Home Pemuda Dakwah Sekolah Mentoring Telah Mendekap Erat Mimpi-mimpi Kami

Mentoring Telah Mendekap Erat Mimpi-mimpi Kami

3121
0
ilustrasi mentoring © Dakwatuna.com

Langit hari ini diselimuti mendung yang kelabu. Meski Allah telah menitahkan pada matahari untuk menyinari bumi, terkadang ia muncul, terkadang tetap saja malu-malu untuk menampakkan dirinya di atas sana. Ah, langit di Ngawi tercinta. Semoga tiada hari berlalu tanpa pertemuan antara hikmah dan diriku di sana..

Hari ini aku tahu, ke sekian kalinya aku harus ijin pada teman-teman kepanduan untuk mentoring di masjid sore nanti. Tentu setelah aku menunaikan tugasku yang baru, membacakan sandi ambalan di upacara pembukaan latihan rutin itu lantas aku bisa pergi menuju masjid. Alhamdulillah, waktu untuk mengaji bersama datang juga.

Senandung tilawah Al-Quran mbak Titin begitu menenangkan. Akhir-akhir ini memang kami di kelas tiga sedang banyak PR dan penugasan, butuh kekuatan ruhiyah yang lebih dari biasanya. Banyaknya tugas itu juga yang menjadi kendala anggota kelompok mentoring kami terkadang datang terkadang juga ijin. Pekan kemarin Ninin ijin, pekan ini Beta yang ijin. Meskipun begitu, sekali mbak Titin memulai tilawah alqurannya, rasanya kami seperti dibawa ke taman yang indah lagi menyejukkan. Tak lagi terbebani tugas akademik yang kadang menyesakkan. Damai rasanya. Kami berlima. Ada Mbak Titin, Aku, Khoir, Rasti dan Ninin. Tepat disebelah selatan hijab serambi masjid sekolah kami duduk melingkar bersama.

Mbak Titin membawakan materi tentang sifat sabar dan syukur. Di sore yang tenang, setelah pagi hingga siang tadi air terhambur dari langit, membasahi dedaunan yang dulu sempat menguning serta menyuburkan kembali tanah–tanah di halaman sekolah yang sering berdebu. Kami mengharap keridhoan Allah teriring bersama majelis ilmu ini.

Mbak Titin menutup materinya dan berpesan, ‘Kesabaran senantiasa berpadu dengan rasa syukur, Dik. Dalam bersyukur, kita berikhtiar dengan kesabaran tertinggi yang kita punya. Puncak kesabaran yang insya Allah terus meninggi beriringan dengan tangga syukur yang coba kita bangun. Bersyukur dengan ilmu yang dititipkan Allah pada kita, maka kita coba bersabar dengan segala ujiannya dalam menjalankan perintah Allah untuk menyampaikan ilmu itu pada saudara kita yang lain. Bersyukur dengan kesempatan yang telah Allah berikan sehingga kita berusaha menunaikan tanggungjawab kepemimpinan yang telah Allah amanahkan dengan rasa sabar. Masya Allah, indahnya hidup ini Dik, jika ia teriring bersama rasa syukur dan kesabaran dalam diri kita.’

Mataku kini seperti tergenang air yang bening. Ia jatuh menetesi pipi. Satu-dua tetes. Kututupi mukaku dengan tangan. Aku teringat dengan semua tanggungjawab yang ada. Terkadang rasanya berat untuk menjalaninya. Mbak Titin agaknya tahu apa yang aku rasakan sore itu sebab dari semalam aku memang sudah mencoba menceritakannya.

“Dik, jangan bersedih. Allah tahu lelah anti..”Mbak Titin mencoba menenangkan .

Kujawab sebisaku meskipun aku benar-benar mendengar sendiri suaraku terpatah-patah tak bisa menahan malu pada Allah, kutangkupkan lutut ke dada sambil terus mengusap air mata yang semakin deras, ‘ Dik Nopi malu mbak.. anti tahu sendiri bagaimana Nopi masih harus banyak belajar mengatur waktu, belajar mengayomi adik-adik, masih seperti ini juga. Jauh dengan beberapa teman yang sudah lebih dulu berpengalaman setahun membersamai adik–adik di sana. Apalagi kalau kami bersama, begitu senang rasanya punya teman seperti mereka. Jauh mbak dengan saya. Ada yang bilang, Ini sudah bukan waktunya belajar lagi, kamu harusnya bisa begini dan begitu!”

Mbak Titin memelukku, ”Dik Nopi istigfar…” Aku beristigfar sebanyak yang kubisa. Jiwaku bergemuruh. Merasa tidak pantas dengan apa yang tersandang pada namaku saat ini. Amanah itu bukan tentang nama, tapi tentang kontribusi yang engkau tunaikan. Masih jelas terngiang nasehat ini kupegang kuat-kuat. Tapi aku merasa begitu lemah sekarang. Bertanggungjawab di tengah teman–teman seperjuangan yang kebanyakan memang terkesan berwatak keras, bisa sewaktu–waktu bercanda ke sana kemari tapi seketika bisa pergi karena merasa tak dianggap jika kita lalai tak memberi perhatian. Kini aku diberi tanggungjawab untuk memimpin mereka.

Rasti mendekatiku juga. Dia memasang wajah dengan mata berkaca-kaca, memelukku, dan berpesan, “Menjadi teh celup itu juga jalan dakwah yang kita yakini Nop. Ingatlah, kita slalu bersama. Kuatkan pundakmu, selami dengan perlahan. Maka ia akan berwarna secerah warna yang kau bawa. Secerah ketika dakwah telah mewarnainya.. “

Aku menatapnya, tak bisa lagi kusembunyikan rasa sayang ini, kami berpelukan diselimuti keharuan yang menyeruak dalam hati. Begitu dalam.

Sambil terus mengelus–elus pundakku, mbak Titin menguatkan azzamku untuk terus bertahan disana,

”Bismillah Dik, kita niatkan dalam hati. Terus ingat bahwa Allah adalah tujuan semua lelah ini. Anti dipilih dengan hasil musyawarah. Tak meminta dan tak mengerti hendak diminta Allah dimana. Menjadilah hati ini hati yang tenang, yang selalu mengingat Allah. Sungguh beruntung orang yang mampu mempertahankan semangatnya di setiap pergantian waktu, dan menemukan Allah di setiap gerak langkahnya..”

Beliau meneruskan, “Mbak Titin juga kadang perlu menguatkan diri mbak sendiri. Allah sudah mengajarkan bagaimana menjaga agar hati ini menjadi tenang. Dalam Alquran surat Ar Ra’d ayat 28 sering menyapa kita, Adalah orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram..

Mbak Titin bilang, ayat ini sering beliau sampaikan di mentoring kami. Tapi entah memang aku yang tidak memperhatikan atau memang ayat itu baru kubaca hari ini? Mbak Titin memintaku membuka Alquran pada ayat tadi dan membacanya dalam hati. Berkali–kali. Aku menurut, kubaca berkali–kali saat itu juga. Sebab lisan ini sudah tak sanggup lagi berkata-kata. Sejuk, tenang rasanya membaca kembali ayat ini. Seperti belum pernah terdengar sebelumnya, meskipun dengan sadar, aku tetap tak bisa menahan tangis ditemani pelukan sahabat–sahabat tercinta. Kini yang kurasa berbeda, tangis rasa syukur tiada terhingga, begitu tenangnya mengingat bahwa tiada air mengalir dari hulu ke hilir kecuali atas izin Allah. Tiada pertemuan yang penuh hikmah di tiap pekan ini kecuali atas izin Allah pula.

***
Dalam tiap pekan kami dipertemukan jadwal rutin untuk mentoring, mengaji di serambi masjid sekolah. Meski tak sama mimpi yang ingin kami wujudkan, mentoring telah mendekap erat mimpi–mimpi kami. Bahkan telah memupuknya perlahan. Mimpi untuk mengantarkan hikmah ke segala ranah. Hingga kini, setelah tiga tahun berlalu. Rasti, Ninin, Khoir, Beta dan aku pun memang tak berada di satu daerah lagi. Kami menginjakkan kaki di bumi cinta Allah yang berbeda. Tapi satu yang slalu terkenang, bahwa mentoring telah mendekap erat mimpi–mimpi kami. Bahkan memupuknya dengan perlahan. Hingga ia bisa terwujud, mengantarkan hikmah ke segala ranah.. [Putri Dwi Novitasari]

Komentar