Beranda Kisah-Sejarah Kisah Nyata Ingin Bermalam di Masjid Malah Diusir, Ternyata Ini Hikmahnya (Bagian 2)

Ingin Bermalam di Masjid Malah Diusir, Ternyata Ini Hikmahnya (Bagian 2)

0
Shalat di masjid (huffpost)

Lanjutan dari Ingin Bermalam di Masjid Malah Diusir, Ternyata Ini Hikmahnya

Sehabis shalat Maghrib, orang-orang keluar semua. Tidak ada seorang pun yang mengajak kami bertamu, maka anakku pun menangis memilukan. Ia berkata,

“Kata Ayah akan begini-begini. Ayah bohong!”

“Orang-orang yang akan menjamu kita belum datang,” kataku menghibur.

“Sabarlah, anakku. Mereka akan datang lagi untuk melakukan shalat Isya, lalu mengajak kita. Pergilah kamu ke sumur dan minumlah.”

Anakku menjawab,

“Aku akan mati kebanyakan air. Perutku keroncongan dan aku tersiksa oleh ikat pinggang yang ayah ikatkan padaku.”

Aku memang telah mengikat perut anakku ketat-ketat untuk menekan ususnya.

Aku terus menghibur dan menenangkan anakku hingga terdengarlah adzan untuk shalat Isya dan orang-orang pun berdatangan. Aku mengucapkan salam kepada setiap orang dan menyatakan bahwa aku adalah orang terlantar yang kelaparan.

Akan tetapi, nampaknya mereka sibuk dengan dirinya dan anak-anaknya masing-masing. Oleh karena itu, sesudah shalat, mereka keluar semua begitu saja, selain muadzin.

Sementara itu, anakku mulai menangis dan merintih. Dia berteriak keras-keras seraya mengatakan,

“Ayah bohong, Ayah bohong! Ayah bilang mereka akan mengajak kita, tetapi mereka semua keluar.” Ini semua terjadi di depan muadzin yang saya kira dia akan tidak tega melihat keadaan kami lalu mengajak kami bertamu. Akan tetapi, ternyata dia malah mengatakan,

“Keluarlah, masjid akan ditutup, supaya jangan dimasuki anjing.”

Aku bertanya, “Bolehkah kami pergi bersamamu ke rumahmu?”

“Tidak,” jawabnya singkat.

Aku protes, “Seperti Anda lihat, kami sangat kedinginan. Tutuplah masjid dan kami tetap di dalamnya.”

“Tidak,” katanya ketus, “Keluarlah!”

Aku mendesaknya agar boleh tetap tinggal di masjid, sementara anakku bergelayutan pada bajuku, dia menangis dengan suara keras. Kemudian, berkatalah muadzin itu,

“Sesungguhnya orang yang membangun masjid ini memberiku beberapa sha’ gandum tiap tahun, dengan tugas adzan dan menutup masjid. Keluarlah Bapak.”

Lalu, dia mendorongku dengan kuat keluar masjid sambil berkata,

“Di perkampungan yang terletak di sebelah selatan ada sebuah masjid yang tak pernah ditutup. Pergilah Bapak ke sana.”

Meskipun berat, aku pun keluar. Muadzin itu aku sumpahi. Aku sedih sekali, lapar, dan kalut memikirkan anakku.

Kami langsung menuju ke perkampungan yang disebutkan oleh muadzin itu. Kami berjalan dalam gelap sambil berkali-kali menyumpahi muadzin itu, yang telah mengusir kami dengan paksa dari rumah Allah dalam cuaca yang sangat dingin.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Berlanjut ke Ingin Bermalam di Masjid Malah Diusir, Ternyata Ini Hikmahnya (Bagian 3)

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.