Home Suplemen Resensi Dua Jiwa Satu Surga

Dua Jiwa Satu Surga

0

Di antara fitrah yang menyertai penciptaan manusia adalah perasaan cinta kepada lawan jenis. Laki-laki mencintai perempuan, perempuan menyukai laki-laki. Perasaan cinta ini ada pada setiap orang dan mustahil untuk dinafikan.

Karena perasaan suka terhadap lawan jenis berasal dari Tuhan, maka Dia pun telah menentukan bagaimana cara menyalurkannya; ada bingkai yang tidak bisa diterobos, ada aturan yang tidak bisa dilanggar. Pun, tidak mungkin dimatikan. Untuk itulah, Dia mensyariatkan pernikahan. Itulah satu-satunya saluran resmi bagi dua insan yang dimabuk cinta.

Sayangnya, meski kebutuhan untuk saling mencintai tak bisa dipungkiri, meski kebutuhan biologis dalam diri seseorang mustahil untuk dihilangkan atau diwakilkan, nyatanya syariat pernikahan sering dipandang sebelah mata, bahkan mulai diremehkan dan digeser perannya; dari pelaksanaan sunnah Nabi menjadi tradisi belaka.

Alhasil, mereka yang hendak menikah dipersulit sedemikian rupa, baik dengan alasan yang logis atau mengada-mengada; baik oleh pihak keluarga maupun pihak luar, disadari ataupun tidak. Akibatnya, zina semakin merebak sebab penundaan pernikahan oleh pemuda-pemudi yang sudah saatnya menyempurnakan separuh agamanya.

Untuk itulah, buku Dua Jiwa Satu Surga ini ditulis. Penulis kelahiran Serambi Mekah dan ketua umum Forum Lingkar Pena Aceh ini menuturkan secara runut bagaimana tabiat alami cinta, prosesnya dalam menghampiri manusia, hingga merawatnnya menuju jenjang pernikahan.

Syahwat sebagai salah satu manifestasi cinta, tutur penulis, tak ubahnya air. Jika ia mengalir secara sporadis, tidak melalui sungai atau bendungan, maka arusnya bisa merusak kehidupan sekitar. Namun, saat air tersebut dialirkan dan diatur dalam sebuah sungai atau bendungan, maka ia bisa sangat bermanfaat. Baik untuk pengairan sawah, minuman ternak, bahkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari umat manusia.

Bendungan ataupun sungai itulah, lanjut penulis, tak ubahnya pernikahan. Ketika syahwat disalurkan dengan cara yang tepat sebagaimana tabiatnya (pernikahan), maka ia menyehatkan, berpahala, dan dijamin terhindar dari berbagai penyakit fisik maupun mental, serta memicu keharmonisan dalam rumah tangga yang merupakan lingkup terkecil kehidupan masyarakat dan Negara.

Namun, ketika cinta ditahan, dengan alasan adat, kemampuan ekonomi, dan seabrek kriteria tak berdasar lainnya, ataupun dilampiaskan dengan cara yang salah, maka akibat buruk yang diterima amatlah dahsyat; baik di dunia maupun kehidupan yang akan datang.

Karenanya, penulis dalam buku ini, berupaya dan berhasil mematahkan hampir semua anggapan yang berupaya untuk menunda pernikahan dengan alasan yang tak bisa dibenarkan. Melalui kekhasan bertutur dan logika kritisnya pula, dibeberkan tentang mitos-mitos cinta dan pernikahan yang umum beredar dalam masyarakat.

Misalnya, ada yang beranggapan bahwa cinta amat berkesan pada pandangan pertama. Mitos ini erat kaitannya dengan tontonan yang menjamur di televisi-televisi kita saat ini. Guna membantah mitos cinta pada pandangan pertama ini, penulis mengatakan, “Pertanyakan kembali hatimu bila engkau telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Sebab, pandangan sering kali menipu. Sebab, kecantikan dan ketampanan seringkali menggoda. Jawablah dengan jujur, atas dasar apa cinta pada pandangan pertama bila bukan karena elok wajah dan rupa saja?” (h. 100)

Bukankah pernikahan sebagai perwujudan cinta terhadap lawan jenis memang amat mustahil bertahan lama jika dasarnya adalah rupa? Apalagi wajah dan fisik, secantik dan setampan apa pun, seiring berjalannya waktu pastilah pudar pesonanya.

Karenanya, cinta dalam pernikahan sudah selayaknya untuk diluruskan dalam bab ibadah kepada Allah dan menjalankan sunnah Nabi-Nya. Ia harus dimaknai secara sakral agar suami-istri bisa semakin mendekatkan diri kepada Tuhannya. Cinta dalam pernikahan harus mengabadi karena ikatan kepercayaan, yang wujudnya adalah kontribusi dari pasangan suami-istri dan keluarganya dalam proyek amal kebaikan.

Terakhir, penulis juga mengingatkan; bahwa ujung tujuan dari pernikahan bukan soal harta. Lebih dari itu, nilai-nilai spiritual dan sosial yang semakin dijiwai oleh suami-istri adalah lebih baik dan lebih utama untuk diupayakan demi ketahanan rumah tangga.

Apalagi, menikah merupakan salah satu sunnah yang paling dibenci setan, dan mereka berupaya sekuat tenaga untuk menceraikan pasangan yang sudah menikah secara sah.

Terakhir, yang menjadi daya pikat buku ini, selain dalil dari al-Qur’an dan sunnah Nabi yang mustahil salah, adalah pengalaman penulis dalam memberikan beragam solusi seputar cinta dan pernikahan. Meski bukan seorang konsultan pernikahan, Rahmat Idris-Penulis buku ini-, adalah sosok bijak yang sering menjadi sasaran curhat mereka yang hendak menikah atau ‘bermasalah’ pernikahannya. Sehingga, yang disajikan bisa jadi merepresentasikan keadaan yang sedang dialami oleh pembaca.

Namun, sebagaimana gading yang pasti ada retaknya, satu catatan kami untuk buku ini adalah keberanian penulis untuk melompat ke dalam tema yang tak biasanya ia tuturkan. Sebab, sebelum ini, penulis sudah melahirkan lebih dari satu buku bertema konspirasi, perang suci dan juga pergerakan kampus.

Apakah beliau berhasil memikat minat pembaca dengan jenis tema yang jauh berbeda sebagaimana keberhasilan beliau memikat pembaca dengan tema sebelumnya? Temukan jawabannya dalam buku setebal 308 halaman ini. [Pirman]

Detail Buku
Judul : Dua Jiwa Satu Surga
Penulis : Rahmat Idris
Penerbit : Pro U Media –Yogyakarta
Cetakan : 2014
Tebal : 308 hlm
ISBN : 978-602-7820-17-3
Harga : Rp 50.000,-

Minat dengan buku ini? Pesan ke 085773291640 (SMS/WA)

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.