Home Keluarga Parenting Cara Keluarga Kami Memandang Nilai Akademis

Cara Keluarga Kami Memandang Nilai Akademis

5126
0
Nida menerima hadiah musabaqah hifzhil Quran, Sabtu (17/12/2016)

“Abi… aku nggak mau remidi,” Miqdad merajuk. Meskipun dapat nilai 100 untuk lima pelajaran, PKN tema 3 hanya dapat nilai 71.

Anak kedua kami ini tak mau masuk sekolah untuk remidi di saat banyak temannya libur.

Segera kami ajak dialog. Saya dan istri berusaha menenangkannya, bahwa remidi itu biasa. Masuknya juga cuma sebentar. Malah asyik bisa bertemu teman-teman di sekolah.

“Miqdad tidak perlu remidi karena nilainya sudah di atas 70,” kabar dari sekolah itu membuatnya tersenyum. Ia pun bebas beraktifitas di rumah sejak Sabtu lalu.

***

“Abi… hafalanku kurang cepat. Teman-teman sangat cepat,” Nida, anak pertama kami, melaporkan perkembangan tahfizh-nya.

Saya dan istri memahamkan bahwa menghafal tidak harus cepat-cepat. Yang penting berusaha dan berdoa. Allah yang akan memberikan pertolongan-Nya. Padahal hafalan saya juga tidak sebanyak Nida yang sudah 20 juz.

“Juara 1 dari banat, Nida’us Salma kelas 7B,” pengumuman dari atas panggung Ajang Kreasi dan Apresiasi Siswa SMPIT Al Ibrah itu mengejutkan saya. Nida berhasil meraih juara 1 Musabaqah Hifzhil Quran dari banat.

“Kemarin Nida sempat ragu-ragu, alhamdulillah ternyata juara. Hafalan Nida sebenarnya sangat cepat namun kadang kurang fokus,” kata Ustazah menjelaskan saat saya mengambil raport Nida.

***

Alhamdulillah… kami tidak pernah khawatir dengan prestasi akademis anak-anak. Kami pun tidak pernah menuntut mereka menjadi juara kelas di bidang akademik.

Sewaktu sekolah, saya hampir selalu menjadi juara kelas, bahkan sekolah. SD dan SMP selalu ranking satu. Mewakili SD di ajang siswa teladan di tingkat kecamatan dan mewakili SMP di ajang siswa teladan tingkat kabupaten. Juga mendapatkan beberapa beasiswa.

Saat SMA, mungkin mulai menjadi titik balik. Berprestasi di bidang akademis ternyata menyisakan kebingungan. Saya mendapat nilai-nilai bagus dalam teori, namun skill saya rendah.

Ketika di perguruan tinggi, pertanyaan serupa juga membayangi. Apa yang bisa saya lakukan dengan nilai bagus? Alhamdulillah kemudian saya mulai fokus ke skill. Dengan landasan karakter yang timbuh di atas iman, tentu saja.

SMA, saya mulai mendalami agama. Lalu berkembang cukup baik saat kuliah dengan masuk ma’had. Mungkin itu cara Allah menanamkan karakter berbasis iman.

Skill sosial banyak saya dapatkan ketika aktif di sejumlah organisasi di kampus. Sedangkan skill profesi banyak saya dapatkan -di samping yang basic di perkuliahan- melalui membaca, pelatihan dan eksperimen. Alhamdulillah Allah memudahkan belajar cepat.

Belajar dari pengalaman itu, kami tidak pernah menuntut anak-anak menjadi juara akademis. Kami lebih suka anak-anak belajar dengan enjoy. Menikmati setiap proses perkembangan dan pertumbuhan.

Bukan berarti nilai akademis tidak penting. Namun kami menanamkan bahwa nilai akademis bukan segala-galanya. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]