Beranda Tazkiyah Hikmah Kematian Kita dan Kemenangan Dakwah Ustaz Asfuri

Kematian Kita dan Kemenangan Dakwah Ustaz Asfuri

0

Siang yang terik di Ahad ini (1/7/2018) mendapat kabar duka melalui grup WA. Seorang ustaz yang kiprah dakwahnya sudah tidak diragukan lagi.

“Innalillahi wainna ilaihi rajiun telah meninggal dunia di RSCM hari ini, Ahad, 1 Juli 2018 pukul 12.15 WIB, Ustd. Asfuri Bahri, Lc,” demikian bunyi pesan tersebut.

Ia adalah salah satu dosen di kampus STIU Alhikmah Jakarta. Selain itu ia juga Ketua Departemen Al Quran dan Kurikulum Bidang Kaderisasi DPP Partai Keadilan Sejahtera.

“Almarhum pernah menjadi murid khot Uwak saya, KH Faiz. Satu per satu orang baik pergi,” kata bakal calon anggota legislatif Mas Farlina Limar Wangi.

Kalimat ucapan yang lain berdatangan. Tak terbendung. Serupa. Bentuk kesaksian akan kesholehan sang murabbi.

“Ya Rabbi, kaget banget dapat kabar Ust. Asfuri Bahri meninggal, salah satu dosen favorit ana sewaktu di STIU Alhikmah dulu. Ya Rabbi, nyesek banget, ustaz yang ramah, selalu nyapa kalau ketemu ana, padahal ana udah pindah ke LIPIA, salah satu ustaz terbaik dalam hal nerjemahin teks-teks Arabic,” kata Ustaz Muhammad Al-Ghozali.

Kematian dan Dakwah Kita Hingga Akhir Hayat

Sungguh, kematian tak hanya dialami oleh Ustaz Asfuri. Kita adalah bagian dari antrean yang menunggu pencabutan. Tapi kematian macam apa?

Seorang pria bernama Abu Ishak menuturkan pengalamannya yang menyimpan hikmah tentang akhir hidup seseorang. ”Suatu ketika, aku didatangi dua orang pemuda yang taat beragama. Keduanya menuturkan kisah yang membuatku tercenung. Mereka mengatakan, ‘Ketika kami lewat di hadapan sebuah rumah sakit di Mesir, tiba-tiba sebuah mobil datang dan berhenti di depan rumah sakit. Dari dalam mobil itu, dikeluarkanlah seorang perempuan tua yang dalam kondisi sakaratul maut. Kami segera mendatangi perempuan itu dan mengatakan, ‘lbu… katakanlah ‘Laa ilaaha illaLlaah .. Muhammadur Rasuulullaah…‘Perempuan itu segera mengangkat telunjuknya sambil mengatakan, ‘Laa ilaaha illaLlaah .. Muhammadur Rasuulullaah…” Lalu, hanya selang beberapa menit kemudian, perempuan tua itu mengembuskan napasnya yang terakhir.

Tidak lama, datanglah anakIaki-lakinya yang begitu terpukul dengan wafatnya sang ibu. Ia pun menangis karena harus kehilangan ibu yang pasti ia cintai. Kami lalu mendekati laki-laki itu dengan mengatakan, ‘Saya punya berita yang menggembirakan.’Laki-laki itu bertanya, ‘Berita apa?’ Kami lalu menceritakan apa yang terjadi, dan bagaimana sebelum akhir hayatnya, sang ibu sempat mengucapkan kalimat syahadat, sebagai tanda bahwa ia akan menjadi penghuni surga. Tapi anak laki-laki itu justru terkejut dan marah.

“Celaka kalian, kalian telah menjadikan ibuku kafir. Ibuku adalah seorang Qibti yang beragama Nasrani. Kenapa dia meninggal dengan Islam?”

Lihatlah, perjalanan hidup bisa berubah begitu drastis di akhir-akhir hidup. Hanya bilangan menit, kehidupan seseorang berbilang tahun, bisa mengalami perbedaan yang bertolak belakang di akhir-akhir hayatnya.

Lagi, ada seorang laki-laki yang dikenal banyak beribadah. Saat mengalami sakaratul maut, keluarganya menangis mengelilinginya. Laki-laki itu mengatakan, “Tolong, aku ingin duduk.. ” Setelah duduk, ia pun berkata pada ayahnya, ”Pak, mengapa engkau menangis?”

Orang tuanya menjawab, ”Anakku, aku membayangkan bila harus kehilanganmu. Membayangkan bagaimana aku akan kesepian setelah engkau pergi.” Laki-laki itu lalu menoleh ke ibunya, “Bu, apa yang membuat ibu menangis?” Sang ibu menjawab, “Merasakan pedihnya harus berpisah denganmu.. ” Laki-laki itu lalu beralih ke istrinya dan bertanya hal yang sama, “lstriku, apa yang membuatmu menangis?” istrinya menjawab, ”Karena aku harus kehilangan kebaikanmu selama ini, dan bagaimana aku bisa memenuhi kebutuhan kebaikan itu pada selain dirimu.”

la lalu menoleh kepada anak-anaknya dan bertanya, ”Anak-anakku apa yang membuat kalian menangis?” Anak-anaknya menjawab, “Karena kedukaan dan kehinaan anak yatim bila ayah meninggal.”

Setelah mendengar semua jawaban pertanyaannya, laki-laki itu pun menangis. Keluarga yang mengelilinginya heran dan bertanya, ”Mengapa engkau kini menangis?’ la menjawab, ”Aku menangis karena aku menyaksikan masing-masing kalian menangisi dirinya sendiri dan bukan menangisi aku. Tidak ada di antara kalian yang menangisi bagaimana aku harus melewati perjalanan panjang setelah wafat. Tidak ada di antara kalian yang menangisi aku karena bekal yang aku persiapkan sangat sedikit.

Tidak ada di antara kalian yang menangisiku karena aku harus ditimbun oleh tanah. Tidak ada di antara kalian yang menangis terhadap balasan keburukan yang akan aku terima. Tidak ada di antara kalian yang menangisi aku karena aku harus berdiri di hadapan Rabbku?” Setelah mengatakan itu semua, ia lemas dan terjatuh. Keluarga yang mengelilinginya berusaha membangunkannya. Takdir berkata lain, Allah swt telah memanggilnya.

Kemenangan dan Pesan Terakhir Sang Ustaz

Harapan kita saat mati berujung indah seperti ibu tua eks Nasrani tadi yang mengucapkan kalimat syahadat. Atau seorang laki-laki yang memikirkan nasib akhiratnya.

“Saya merasa belum berjuang penuh dan ingin menikmati kemenangan dakwah nanti,” kata seorang pegiat dakwah.

Sayangnya kematian tak menanti apakah kita menikmati kemenangan dakwah, berjuang dakwah atau menjadi begundal dalam dakwah.

“Jangan bertanya tentang ujung perjalanan ini,” penggalan kalimat Ustaz Asfuri di catatan terakhirnya.

Yang penting, kata dia, menjadi hamba sejati untuk Rabb Subhanahu wa Ta’ala, benar dan jujur. Komitmen manjalani perintah-Nya dan Mujahid di jalan-Nya. Mengerahkan segenap waktu, upaya, potensi, harta, dan pikiran demi memenangkan Islam dan kaum Muslimin.

Masih dengan penuturan sama, ia mengatakan tidak masalah setelah itu, apakah Anda mati di permulaan atau di pertengahannya.

Ustaz Asfuri menyertakan firman-Nya.

“Diantara orang-orang beriman ada para ‘lelaki’ yang membenarkan apa yang mereka janjikan kepada-Nya. Diantara mereka ada yang telah menemui ajalnya dan diantara mereka ada yang masih menunggu. Dan mereka tidak mengubah janji mereka sama sekali.”

Yang penting, tulisnya, berjalan di jalan yang diridhai Allah dan selalu memohon kiranya Allah menerima amal Anda. Tujuannya adalah meninggal dalam keadaan iman, takwa, jihad, dan dakwah. Bukan untuk memetik hasil dan buahnya. Allah pasti menjaga agama-Nya dan memenangkan para wali-Nya pada setiap zaman dan tempat dengan cara yang ditentukan-Nya.

Ia meminta untuk memperbaiki dan memperbarui niat pada setiap perbuatan, setiap saat, bahkan setiap detik.

Ustaz Asfuri menutup kalimatnya, “Kita tidak tahu kapan akan berlalu tinggalkan dunia fana ini…” 

Dari Ustaz Asfuri kita mengerti tentang makna kemenangan dakwah. Semoga kita tetap berjuang dalam barisan dakwah hingga maut memisah. Mati yang sesungguhnya berhenti berjuang dan mematikan gerakan dakwah.

[@paramuda/BersamaDakwah]

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.