Home Berita Jadi Tersangka, Elektabilitas Ahok jeblok Jadi 10,6 Persen

Jadi Tersangka, Elektabilitas Ahok jeblok Jadi 10,6 Persen

1043
0

Lingkaran Survei Indonesia pimpinan Denny Januar Ali (LSI Denny JA) merilis hasil sigi tentang elektabilitas pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Survei dilakukan terkait penetapan tersangka kepada Cagub nomor 2 Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) oleh Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI.


LSI Denny JA melakukan survei pada periode 31 Oktober-5 November 2016 dengan metode multistage random sampling. Jumlah responden sebanyak 440 orang, dengan wawancara tatap muka secara langsung menggunakan kuisioner. Margin of error kurang lebih 4,8 persen.


Memang Ahok baru ditetapkan sebagai tersangka pada Rabu (16/11/2016) kemarin. Namun peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa mengatakan dalam survei tersebut sudah diselipkan pertanyaan soal status tersangka Ahok.


“Walaupun Ahok ditetapkan sebagai tersangka baru tanggal 15 November, kita menyelipkan poin pertanyaan, jika Ahok menjadi tersangka, mana pasangan yang akan anda pilih?,” kata Ardian saat konferensi pers di kantor LSI Denny JA, Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat (18/11/2016).


Hasil survei LSI Denny JA menunjukkan pasca ditetapkan sebagai tersangka elektabilitas Ahok menurun tajam, yakni tinggal 10,6 persen. Angka itu menurun tajam dibanding survei LSI, pada bulan November 2016 sebelum ada penetapan tersangka, elektabilitas Ahok berada di angka 24,6 persen.


Di bulan yang sama, setelah Polri menetapkan Ahok sebagai tersangka, elektabilitas Ahok terjun bebas ke angka 10,6 persen. Hasil ini menjadikan Ahok berada di posisi paling buncit pada survei LSI Denny JA.


“Pasca penetapan tersangka, dukungan kepada Ahok hanya tinggal 10,6 persen. Ahok ditinggalkan oleh kelompok yang selama ini menjadi basis pendukungnya, seperti kelompok pendidikan tinggi, pendapatan tinggi hingga pemilih PDIP,” kata Ardian.


Elektabilitas Ahok sendiri, sebelum adanya penetapan tersangka memang terus menurun. Dari survei LSI, pada Maret 2016, Ahok-Djarot elektabilitasnya masih 59,3 persen. Di bulan Juli 2016 menurun ke angka 49,1 persen. Penurunan terus terjadi di bulan Oktober 2016 yang ada di angka 31,4 persen. Dan terakhir di bulan November 2016 sebelum ada penetapan tersangka, di angka 24,6 persen.


“Kasus dugaan penistaan agama menjadi salah satu faktor yang membuat suara Ahok-Djarot makin menurun di bulan November,” ujar Ardian.

(Sumber:Detik.com)

SHARE