Home Ilmu Islam Aqidah Logika Tuhan Meninggalkan Tuhan Anak

Logika Tuhan Meninggalkan Tuhan Anak

5535
0

Dalam kepercayaan orang nasrani, Yesus mengalami penyaliban. Usai mengalami penyaliban selama lebih kurang tiga jam yakni dari pada pukul 12 hingga dengan pukul 15, berserulah Yesus seperti tertulis dalam Injil:

“Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring; ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’ Artinya: ‘Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?’ “(Matius 27: 46).

“Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eloi, Eloi, lama sabakhtani? yang artinya:’ Allahku, Allahku, mengapa Engkau tinggalkan Aku?'” (Markus 15:34).

Jika Tuhan (Bapa) saja meninggalkan Tuhan (Anak), apa yang diharapkan dari Tuhan seperti itu? Barangkali demikianlah yang harus terjadi, demi menebus dosa manusia, AnakNya sendiri harus dikorbankan! Yang berdosa orang lain (manusia, dunia) tetapi yang harus menjadi tumbal justru AnakNya sendiri.

Pertanyaannya logis kah menerima kekejaman Tuhan (Bapa) terhadap AnakNya, apalagi saat-saat sakaratul maut justru Tuhan (Bapa) meninggalkanNya?!

Jika demikian, berarti sabda Yesus perlu diralat atau direvisi karena sebelumnya Yesus mengatakan bahwa (Aku) Yesus dan Bapa adalah satu. Perhatikan sabdanya:

“Aku dan Bapa adalah satu” (Yohannes 10:30)

“…supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa ” (Yohannes 10:38)

Tentu ini sangat kontradiktif dan sukar untuk dimengerti. Mengapa Tuhan (Bapa) dan Tuhan (Anak) yang tadinya satu, justru pada saat sakaratul maut Bapa meninggalkan AnakNya? Lalu apa artinya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa? Mengapa Bapa meninggalkan AnakNya dalam keadaan tersiksa? Bapak atau orangtua dari jenis manusia saja tidak akan rela kalau anaknya disiksa terlebih lagi bila Anak tidak melakukan kesalahan sama sekali.

Yang lebih tragis lagi, murid-murid Yesus yang lain, yang dianggap pengikut setia ternyata lari dan tercerai berai meninggalkan guru sekaligus Tuhannya dalam keadaan nestapa dan teraniaya.

Pengecutnya sikap murid-muridNya terlihat sampai pada penyaliban. Ketika penyaliban berlangsung, tak satupun muridnya datang, bahkan tak satupun yang merawat jenazah Yesus setelah kematianNya di tiang kayu salib.