Home Tazkiyah Tazkiyatun Nafs Dicari: Generasi Mukmin Haqqa!

Dicari: Generasi Mukmin Haqqa!

1306
0
grindtv

Keimanan bisa diwujudkan antara lain dalam bentuk harokah (penuh aktivitas) disertai kesiapan bertadhiyyah (berkorban) dengan segala sesuatu yang kita miliki. Hal ini bisa dilihat dari taujih di ayat 2 surat al-Anfal.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”

Inilah yang disebut dengan at-tashdiq bil-amal yang menjadi syarat mutlaq kesempurnaan iman kepada Allah dan yaumil akhir. Rasulullah Saw. menggambarkan bahwa keimanan selain harus dilisankan dan diyakini, juga harus direalisasikan dalam bentuk amaliyah.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hormatilah tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik atau diam”. (HR.Ahmad, Muslim dan Bukhari).

Demikianlah keimanan yang ajeg, lurus dan shahih akan selalu hasilkan aktivitas yang greget, positif dan punya manfaat buat ummat.

Masih ingatkah kau perkataan Imam Hasan al-Bashri tentang ini?

“Bukanlah keimanan itu hanyalah sebuah hiasan dan bukan pula sebuah angan-angan, namun iman adalah sesuatu yang menghujam dalam hati dan direalisasikan dalam bentuk aktivitas.”

Penjelasan tersebut adalah sikap. Ya, sikap yang telah dilaksanakan oleh generasi terdahulu. Ini merupakan koreksi total dan hujjah atas apa yang dikatakan oleh Jahm bin Shofwan: “Sesungguhnya syurga dan neraka itu tak kekal, dan sesungguhnya keimanan itu hanyalah ma’rifah (sekadar pengetahuan) tanpa perlu melakukan berbagai macam ketaatan. Karena tak seorang pun dapat berbuat sesuatu kecuali dengan izin Allah. Semua perbuatan manusia itu terpaksa.” Sebuah ide yang berkembang menjadi sebuah aliran yang bernama Jahmiyah.

Adalah sebuah riwayat yang cukup menarik dalam menggambarkan pribadi yang telah sampai pada keimanan yang haqqa.

Seorang shohabi, al-Harits bin Malik al-Anshari bertemu Rasulullah Saw, kemudian beliau menyapanya:

“Kaifa ashbahta, ya Harits?”

Al-Harits menjawab: “Pagi ini aku dalam keadaan beriman sungguh-sungguh”.

Rasulullah berkata lagi: “Perhatikanlah apa yang engkau katakan, karena sesungguhnya segala sesuatu itu punya hakikat, apa hakikat keimananmu?”, “Jiwaku telah menjauhi dunia, sehingga aku memanfaatkan waktu malamku untuk qiyamullail, memanfaatkan waktu siangku untuk berpuasa dan seakan-akan aku melihat ‘arsy Rabbku di depan mataku, seakan aku melihat ahli surga saling berziarah di dalamnya dan ahil neraka menjerit-jerit kesakitan”, sahut Harits.

Kemudian Rasulullah Saw bersabda: “Ya Harits, engkau telah ma’rifah, maka teguhlah”. (HR at-Thabrani)

Hadits di atas memberi gambaran kepada kita tentang sebuah pribadi yang telah sampai pada keimanan haqqo sehingga mampu menjadikan seseorang sangat dekat dengan Allah, surga dan neraka. Semuanya seakan-akan ada di depan mata.  [Paramuda/ BersamaDakwah]

SHARE

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here