Home Suplemen Resensi Resensi Novel: Tiada Makna Seindah Pulang

Resensi Novel: Tiada Makna Seindah Pulang

1286
2
sumber gambar: hapudin.blogspot.com

Bukan tanpa alasan jika novel Pulang tulisan Tere Liye sudah memasuki cetakan kesepuluh di bulan ketiga peluncurannya. Meski predikat best seller hampir menjadi langganan bagi sang penulis, ada hal-hal esensi yang menjadi alasannya.

Jalan Cerita

Inti cerita novel setebal 400 halaman ini adalah kehidupan seorang pemuda bernama Agam. Hanya kedua orang tua dan Tuanku Imam yang mengetahui nama asli sosok yang cerdas otak sekaligus piawai adu fisik dengan berbagai macam senjata ini.

Oleh orang-orang yang di atasnya, khususnya yang memiliki kedekatan emosi, Agam dipanggil dengan Bujang. Sedangkan dalam dunia hitamnya, julukan Si Babi Hutan yang disematkan pertama kali oleh Tauke Muda terdengar sangat menakutkan sekaligus berwibawa, sukar ditandingi.

Bujang lahir dari pernikahan berbeda kutub. Tere Liye hendak menegaskan, cinta tak pernah melihat latar belakang. Samad yang berasal dari keturunan penjahat bersambut cintanya dengan Midah yang keturunan kiyai, orang terhormat.

Bagi keluarga Midah, cinta Samad terlarang. Haram. Hingga, keduanya berpisah dalam masa yang lama, lima belas tahun. Selama itu, tiada yang tahu persis ke mana perginya Samad. Dan kedatangannya setelah menghilang satu setengah dekade membawa azam yang kuat, kembali melamar Midah.

Keduanya pun menikah. Meski tetap terusir dari kampung ‘suci’ itu. Samad pun menaruh dendam kepada ajaran mulia keluarga Midah. Alhasil, Bujang selalu menjadi sasaran empuk kekerasan ayahnya saat didapati belajar mengaji, adzan, ataupun shalat bersama ibunya.

Saat usia Bujang lima belas tahun, Tauke Muda yang sudah dikontak sebelumnya oleh Samad mengunjungi kediaman Samad di lembah Bukit Barisan. Dengan dalih berburu babi hutan, Tauke Muda membawa rombongan ke pedalaman hutan mematikan di wilayah tersebut. Dari sinilah, kisah adopsi Bujang dimulai. Ia mengikuti Tauke Muda ke Ibu Kota Provinsi untuk membesarkan bisnis gelap Keluarga Tong hingga tingkat nasional di Ibu Kota dan mancanegara.

Mencekam Sejak Awal

Jika novel Rindu dikisahkan dengan sangat santun dan menawan, Pulang amat berkebalikan. Benar-benar baru. Berbeda. Pembaca disuguhi adegan cekam, hening, takut, dan ngeri sejak bab pertama. Dimulai dari pertarungan rombongan Tauke Muda dengan babi hutan di tengah hujan deras, gelap malam, dan angin yang membadai, dilanjutkan dengan pertarungan tingkat tinggi di sepanjang halaman.

Baik dengan tangan kosong melalui Amok, menggunakan katana dan senjata khas ninja lainnya, pertarungan dengan pistol dan senjata canggih khas pertarungan modern, dan penyerbuan-penyerbuan yang membuat jantung berdetak lebih kencang.

Dalam hal ini, banyak yang berpendapat bahwa novel ini akan semakin lengkap jika di-film-kan. Padahal, imajinasi melalui membaca bisa lebih kaya sebab setiap pertarungan dituturkan secara detail, kronologis, dan logis. Sempurna.

Penasaran

Inilah di antara kunci sukses Pulang hingga tercatat best seller dalam hitungan pekan. Meski tidak semua adegan pertempuran disukai sebagian besar pembaca tulisan-tulisan Tere Liye, penulis berhasil menggugah rasa penasaran melalui bumbu-bumbu yang berhasil menggedor jiwa pembacanya.

Tentang shadow economy yang menjadi sentral cerita, interaksi kejiwaan antara Bujang dengan kedua orang tua dan Keluarga Tong yang membesarkannya, berbagai teknik beladiri lengkap dengan penggunaan senjata, lika-liku menjadi mahasiswa di perguruan tinggi ternama negeri ini hingga perjalanan menempuh dua gelar master di Amerika. Termasuk pertemuan Bujang dengan salah satu capres di negeri ini yang digambarkan sebagai sosok mengenakan kemeja putih lengan panjang (halaman 32), nomor urut dua, dan satu-satunya capres pesaingnya berasal dari kalangan militer.

Meski bagi sebagian pembaca tema shadow economy ini sangat asing, penuturan Tere Liye berhasil meyakinkan bahwa dunia itu memang ada.

“Satu di antara empat kapal di perairan negeri ini adalah milik keluarga penguasa shadow economy. Satu di antara enam properti penting negeri ini adalah milik shadow economy. Bahkan satu di antara dua belas lembar pakaian, satu di antara delapan telepon genggam, atau satu di antara sembilan website adalah milik jaringan organisasi shadow economy. Kami bagai gurita, menguasai hampir seluruh aspek ekonomi. Ada lebih dari empat ratus juta tenaga kerja yang bekerja di ekonomi hitam seluruh dunia. Sepuluh juta di antaranya ada di negeri ini.” (halaman 31)

Momen Emosional

Ada momen-momen emosional yang bisa meluruhkan air mata pembaca novel ini. Dimulai dari perpisahan Midah dengan Bujang, anak semata wayangnya. “Pergilah, anakku,” ujar Midah sendu, “temukan masa depanmu. Sungguh, besok lusa kau akan pulang. Jika tidak ke pangkuan Mamak, kau akan pulang pada hakikat sejati yang ada di dalam dirimu. Pulang …” (halaman 24)

Midah melepas Bujang dengan baik sangka sepenuh hati. Dia tidak mengetahui kehidupan anaknya selama mengikuti Tauke Muda yang mewarisi Keluarga Tong sebagai pemain utama shadow economy di negeri ini. Baik sangka sang ibu inilah yang membawa Bujang menjadi sosok yang sangat teguh dalam memegang prinsip, meski dirinya bergulat dalam dunia hitam lengkap dengan variasinya.

Atas kecerdasannya, Tere Liye berhasil membagi momen emosional ini di awal, tengah, dan akhir cerita. Sehingga pembaca merasa tidak jenuh dengan adegan pertempuran dan intrik jahat yang mendominasi. Misalnya, meninggalnya Samad dan Midah yang tidak bisa dihadiri oleh Bujang lantaran sibuk mengurusi bisnis hitamnya, perjuangan dan pengorbanan Samad dan Midah soal cinta, pertemuan dengan Tuanku Imam yang berhasil mengubah haluan Bujang hingga menemukan jalan pulang menuju hidup yang hakiki, dan banyak lagi yang lainnya.

Keteguhan Memegang Prinsip

Satu-satunya alasan mengapa Bujang tidak pernah menyentuh makanan dan minuman haram adalah keteguhannya dalam memegang amanah ibunya. Meski Bujang menjadi olok-olokan teman-teman sesama tukang pukul dan kolega bisnis hitamnya di luar negeri, badannya tetap bersih karena tidak setetes pun dimasuki minuman beralkohol.

“Apa pun yang kau lakukan di sana, berjanjilah Bujang, kau tidak akan memakan daging babi atau daging anjing. Kau akan menjaga perutmu dari makanan haram dan kotor. Kau juga tidak akan menyentuh tuak dan segala minuman haram.” (halaman 24)

Keteguhan memegang prinsip inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Tauke Muda memilih Bujang untuk menjadi pemimpin penggantinya di Keluarga Tong. “Setiap kali pemimpin keluarga tiba di ujung kekuasaannya, maka keluarga lain akan bersiap menikam dari belakang.” (halaman 64)

Maka tatakala Basyir melakukan pengkhianatan dengan menikam Tauke Muda dari belakang, Bujanglah yang menyelamatkan kelangsungan Keluarga Tong dengan memanggil sahabat-sahabatnya yang memiliki kesamaan dalam memegang prinsip.

Meski Bujang ditawari oleh Basyir untuk membelot dan menjadi pimpinan Keluarga Tong menggantikan Tauke Muda yang sakit-sakitan dan hampir mati, Bujang menolak tegas lantaran kesetiannya terhadap prinsip hidup. Karena kesetiaan terbaik terletak pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain. (halaman 187-188)

Siksaan Adzan Subuh

Sejak kecil, Bujang akrab dengan adzan. Ia juga bisa mengumandangkan panggilan cinta yang diulang sebanyak lima kali dalam sehari karena diajari oleh ibunya. Dalam perjalanan hidupnya, tepatnya ketika momen-momen emosional menghampiri Bujang, adzan itu terasa sendu, bahkan menyiksa batinnya.

“Setiap kali mendengar adzan Shubuh, maka hatiku seperti diiris sembilu, sakit sekali. Hampir semua momen kesedihan milikku tiba saat adzan Shubuh. Panggilan shalat itu menusuk-nusuk kepalaku. Tidakkah mereka tahu, ada banyak orang terganggu dengan suara itu? Tidakkah mereka menyadari jika teriakan mereka mengembalikan kenangan buruk masa kecilku?” (halaman 267)

Geliat kesakitan saat mendengar adzan Shubuh inilah yang ditangkap oleh Tuanku Imam setelah pengkhianatan Basyir yang berhasil merebut kepemimpinan Keluarga Tong untuk sementara. Geliat yang berhasil diubah oleh Tuanku Imam menjadi sebuah momentum kebangkitan bagi Bujang untuk kembali merebut sekaligus mengubah haluan kepemimpinan Keluarga Tong selepas kematian Tauke Muda dalam penyerbuan pengkhianatan itu.

Kelindan Masa Lalu dan Masa Depan

Tere Liye dalam Pulang hendak menegaskan bahwa kehidupan saling terkait. Tiadalah hari ini kecuali akan berdampak pada kehidupan esok, dan esok merupakan tumpukan kejadian dan akibat dari perbuatan hari ini.

“Di keluarga ini,” tutur Kopong yang merupakan guru Bujang dalam ilmu pukul menjelang ajalnya, “seluruh masa lalu, hari ini, dan masa depan akan selalu berkelindan, kait-mengait. Esok lusa kau akan lebih memahaminya.” (halaman 315)

Akan tetapi, semua orang punya masa lalu, dan itu bukan urusan siapa pun. Urus saja masa lalu masing-masing. (halaman 101)

Pulang hendak mengingatkan pembacanya agar tidak terlalu sibuk mengurusi keburukan orang lain yang berakibat pada kealpaannya dalam memperbaiki diri. Hendaknya memaklumi masa lalu orang lain, sebab semua orang pun punya masa lalu, apalagi jika orang tersebut memiliki kemauan yang tinggi untuk berubah.

Tiada Makna Seindah Pulang

Pulang itu kemestian. Semua kita akan pulang. Dengan sukarela atau terpaksa. Pulang kepada asal. Pulang kepada prinsip. Pulang pada asal penciptaan diri.

Dan seseorang hanya akan bisa pulang dengan baik bukan karena mengalahkan banyak orang di luar dirinya. Seseorang benar-benar akan pulang dengan optimal saat ia berhasil meneladani wejangan Guru Bushi yang mengajarkan ilmu samurai kepada Bujang, “Kau harus mengalahkan banyak hal. Bukan musuhmu, tapi diri sendiri, menaklukan monster yang ada di dalam dirimu. Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang, dalam pertempuran lainnya akan mudah saja.” (Halaman 219 dan 387)

Akhirnya…

Pulang amat direkomendasikan bagi mereka yang mendambakan pulang dengan senyum kemenangan, segelap apa pun masa lalunya. Pulang juga layak dicermati oleh siapa pun yang merasa tidak pernah hidup dalam gelap dunia, sebab merasa benar itulah kesalahannya.

Pulang adalah perjalanan yang paling menyenangkan. [Pirman/BersamaDakwah]

Detail Buku:

Judul       : Pulang

Penulis     : Tere Liye

Penerbit   : Republika Penerbit – Jakarta

Cetakan   : X; Desember 2015

Tebal      : 400 halaman

ISBN      : 978-602-0822-12-9

Komentar