Home Keluarga Memasukkan Selebgram dalam Daftar Cita-Cita dan Duit yang Didapat

Memasukkan Selebgram dalam Daftar Cita-Cita dan Duit yang Didapat

390
0
Unsplash

Di depan kelas, semua murid mendapatkan giliran untuk maju atas perintah guru Bahasa Indonesia. Mereka diminta menyampaikan tentang cita-cita diri. Selepas sekolah menengah atas mau kemana? Mau jadi apa?

Atas pertanyaan itu, penulis pun mendapatkan giliran yang sama. Lalu dengan bangga mengatakan mau jadi jurnalis dan ingin kuliah di jurusan public relation (PR). Jurnalis? Kuliah di PR? Perut kembung makan combro, nggak nyambung bro. Ya memang seharusnya penulis ketika itu bilang jurusan jurnalistik atau sekalian bilang ambil komunikasi. Toh PR juga bagian dari komunikasi. Tapi selepas lulus kuliah semua bisa berubah. Nggak saklijk pekerjaan harus sesuai jurusan. Selepas kuliah penulis kerja di bidang media yang ada PRnya juga. Kata-kata di masa lalu seakan bertaut di masa kini.

Kembali ke cita-cita. Setiap kali bertanya kepada anak kecil atau anak kecil itu adalah kita sendiri, pasti jawabannya akan berubah-ubah. Sesuai dengan kondisi dan cuaca hati. Jawaban yang hampir menderas di arus utama adalah seperti beberapa ungkapan berikut:
“Saya mau jadi dokter.”

“Kalau aku mau jadi polisi.”

“Cita-citaku tentara.”

“Mau jadi guru dong. Guru kan pahlawan tanpa tanda jasa.”

“Kalau aku mau jadi polwan.” (sementara yang ngomong begini adalah laki-laki kecil)

“Aku mau jadi pilot.” dan sebangsanya.

Seputar itu terus yang menjadi pilihan, dan begitu terus hingga SetNona main di film horor Pengabdi Setan Jilid 13. Tidak ada yang salah dengan cita-cita di atas, bagus dan sangat mulia. Menjadi dokter itu mulia karena membantu orang untuk kembali sehat. Menjadi polisi juga mulia karena menjaga ketertiban dan keselamatan jalan raya meski kadang ada saja pengguna jalan yang sebal dengan mereka. Dan pekerjaan lain di atas sungguh mulia jika diaruskan untuk kebaikan. Hanya saja, di zaman now ini, cita-cita itu makin variatif–kalau nggak mau dibilang kompleks. Ada copywriter, ada scripwriter, content writer, ghost writer (Ini kenapa semua ujungnya ‘writer’? Intoleran!) dan sebagainya.

Pernah bertanya kepada kids zaman now tentang cita-cita? Tidak sedikit memasukkan kata “selebgram” dalam daftar doa. Alasannya kayak nyobek bubuk mecin. Sederhana. Selebgram itu udah tenar gampang nyari duit lagi. Dari ketenaran itu akan dapat mengundang produsen untuk memasang iklan di akun sang selebgram.

Mike Bandar, salah satu pendiri HopperHQ.com pernah mengatakan bahwa Instagram sekarang merupakan alat pemasaran yang sangat mangkus untuk merek dan sangat menarik untuk melihat bagaimana selebriti dan influencer dapat menghitung akun mereka secara efektif. “Dengan sekitar 700 juta pengguna bulanan aktif di seluruh dunia, IG menawarkan banyak pelanggan potensial untuk memajang merek yang memiliki anggaran untuk memengaruhi para pemilik akun agar membeli barang dan jasa seperti yang dipakai idolanya,” katanya.

Seorang selebgram di negeri ini dengan jumlah followers 346k, mematok endorsement foto untuk dipajang selama empat hari sejumlah Rp 650.000. Sementara untuk endorsement foto untuk tujuh hari akan dikenakan Rp 850.000. Jika endorsement berupa video akan dikenakan Rp 1.200.000 untuk tayang selama empat hari. Jika berupa post untuk instastory dikenakan tarif Rp 380.000 untuk waktu 24 jam. Enak bukan, tinggal jepret dan kasih caption atau ngomong sedikit langsung dapat duit?
Kabar baiknya, selebgram di atas bukanlah penulis. Itu adalah hasil nge-WA penulis dengan selebgram di atas yang juga pemain utama sebuah sinetron remaja. Hanya saja ia tidak menerima semua jenis produk. “Partai politik nggak nerima. Gue juga nggak mau promote akun pribadi juga,” kata selebgram yang berjenis kelamin laki-laki dan masih kuliah di “World Class University” itu.

Untuk menjadi selebgram memang banyak cara. Ada yang menjual masa lalu, mengunggah kegantengan pribadi, menjual video komedi, menjual “lidah sisa” atau memang dari sononya alias sudah menjadi artis yang mondar-mandir di layar kaca atau layar lebar.

Selebgram barangkali bukanlah cita-cita yang abadi seperti hidup ini yang tidak abadi. Seiring perkembangan zaman, platform akan bertumbuh terus menerus dan Instagram entah masih bertahan atau tergilas. Jika saat ini masih menjadi selebgram, nikmati saja. Dengan memberi tulodho sing apik, maka followers pun akan ikut terinspirasi. Hanya saja, siapkan saja jawaban ketika menghadapi bapak mertua dengan pertanyaan; Selebgram kuwi opo? Dengan menjadi selebgram apa kamu bisa menghidupi anak saya?

SHARE

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here