Home Suplemen Motivasi Pribadi Visioner

Pribadi Visioner

944
0
ilustrasi (ubandi.com)

Rumus menjadi sukses itu hanya dua. Pertama, harus punya visi dan tujuan hidup yang jelas. Kedua, harus rela berkorban untuk menggapai visi dan tujuan hidup tersebut. Berkorban bisa berupa harta, tenaga atau pikiran.

Sayangnya, ada banyak orang yang tidak jelas visi hidupnya. Dalam artian, ia mempunyai visi yang sangat simple, klise dan pendek. Ia tidak berpikir panjang dengan apa yang ingin ia capai. Contohnya, ada seorang mahasiswa yang ditanya, kenapa Anda kuliah? Jawabannya, supaya mendapat gelar. Seorang santri ditanya, kenapa ia nyantri di pesantren? Jawabannya, supaya bisa ngaji. Seorang karwayan ditanya, kenapa ia bekerja? Jawabannya, cari uang untuk makan anak dan istri. Satu sisi, jawaban mereka benar. Tapi di sisi lain, jawaban mereka salah.

Seharusnya, pikiran kita harus taktis dan strategis menatap ke depan. Untuk apa lelah-lelah kuliah hanya sekadar menggondol gelar? Apakah setelah mendapat gelar akan selesai perkara? Apakah dengan gelar, ia bisa sukses? Untuk apa pergi ke pesantren kalau hanya untuk bisa mngaji? Apakah tidak pernah terpikir baginya untuk tidak sekadar bisa mengaji? Tapi juga melakukan perubahan dari apa yang ia dapat dari mengaji tersebut. Untuk apa bekerja keras membanting tulang siang dan malam kalau hanya berorientasi seputar perut saja?

Padahal, Ali bin Abi Thalib Ra. Pernah menyebutkan, orang yang berpikir hanya seputar isi perut, maka derajatnya pun tidak jauh berbeda dengan yang keluar dari dalam perut. Memang, ini perumpamaan yang sangat-sangat jleb!

Cobalah berpikir–atau memang belum pernah terpikir-tentang nilai lain dari bekerja. Kalau orientasinya untuk mengisi perut anak dan istri dan cari uang saja, maka bisa jadi seorang bapak atau suami tidak akan mengindahkan perkara halal dan haram dalam bekerja. Berbeda kalau dia mempunyai orientasi yang jauh ke depan. Pola pikirnya adalah pola pikir yang penuh dengan orientasi akhirat. Walaupun dia bekerja secara duniawi, tapi ia tidak mengorbankan prinsip-prinsip akhirat. Lagi pula, seorang yang bekrja untuk menghidupi keluarganya adalah bagian dari jihad dan mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

Kalau dianalogikan, kita bisa mengambil contoh dari seekor tikus. Bagaimana ketika seekor tikus melihat sepotong keju di atas piring, ia lantas merasa tergiur. Padahal, tidak jauh dari piring tersebut ada jebakan yang mematikan.

Seharusnya, kita berpikir tentang jebakan itu, bukan berpikir pendek hanya sebatas piring berisi keju. Sayangnya, banyak orang yang bernasib sial seperti seekor tikus yang tergiur dengan aroma keju yang menerbitkan selera. Memang, tidak mudah berpikir dengan jangka panjang. Tapi percayalah, hal itu untuk kebaikan diri kita sendiri. [Husni Mubarok/Bersamadakwah]

SHARE

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here