Home Kisah-Sejarah Kisah Nyata Kopi Pak Heru dan Air Panas 55 yang Habis

Kopi Pak Heru dan Air Panas 55 yang Habis

5702
0

Di jalan Veteran seorang perempuan berjilbab lebar berwarna putih duduk di pinggiran trotoar. Ia sedang menuangkan termos berisi air panas ke gelas plastik. Di depannya tergelar tikar yang di atasnya bertumpuk saset-saset kopi instan. Gelas plastik yang dia pegang juga berisi kopi instan.

“Yah, air panasnya habis,” keluhnya seraya menggoyang termos. Air keluar tetesan yang terakhir.

Di depannya, pria yang juga berbaju putih dan berpeci itu segera meminta pemuda yang tak lain anaknya untuk bergegas. “Mengambil air panas di sana,” ia menunjukkan arah ke penulis. Sebuah warung di sudut jalan, di jalan yang sama di area Gambir, Jakarta Pusat. Ia sudah mencari di jalan raya depan Istiqlal namun tidak dapat, dalam bahasa dia ‘susah’.

Namanya Heru dan istrinya lebih senang dipanggil Ibu Heru. Warga Tangerang Selatan itu sudah berangkat dari rumah sejak pagi. Mereka tidak sedang jualan kopi keliling. Tapi menyediakan segelas kopi untuk peserta Aksi Simpatik 55 secara cuma-cuma.

“Iya, kami gratiskan. Kami ingin memberi yang kami bisa. Untuk umat,” tutur pria bersuara lembut itu. Di sampingnya masih ada peserta yang setia menunggu kopi panas di siang yang terik.

Tak hanya kopi panas yang sedekahkan namun juga jajanan seperti lontong, pastel dan martabak berjumlah ratusan. Sudah ia bagi-bagikan kepada para jamaah yang masuk ke halaman Istiqlal.

Hari Jumat (5/5/2017) memang sedang berlangsung aksi damai bertajuk Aksi Simpatik 55. Dimulai dari sholat Jumat di Masjid Istiqlal lalu berlanjut ke Mahkamah Agung. Aksi tersebut dihadiri oleh ulama seperti Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Ustadz Bahtiar Natsir, Pengasuh Pondok Pesantren Daarut Tauhid KH. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, Waketum GNPF MUI Zaitun Rasmin, Mantan Ketua MPR Amien Rais, Ketua Baznas Didin Hafidhudin dan lainnya.

Zaitun melalui pengeras suara, mengutarakan kepada peserta aksi yang hadir dari berbagai daerah itu, aksi tersebut merupakan aksi penutup dari rangkaian aksi yang telah dilakukan sejak Oktober tahun lalu. Aksi Bela Islam, begitu istilahnya, ini sudah dilakukan beberapa kali, yang paling besar adalah aksi 411 dan 212.

“Ini aksi penutup daripada aksi menuntut penista agama. Selain aksi dijalan, kita lakukan dialog sampai kepada bapak wakil presiden (Jusuf Kalla),” tutur Ketua Umum Wahdah Islamiyah itu.

Jika boleh mengingatkan, sudah berapa kali umat Islam melakukan aksi untuk menuntut keadilan buat pelaku penistaan agama? Dari 411, 212 hingga sekarang aksi 55. Sejumlah itu pula keadilan absen dari peredaran.

Jika aksi hari ini tak mengubah apa-apa, hukum di Negeri Bhineka riwayatnya akan berakhir menjadi boneka. Aksi untuk menghukum penista agama dengan hukuman setimpal hanya akan menjadi dongeng yang terlupakan.

“Tunggu ya, Pak. Sabar,” Heru mengingatkan kepada pelanggannya yang tak sabar menunggu kopi panasnya.

Air panas telah habis. Aksi bela islam juga telah ‘habis’, Aksi Simpatik adalah pungkas. Tak lama air panas datang dua termos. Dan aksi bela Islam akan tetap terisi ulang apapun keputusan termos hukum. Pembelaan dalam wujud lain. [Paramuda/BersamaDakwah]