Home Tazkiyah Akhlak Pemberat Timbangan Kebaikan di Hari KIamat yang Kini Banyak Diremehkan

Pemberat Timbangan Kebaikan di Hari KIamat yang Kini Banyak Diremehkan

4581
0
Akhlak Mulia @note.taable.com

Ada kekeliruan berpikir dan prioritas di antara sebagian kaum Muslimin. Mereka mengunggulkan suatu amalan dan merendahkan amalan lainnya. Mereka memprioritaskan amalan yang tidak prioritas dan meremehkan amalan yang seharusnya diutamakan.

Akhirnya, ada satu amalan yang dijanjikan sebagai pemberat timbangan amal kebaikan di Hari Kiamat tapi justru diremehkan oleh kebanyakan kaum Muslimin lantaran kurangnya ilmu dan sebab lainnya.

Disebutkan dalam riwayat Imam at-Tirmidzi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Tiada sesuatu pun yang paling berat dalam timbangan seorang mukmin di Hari Kiamat selain akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah Ta’ala membenci orang yang kasar lagi berperangai buruk.”

Berapa banyak oknum kaum Muslimin yang baik ibadah ritualnya tetapi bermasalah secara akhlak? Mereka melakukan shalat, puasa, membaca al-Qur’an dan amal shalih lain, tapi bersikap buruk terhadap keluarga dan tetangganya?

Berapa banyak kaum Muslimin yang sibuk mengoreksi kaum Muslimin lain hingga dirinya luput melakukan amal? Hanya dibuk mengkritisi, tapi lupa berbuat baik bahkan sering kali merasa telah menjadi orang baik.

Dalam riwayat lain dari Imam at-Tirmidzi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam juga menyebutkan, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik amalnya.”

Perhatikanlah, Islam saja tidak cukup. Ia harus diserta iman yang baik hingga menjadi Mukmin. Dan sebaik-baik mukmin bukan yang paling tampan wajahnya atau paling banyak hartanya, tetapi yang paling baik akhlaknya.

Ialah akhlak kepada Allah Ta’ala berupa sebaik-baik penghambaan yang tiada secuil pun kesyirikan di dalamnya. Dilanjutkan dengan akhlak kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam berupa melakukan sunnah-sunnahnya yang mulia meski banyak ujian dan rintangannya. Kemudian senantiasa meneladani dan mengikuti para ulama yang merupakan pewaris para Nabi.

Tak bisa dianggap sepele ialah akhlak kepada sesama. Bermula dari terhadap diri sendiri, orang tua, pasangan hidup, anak-anak, saudara, masyarakat tempat tinggal, sesama Muslim dan kepada seluruh umat manusia serta hewan, tumbuhan, dan makhluk lainnya.

Betapa Islam adalah agama yang amat paripurna. Ia tidak hanya mendidik kaum Muslimin agar baik kepada Allah Ta’ala, tapi juga harus berperilaku penuh pesona kepada sesamanya.

Dan tidaklah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam diutus, melainkan untuk menyempurnakan akhlak umat manusia.

Wallahu a’lam. [Pirman/Bersamadakwah]