Home Tazkiyah Fadhilah Inilah 3 Cara Jitu Dalam Berdakwah

Inilah 3 Cara Jitu Dalam Berdakwah

227
0
Abdullah Gymnastiar (daaruttauhiid)

Berdakwah untuk menyeru manusia ke jalan yang benar adalah jalan para nabi dan pengikutnya. Dalam berdakwah ada cara tersendiri yang disesuaikan dengan audiens agar dakwah itu mengena.

Dalam hal ini, rujukannya adalah firman Allah Ta’ala,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. (QS. An-Nahl: 125).

Ibnul Qayim memberi penjabaran mengenai ayat tersebut dengan mengatakan, “Dalam ayat ini Allah Ta’ala menyebutkan tiga urutan dalam menyampaikan dakwah yang disesuaikan dengan kondisi obyek dakwah (audiens).

Pertama, obyek dakwah yang ingin berada di jalur kebenaran, mencintai kebaikan, dan menjalankannya, setelah dia mengerti dan mengetahuinya.

Cara pendekatan obyek dakwah dengan kualifikasi seperti ini adalah dengan hikmah (teladan yang baik dan kelembutan), tidak dengan mau’izhah (nasihat) atau jidal (adu argumentasi).

Kedua, obyek dakwah yang telah berada di jalur yang salah, tetapi jika dia mengetahui kebenaran, pasti dia mengikutinya dan meninggalkan kesalahannya.

Cara mendekati obyek dakwah dengan kualifikasi ini adalah dengan mau’izhah, berupa dorongan untuk berbuat baik dan mencegahnya dari berbuat dosa.

Ketiga, obyek dakwah yang ingkar dan cenderung menyangkal kebenaran.

Berdakwah kepadanya harus menggunakan cara ketiga, yaitu adu argumentasi. Tetapi tetap harus mengedepankan kesopanan, bukan berbantahan yang lepas kontrol dan berdasarkan hawa nafsu.”

Wahai saudaraku!

Variasi metode dakwah dan ragam pendekatan dalam implementasinya merupakan tuntutan dan keharusan. Nabi Nuh Alaihissalam adalah sosok dai yang memanfaatkan segala cara untuk kesuksesan dakwahnya, sebagaimana tergambar dalam firman Allah Ta’ala,

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا – فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا – وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا – ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا – ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا

“Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam, tetapi seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, justru mereka lari (dari kebenaran).

Dan sesungguhnya aku setiap kali menyeru mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jarinya ke telinganya dan menutupkan bajunya (ke wajahnya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri.

Lalu sesungguhnya aku menyeru mereka dengan cara terang-terangan. Kemudian aku menyeru mereka secara terbuka dan dengan diam-diam,” (QS. Nuh: 5-9).

Semoga kita termasuk para dai yang sabar dalam berdakwah. Aamiin.

Sebagian tulisan ini dikutip dari kitab Arba’una Darsan Liman Adraka Ramadhan karya Dr. Abdul Malik Al-Qasim

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Komentar