Home Keluarga Meneropong “Iqro” dan Bosscha yang Terancam

Meneropong “Iqro” dan Bosscha yang Terancam

967
0
Dok: Tabloid Kabar Film

Menanamkan sejak dini untuk mencintai sains memang sangat penting. Pun penting pula menanamkan cinta Al Qur’an sebagai dasar bagi perkembangan pribadi generasi muda muslim. Ilmu pengetahuan dan Al Qur’an, dua hal yang sangat berkaitan.

Adalah Aqila (Aisha Nurra Datau), gadis kecil yang sangat gandrung dengan dunia perbintangan dan benda-benda langit (astronomi). Di kelas, ia lumayan unggul pengetahuannya di bidang ini. Aqila juga menyangkal temannya yang mengatakan bahwa Pluto adalah planet.

Guru pun memberi tugas kepada siswa. Dan tugas Aqila ingin membuktikan pada teman-temannya bahwa ia bisa meneropong Pluto. Caranya? Melalui teropong utama Bosscha. Liburan Aqila dihabiskan di kota Bandung, Jawa Barat. Apalagi Opanya (Cok Simbara) adalah seorang astronom yang memegang Observatorium Bosscha.

Lewat perbincangan video di gawai, teman Aqila yang sekaligus rivalnya di kelas selalu memberi perkembangan informasi yang pelan-pelan sudah menuntaskan tugasnya. Sementara Aqila belum dapat apa-apa. Aqila tak mudah untuk mewujudkan impiannya. Untuk dapat meneropong saja harus menuntaskan satu syarat; bisa membaca Al Qur’an dengan baik. Padahal gadis 9 tahun itu kurang berminat mempelajari Al Qur’an.

“Bagaimana bisa tahu waktu sholat padahal nggak ada jam di zaman Rasulullah? Membaca langit, melihat bintang!” kata Opa kepada Aqila.

Sementara Opa dirundung kegelisahan yang tak sudah-sudah, sebab ada ancaman yang mengintai. Ia juga kerap kena teror. Bosscha terancam!

“Kenapa makin ke sini makin tak banyak yang minat dengan ilmu pengetahuan?” kata Opa kepada Nenek Aqila (Neno Warisman) pada suatu malam.

Aqila pun mulai berdamai dengan diri sendiri, mencoba menaklukan diri dengan mengikuti pesantren. Sayangnya ia kerap diusili oleh Fauzi (Raihan Khan), penjual krupuk Palembang.

Film yang diproduksi oleh Masjid Salman ITB dan Salman Film Academy ini memang menarik. Memadukan antara sains dan agama dengan baik nan ciamik. Film yang diklaim oleh pihak produksi sebagai film anak-anak religi pertama di Indonesia ini sepintas mengingatkan kepada penulis dengan film Petualangan Sherina. Berkisah petualangan, persahabatan, kegigihan gadis cilik, Bosscha dan bahaya yang mengintai. Mimik Aqila ketika ngambek dan merajuk pun nyaris sama. Akan tetapi perbedaannya juga sangat banyak.

Iqbal Alfajri juga mendirect dengan baik para pemain sekalipun ada yang berstatus sebagai pendatang baru. Meski ada kekurangan tapi tertutupi dengan baik oleh jalannya cerita.

Tak ayal KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym juga mengikuti nobar di Bandung, beberapa sekolah islam terpadu juga mengadakan nonton bersama. Selayaknya memang sebagai muslim kita mesti peduli dengan film-film beredukasi yang bisa mendorong munculnya inspirasi lewat anak-anak.

Film “Iqro: Petualangan Meraih Bintang” membuat kita melek terhadap bintang-bintang di langit dan korelasi ibadah kita. [Paramuda/BersamaDakwah]