Beranda Kisah-Sejarah Kisah Nyata Kematian Paklik Seorang Diri dan Rumah yang Besar

Kematian Paklik Seorang Diri dan Rumah yang Besar

0
Illustration by Mairel Theafila on Unsplash

Seorang ustaz pernah menceritakan kondisi pamannya yang tinggal di kampung halaman.

Pada sebuah kesempatan saat pulang kampung halaman, ustaz tersebut menengok pamannya. Ia memanggil paman dengan Paklik, seperti pada umumnya orang Jawa memanggil adik dari ibu/bapak.

Paklik tersebut sakit. Ia menderita kanker paru-paru karena seringnya menghisap rokok.

Sang Paklik memiliki rumah yang sangat besar peninggalan dari orangtuanya. Ia hidup seorang diri. Tidak memiliki istri dan tidak mempunyai anak. Karena tidak ada “ratu” di rumahnya, maka tak ada yang mengurus rumah tersebut. Paklik hanya memanfaatkan satu kamar yang ada di depan.

Ustaz kemudian memberanikan diri untuk bicara, “Paklik, maaf ya saya ngomong ini. Apa tidak sebaiknya diinfakkan saja. Nanti (rumahnya) dijual saja. Ini terlalu besar. Nanti hasil dari penjualan buat infak. Ada beberapa pondok yang baru merintis dan butuh kelas. Satu kelasnya Rp40 juta sampai Rp50 juta. Nanti kan Paklik enak. Paklik kan nggak punya istri, nggak punya anak. Nanti banyak yang mendoakan. Itu bisa jadi amal jariyah. Nanti sisanya beli rumah agak kecil. Ini terlalu gede.”

Paklik hanya melihat, menatap langit-langit rumah. “Ndak lah. Ndak, Nang. Udah biarin aja. Wong ini peninggalan orangtua kok. Mosok peninggalan mbah saya jual. Nanti dikira saya ndak berbakti,” kata Paklik.

Masih ada kepercayaan di daerahnya jika peninggalan dari orang terdekat yang meningggal harus dirawat, maka Paklik tidak melakukan itu. Padahal kalau kita menjual peninggalan tersebut tentu tidak akan membuat sedih bagi yang telah meninggal. Urusan di akhirat tentu lebih penting daripada urusan di dunia.

“Lik, ndak apa-apa, Lik. Mbah meninggalkan ini justru menjadi modalnya Paklik untuk balik ke Allah,” kata Ustaz, sang keponakan itu.

Paklik melihat lagi ke langit-langit, “Ndak lah. Saya bawa rumah ini sampai saya mati.”

Tak lama kemudian, saat Subuh, ketika dihidangkan makanan oleh saudaranya dan dibangunkan untuk sholat Subuh tiba-tiba sudah tidak bernapas lagi Paklik itu. Ia meninggal dunia.

Warisan peninggalan Paklik akhirnya jatuh ke saudara-saudaranya, ke kakak dan adiknya. Sebab ia tidak memiliki anak dan istri. Para kakaknya yang tidak suka dan tidak pernah menengok ketika sakit pun mendapatkan bagian harta warisan pula.

Benarlah adanya, tidak ada penipu yang paling ulung kecuali godaan dunia. Semoga kita senantiasa diberikan sikap qonaah oleh Allah dan rajin infak dengan harta yang ada. Wallahua’lam. [@paramuda/BersamaDakwah]

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.