Home Tazkiyah Adab Mengapa Rasulullah Tak Pakai Gelar “Almarhum”?

Mengapa Rasulullah Tak Pakai Gelar “Almarhum”?

9107
0
Ilustrasi: Unsplash
“Almarhum sosok yang baik. Rajin sholat Subuh di masjid. Almarhum juga sosok pemimpin yang tidak plintat-plintut bicaranya, tegas, menepati janji dan nggak gede mulut,” ucap seseorang.
Di waktu yang berbeda, ada yang terpikirkan tentang sesuatu. Bukan tentang sepeninggalnya seseorang melainkan gelar yang disematkan pada seseorang yang telah meninggal dunia. Mengapa ‘almarhum’ hanya dipakai orang orang dan waktu tertentu saja? Mengapa Rasulullah Saw yang sudah lama meninggal tidak dipakaikan gelar ‘almarhum’ juga?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi daring dari Kemendikbud menyebutkan bahwa al·mar·hum n 1 yang dirahmati Allah (sebutan kepada orang Islam yang telah meninggal); 2 yang telah meninggal; mendiang: di ruang tamu tergantung lukisan besar — Jenderal Sudirman; 3 kata untuk menyebut orang yang telah meninggal: — pernah menjabat sebagai duta besar di Singapura.
Dari sisi gramatikal bahasa Arab, kata “almarhum” merupakan isim maf’ul (kata benda yang menunjukkan pengertian yang dikenai pekerjaan) dari kata rahima yarhamu.Rahima mempunyai makna memberi kasih sayang, bisa disebut pula menyayangi. Dan almarhum memiliki arti orang yang disayangi. Tidak jelas maksudnya disayangi disini oleh siapa, mungkin maksudnya disayangi Allah.

Penggunaan embel-embel ‘almarhum’ ini bisa dikatakan unik di Indonesia. Tidak sepenuhnya dibenarkan atau disalahkan. Selain bersifat lokalitas, jarang dipakai di masa lampau atau untuk manusia yang hidup di masa lalu–hingga kita belum lahir pun.

Uniknya lagi, orang-orang yang telah meninggal tidak semua diberi sebutan ini. Umumnya hanya orang-orang yang pernah hidup bersama kita yang kita panggil dengan sebutan itu, dalam waktu yang tidak terlalu jauh. Misalnya, kami dulu memiliki orangtua yang saat ini sudah wafat. Maka ketika menyebut namanya, kami biasa menggunakan istilah almarhum sebelum menyebutkan namanya.

Mengapa ketika menyebut Jenderal Sudirman tidak memakai almarhum? Mengapa tidak menyematkan ‘(alm)’ di depan atau di belakang nama Pangeran Diponegoro?

Ada ratusan juta lebih orang yang telah wafat mendahului kita, akan tetapi kita tidak pernah mengenalnya semasa hidupnya, tidak pernah ketemu apalagi berteman di Facebook. Di sinilah biasanya kita tidak menggunakan ‘almarhum’ di depan namanya. Alasan sederhananya, mereka ketika hidup tidak ada di masa kita. Bentangan jarak waktu jauh telah memisahkan kita.

Persis ketika kita menyebut para perawi atau imam mazhab dengan awalan (alm). Misalnya  ‘almarhum imam Muslim’, ‘almarhum imam Syafi’i’ dan lain sebagainya. Persis pula juga tidak pernah memanggil atau menyertakan (alm) kepada para sahabat Rasulullah seperti (alm) Abu Bakar’, (alm) Umar, dan seterusnya.

Apakah sebuah larangan? Bukan tentang larangan, hanya saja sangat tidak lazim dan asing di telinga. Oleh sebab itu jarang sekali ada yang menyebut Rasulullah Saw dengan label ‘almarhum’ di depan nama sang qudwah khasanah itu. (Alm) Nabi Muhammad Saw, bukankah ganjil?

Wallahua’lam [Paramuda/ BersamaDakwah]

 
SHARE