak semua polisi itu jahat, saya ingin mengubah pemikiran yang negatif itu menjadi positif. Saya seorang polisi ingin menunjukkan pada semua orang bahwa tidak semua polisi itu jahat.”

Kalimat di atas adalah kalimat yang saya dengar langsung dari almarhum ketika pertama kali saya mengenalnya sampai saya menikah dengannya. Kalimat itu bukanlah hanya suatu kalimat, tapi almarhum menyampaikan suatu keinginannya, suatu cita-citanya. Sebenarnya sudah cukup almarhum buktikan ke saya, ketika almarhum memberikan mahar hafalan surat Ar-Rahman dengan suaranya yang begitu merdu.

Masya Allah. Tapi saya merasa kalimat tersebut tidak cukup hanya saya yang tahu, maka dari sini saya ingin menggambarkan kepada seluruh masyarakat bagaimana sosok seorang Furkan terhadap saya istrinya, seluruh keluarganya, teman-temannya, bahkan orang yang baru saja dia kenal.

Dari hari pertama suami saya meninggal, saya langsung menanamkan pada hati saya “ikhlas” karena pada sesungguhnya dia adalah milik Allah, dan saya hanya dititipkan untuk sementara waktu, jadi ketika Allah mengambil kembali saya harus ikhlas dan tetap terus berdoa agar kelak saya bisa disatukan kembali dengan suami. [@paramuda/BersamaDakwah]


Catatan itu ditulis oleh Rina Desiana melalui jejaring sosial secara berseri. Untuk suaminya Brigadir Polisi Furkan mengembuskan napas terakhirnya usai melaksanakan sholat Subuh, Rabu (24/1/2018).

SHARE

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here