Home Suplemen Opini Riwayat Bani Serbet

Riwayat Bani Serbet

3045
0
id.aliexpress

“Kaum bani serbet makin panik. Kekalahan di depan mata. Lapor sana lapor sini. Maling teriak maling. Usut transjkt, sumber waras n reklamasi!”

Kalimat tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon melalui kicauan di Twitter pada 10 Maret 2017.

Bani Serbet? Siapakah yang dimaksud?

Istilah yang dimaksud oleh Fadli Zon merujuk pada warna baju yang dikenakan oleh para pendukung pelaku penista agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Baju yang dikenakan mirip dengan serbet karena bercorak kotak-kotak.

Bani Serbet juga dikenal dengan Bani Taplak karena memang serupa taplak meja. Merasa diberi “perhatian lebih”, para pendukung Ahok alias Ahokers pun bereaksi. Mereka mulai mempopulerkan tagar #BaniTaplak pada awal Maret kemarin.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia versi daring bani/ba·ni/ n anak; anak cucu; keturunan: — Adam, seluruh umat manusia. Jika diartikan, Bani Serbet memiliki arti anak keturunan serbet. Tentu tidak mathuk, tidak match. Tapi di dunia maya sudah dianggap biasa dan sudah lumrah menjadi bahan olokan.

Di dalam literatur Islam juga dikenal penyebutan Bani, seperti Bani Adam, Bani Umayyah, Bani Israel dan lainnya. Istilah Bani Israil sendiri disebut 41 kali pada 16 surah di dalam Al-Qur’an. Masing-masing diantara adalah surah Al-Baqarah dan Al-Ma’idah, nama Bani Israel disebut sebanyak 6 kali, sementara dalam Surah Al-A’raf, Al-Isra dan Asy-Syu’ara disebut sebanyak 4 kali.

Apakah Bani Serbet juga disebutkan pula di dalam Al-Qurán? Tentu tidak akan kita temukan sampai dunia ini berakhir.

Sekilas memang tidak layak untuk memberikan olok yang tak elok sekalipun kepada pendukung Ahok. Serbet itu memiliki fungsi untuk mengelap yang kotor agar bersih, bukan mengotori yang bersih. Tapi tunggu dulu, beberapa kicauan pendukungnya perlu bahan pertimbangan dalam menyimpulkan.

Goenawan Mohamad misalnya. Pesohor majalah Tempo itu menyebutkan bahwa Nenek Hindun yang wafat tak disholatkan warga setempat.

“Alm. Ibu Hindun, wafat dan jenazahnya ditolak disholati di Setiabudi, Jkt, karena ia pendukung Ahok,” kata pendukung Ahok itu pada 10 Maret 2017.

Pada kenyataannya berbeda. Neneng, anak Hindun, menyebut warga justru mengurus ramai-ramai jenazah hingga ke pemakaman. Jenazah yang tak dibawa ke musola disebabkan ketika itu cuaca sedang hujan yang tak memungkinkan jenazah disholatkan di musola. Akhirnya warga berdatangan mensholatkan di rumah Hindun.

Kicauan lain dari pendukung Ahok seperti ini, “Ikut Allah saja. Allah memilih nabi dr berbagai agama dan suku bangsa,” kata pendukung Ahok bernama Veronika Peni asih.

Di titik ini, perlukah ada redefinisi Bani Serbet? [Paramuda/BersamaDakwah]

SHARE