Home Kisah-Sejarah Sirah Nabawiyah Ibrahim, Kepergiannya Ditangisi Nabi

Ibrahim, Kepergiannya Ditangisi Nabi

2645
0
Ilustrasi (hdw)

Ibrahim adalah salah seorang putra Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Nama lengkapnya adalah Ibrahim bin Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim. Ia merupakan putra terakhir Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Ibrahim dilahirkan oleh Mariyah Al-Qibthiyah, yang dihadiahkan oleh Al-Muqauqis –penguasa Mesir- kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada tahun keenam hijrah, dan Mariyah pun masuk islam.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam merasakan kegembiraan yang luar biasa dengan kehadiran putranya Ibrahim, dan beliau sering menciuminya.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Tadi malam aku dianugerahi seorang putra, aku namakan dia Ibrahim, dengan mengambil nama bapakku Ibrahim.” (HR. Muslim)

Pada hari ketujuh setelah kelahiran Ibrahim, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mencukur rambutnya dan kemudian bersedekah dengan perak seberat rambutnya itu kepada kaum miskin.

Wanita-wanita Anshar berlomba-lomba untuk menyusui Ibrahim, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian menyerahkannya kepada Ummu Bardah binti Al-Mundzir dari Bani Adi bin An-Najjar, dan dialah yang menyusuinya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sering datang menjenguknya di perkampungan Bani Najjar.

Sedangkan suami dari ibu susu Ibrahim adalah Abu Saif Al-Bara` bin Aus, dan ia adalah seorang pandai besi.

Namun Ibrahim tidak hidup lama, karena ia meninggal dunia saat berusia delapan belas bulan.

Ruhnya meninggalkan jasadnya saat berada di pangkuan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan beliau sangat sedih atas kepergiannya.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, ia berkata,

“Kami masuk bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ke rumah Abu Saif pandai besi, dan ia adalah bapak susuan dari Ibrahim, yakni Abu Saif adalah suami dari ibu susuannya.

Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengambil Ibrahim dan menciuminya.”

Ini saat Ibrahim masih hidup, di mana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sering menciuminya, dan itu adalah bentuk kasih sayangnya kepada anak-anaknya.

Di manakah ayah-ayah saat ini dari makna-makna kasih sayang ini? Ciuman memiliki peran yang sangat kuat dalam menggerakkan perasaan seorang anak, bahkan ciuman dapat meredakan emosi dan amarah anak.

Ditambah lagi, dengan adanya perasaan tentang keterikatan yang kuat dalam menumbuhkan hubungan cinta antara seorang ayah dengan anaknya.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Berlanjut ke Ibrahim, Kepergiannya Ditangisi Nabi (Bagian 2)