Home Tazkiyah Dzikir Keutamaan Dzikir

Keutamaan Dzikir

2780
0
source: criminologists3.rssing.com

Salah satu faktor yang dapat memicu semangat adalah pengetahuan terkait manfaat sebuah amal. Pun terkait meninggalkan amal, ianya bisa efektif ketika seseorang mengetahui dampak buruknya. Inilah di antara metode Rabbani dalam mendidik manusia dengan kabar gembira berupa surga dan peringatan berupa siksa neraka.

Sebagai salah satu amalan unggulan yang menjadi kebiasan para Nabi dan orang-orang shalih setelahnya, dzikir pun diperintahkan dengan iming-iming pahala yang agung dan amat menggiurkan. Di antaranya adalah kalimat yang paling disukai Allah Ta’ala, kalimat yang bisa menghapuskan dosa, dan ganjaran-ganjaran lain yang dijanjikan oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Bahkan, ada satu kalimat agung yang jika dibaca, maka seorang hamba berhak mendapatkan balasan berupa; memerdekakan budak, mendapatkan kebaikan, dihapuskan keburukannya, terpelihara dari gangguan setan, dan menjadi orang yang paling baik.

Inilah kalimat agung yang ringan diucap, tapi memiliki faedah yang amat besar.

Merdekakan Empat Budak

Diriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari, Imam al-Bukhari dan Muslim menyebutkan dalam kitab Shahih-nya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Barang siapa membaca kalimat لااله الاالله وحده لاشريك له، له الملك وله الحمد وهوعلى كل شيءقدير ‘Laa ilaha illallahu wahdahuu laa syariikalah, lahu al-mulku wa lahu al-hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir (Tiada Tuhan yang hak disembah kecuali Allah Yang Mahaesa. Bagi-Nya segala kerajaan. Bagi-Nya segala puji. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu)’, pahalanya sama dengan memerdekakan empat orang budak dari keturunan Nabi Ismail.”

Berjuta Faedah

Disebutkan oleh Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Ibnu Majah, Imam at-Tirmidzi, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Barang siapa membaca kalimat لااله الاالله وحده لاشريك له، له الملك وله الحمد وهوعلى كل شيءقدير ‘Laa ilaha illallahu wahdahuu laa syariikalah, lahu al-mulku wa lahu al-hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir (Tiada Tuhan yang hak disembah kecuali Allah Yang Mahaesa. Bagi-Nya segala kerajaan. Bagi-Nya segala puji. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu)’ pada suatu hari sebanyak seratus kali, baginya berhak mendapatkan keutamaan seperti memerdekakan sepuluh budak, dicatatkan untuknya seratus kebaikan, dihapuskan darinya seratus jenis kejahatan. Pada hari itu, ia terpelihara dari gangguan setan hingga sore hari. Tidak ada orang yang lebih baik darinya, kecuali yang beramal lebih banyak. Barang siapa membaca ‘Subhanallahi wa bihamdih (Mahasuci Allah dan bagi-Nya segala pujian)’ sebanyak seratus kali, maka dihapuskan kesalahan-kesalahannya, meski sebanyak buih di lautan.” Wallahu a’lam. [Pirman/BersamaDakwah]