Home Suplemen Renungan 8 Wasiat Imam Ghazali tentang Lisan yang Banyak Dilanggar kaum Muslimin

8 Wasiat Imam Ghazali tentang Lisan yang Banyak Dilanggar kaum Muslimin

1343
0
Samir Nasri selebrasi jaga lisan © Rediff.com

Dosa-dosa kita tidak akan diampuni jika diri senantiasa sibuk dalam perbuatan sia-sia, maksiat dan keburukan. Maka kita harus mengetahui berbagai jenis perbuatan yang dilarang oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam agar bisa maksimal dalam melakukan ketaatan. Sebab jika tidak mengetahui, bisa saja seorang Muslim melakukan suatu perbuatan tanpa merasa bersalah, padahal hal itu termasuk larangan-larangan Allah Ta’ala.

Secara ringkas, larangan-larangan Allah Ta’ala terdiri dari semua jenis perbuatan merugikan yang dikerjakan oleh tujuh indra dan anggota badan. Mata, telinga, lisan, perut, perut, kemaluan, tangan dan kaki. Tujuh anggota badan ini pula yang dijadikan tafsir oleh para ulama’ sebagai pintu yang mengantarkan seseorang menuju surga atau menjebloskan mereka ke daam neraka.

Imam al-Ghazali Rahimahullahu Ta’ala menerangkan dalam buku Bidayatul Hidayah, ada tujuh dosa yang secara khusus dilakukan oleh masing-masing anggota tubuh tersebut. Lebih spesifik lagi, sang Hujjatul Islam mendefinisikan delapan dosa yang kerap dikerjakan oleh lisan.

Sedihnya, delapan wasiat beliau terkait dosa lisan ini banyak dilanggar oleh sebagian kaum Muslimin. Ada yang melanggar karena tidak tahu, sengaja, bahkan menjadi kebiasaan di dalam hidupnya. Na’udzubillahi min dzalik.

Dusta

Jangan berdusta, baik secara serius atau sekadar bercanda. Meski dengan bercanda, dusta akan membuat lisan terbiasa hingga benar-benar berdusta. Dusta merupakan satu di antara sebab seorang hamba melakukan dosa besar. Apalagi jika seorang hamba telah berani berlaku dusta terhadap ayat-ayat Allah Ta’ala dan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.

Agar kita mengetahui dampak dusta yang paling nyata, bayangkanlah saat ada orang berdusta kepada kita. Ia mengatakan yang tidak benar seraya berpura-pura, kita mempercayai, ternyata ia berdusta.

Pasti, diri kita akan merasa kecewa. Kita akan marah dan hati kita membencinya. Begitu pula perasaan orang saat kita mendustai mereka. Perih. Pedih. Menyayat hati.

Apalagi jika Allah Ta’ala yang engkau dustai. Apalagi jika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam yang engkau dustakan!

Bersambung ke 8  Wasiat Imam Ghazali tentang Lisan yang Banyak Dilanggar kaum Muslimin (2)