Home Suplemen Opini Mengapa Petugas Pelayanan Publik Banyak yang Jutek?

Mengapa Petugas Pelayanan Publik Banyak yang Jutek?

2493
0
Photo by Chris Benson on Unsplash

“Perawat rumah sakit dan dokter,” kata Muhammad Akbar Ismail (24), warga yang tinggal di Jakarta Selatan.

Ia mengeluhkan pelayanan publik yang dilayani dengan tidak ramah alias jutek. “Masih keinget. Pas anak kritis malah disuruh DP 20 juta. Harusnya tetap ditangani dulu. Biar urusan administrasi orangtuanya yang urus,” kata bapak muda satu anak itu, Ahad (27/11/2017) ketika ditanya penulis.

Habis diperlakukan seperti itu, lanjut dia, ia memilih pindah ke rumah sakit lain, dan langsung ditangani oleh pihak rumah sakit pilihan. Urusan administrasi dilakukan setelah pasien lewat dari masa kritis.

“Dokter di UGD rumah sakit tempat anak saya di rawat pun marah dengan perlakuan dokter di RS yang menolak dengan bermacam alasan,” ungkap Akbar, begitu ia akrab disapa.

Lima Menit terlambat dibawa ke RS tempat anaknya dirawat, kata dia, mungkin ceritanya sudah lain. “Masuk UGD zona merah dalam keadaan mata terbelalak ke atas, denyut nadi tidak ada,” ungkapnya

“Alhamdulillah Allah masih berikan kesempatan kedua. Apapun cerita buruk tentang RS Pemerintah, saya merasa terbantu. Sekalipun tidak punya kartu jaminan pada saat itu, tapi anak saya ditangani, serta biaya dicarikan solusinya,” tutur Akbar lagi.

Hampir sama dengan Akbar, Adya Tuti Pramudita pun sempat menjadi korban kejutekan pelayanan publik seperti petugas rumah sakit.

“Iya, khususnya pemerintah. Kan kalau RS. swasta petugas dan susternya jutek bisa ditinggalin. Kalau RS pemerintah mentang-mentang pasien yang butuh kali, BPJS pula. Entahlah, pokoknya sepengalaman saya gitu,” kata ibu rumah tangga itu.

Tak hanya Tuti dan Akbar yang mengalami kejutekan, warga lain dari berbagai daerah mengalami hal yang sama. Namun tak hanya rumah sakit, tapi juga kejutekan petugas imigrasi di bandara internasional, dinas pendidikan, posyandu hingga kantor kependudukan dan catatan sipil.

Berbeda cerita dengan mereka, petugas keadministrasian sebuah kampus negeri di Jakarta Yusi Rahmaniar memiliki alasan mengapa para petugas pelayanan publik banyak yang jutek.

“Anak-anak (kampus) banyak yang malas baca, jadi berkas kurang lengkap lah, atau nggak bawa dokumen aslinya, minta diprioritaskan, minta dimaklumi dengan kekurangan-kekurangan dokumen, minta cingcay,” kata Yusi pada Senin (27/11/2017).

Sementara, kata dia, dalam sehari pihaknya bisa menangani seribu mahasiswa lebih. Sebenarnya ia cukup mengerti kenapa orang pelayanan publik jutek, “Karena kalau baik dan manis banyak yang minta damai, padahal itu untuk kebutuhan konsumen sendiri,” ungkapnya.

Ia menyamakan dengan petugas imigrasi yang juga kurang lebih sama, banyak konsumen yang menggampangkan sehingga dokumen tidak lengkap, padahal kalau ada kesalahan bisa fatal akibatnya.

“Belum lagi yang minta dipermudah dengan pakai uang. Wah ini banyak yang minta tinggal beres. intinya, memang secara umum menjadi sifat orang indonesia yang maunya cepet dan nggak ngantri, nggak tertib. Menjadi tradisi di kalangan petugas pun susah berubah,” tutur Yusi.

Ia menilai terkadang orang hanya melihat dari stakeholder (pemangku kepentingan) saja. Tidak melihat dari sisi kebiasaan orang Indonesianya.

Pihaknya pernah mengadakan percobaan menangani mahasiswa pascasarjana, yang menangani petugas muda, cakep, ramah, penuh senyum. Ternyata, kata dia, untuk pemberkasan wisuda para mahasiswa malah kebanyakan terlalu banyak bertanya, tidak mengambil antrean, surat rekomendasi tidak bawa dan minta dibebaskan, pun menulis biodata seenaknya.

“Bayangkan kalau ini terjadi, misal, di petugas imigrasi : bisa masuk narkoba berapa ton, bisa masuk China berapa ribu orang?” ungkap Yusi.

[Paramuda/BersamaDakwah]

SHARE

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here