Home Kisah-Sejarah Kisah Nyata Rohim “Master”, Penakluk Dunia Pendidikan Anak-Anak Marjinal

Rohim “Master”, Penakluk Dunia Pendidikan Anak-Anak Marjinal

1459
0

Delapan anak dengan pakaian bebas berdiri membentuk lingkaran. Mereka gambreng di lapangan bertanah coklat. Satu anak berbaju kotak-kotak ditoyor teman-temannya yang postur tubuhnya lebih kecil dari teman lainnya. Dia dianggap curang. Itu tak berlangsung lama dan mereka pun mulai melemparkan bola sepak. Menikmati waktu rehat kelas.

Edrian, yang sedang menjaga gawang sangat menikmati di lingkungan barunya. Bocah kelas lima sekolah dasar ini belum genap setahun menjadi penghuni Sekolah Master. “Suka aja di sini. Temannya banyak,” katanya yang baru pindahan dari Padang ke Depok, Jawa Barat. Rambutnya memirang karena ulah matahari.

Lain dengan Edrian, Nia (13) yang sedang di teras masjid karena alasan biaya. “Gratis di sini dibanding sekolah lain,” ujarnya yang duduk bershaf dengan seangkatannya. Sambil mengunyah seblak di plastik, ia menjelaskan sekolahnya memberlakukan cukup ketat soal kehadiran. Jika yang sering bolos akan masuk daftar coretan guru dan tidak bisa sekolah lagi. Yang terlambat akan mengikuti kegiatan belajar di teras kelas. Bagi siswa muslimah harus pakai kerudung panjang dan pakai kaos kaki. “Jika tidak akan diminta pakai mukena seharian he-he-he,” katanya.

Sekolah yang terletak di Terminal Depok dan dikelilingi pusat perbelanjaan itu memang dipadati oleh beragam latar belakang. Mayoritas dari anak-anak marjinal.

Pendiri Sekolah Master Depok, Nur Rohim menilai mereka adalah korban dari ketidakberdayaan keluarga. Apalagi dalam pemenuhan pendidikan, sandang, papan dan kesehatan. Pemahaman pendidikannya sangat minim dan akses untuk mendapatkan pendidikannya sangat sulit. “Ini saya melihat kemiskinan yang sangat struktural, bukan kultural. Mereka adalah korban sistem dan kebijakan,” kata Rohim di Sekolah Master, Rabu (26/4/2017).

Nasib anak-anak yang bekerja menjadi pengasong, pengamen, pencopet dan anak-anak marjinal lainnya yang tidak pendidikan formal tidak berpihak kepada mereka membuatnya gregetan. Karena keprihatinannya itu, ia memwakafkan dirinya dan kios miliknya untuk membina anak-anak itu agar memiliki masa depan yang lebih baik, memiliki ahlak yang baik dan kecerdasan yang terbangun.

Rohim pun menginisiasi mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bina Insan Mandiri. “Master itu nama pemberian dari mereka. Anak-anak itu yang ngasih agar enak didengar dan tidak kalah dengan sekolah formal lain,” katanya. Master adalah akronim dari Masjid Terminal. Dari masjid terminal Depok itu awal Rohim membina anak-anak jalanan. Ketika itu ia mulai merintis tahun 2000 dan tahun selanjutnya yakni 2002 hingga 2003 baru mendapatkan status sebagai sekolah persamaan.

Rohim menampung dari satu orang dahulu lalu yang lain pelan-pelan ikut dan direkrut. Hasil dari lapangan, ia melihat mereka itu ke jalan karena terpaksa. Dari terpaksa akhirnya menjadi penghidupan sehari-hari. “Sebenarnya mereka rindu tempat untuk berteduh dan mengayomi, memiliki orangtua pengganti,” katanya.

Ia pun diskusi dengan kementerian, perguruan tinggi terkait. Ngomongin anak-anak pasti ngomongin pendidikan, kesehatan , jadi tugas kementerian pendidikan, kementerian sosial harus punya peran dan kontribusinya nyata yang harus diberikan pada anak-anak ini.

Master ini, katanya, menjembatani, memberikan pendampingan, mengadvokasi, bagaimana hak-hak dasar mereka terpenuhi sebagai anak negara. Banyak dari mereka yang tidak memiliki identitas, mereka takut dengan ribetnya birokrasi. Sehingga yang menjadi korban adalah anak-anak dari para orangtua yang nikah siri, sehingga anak tidak punya akte kelahiran dan sebagainya. Sementara sekolah-sekolah formal yang diminta selalu akte kelahiran. Kalau ada KIP, KIS, Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, BLT, mereka sering tidak dapat. Padahal mereka orang miskin, tapi seperti imigran gelap, menjadi orang asing di negerinya sendiri. Ini aneh. Dari yang kwaci saja, hak-hak sipil. Mereka sudah berinisiatif tapi mengurusnya tidak mudah.

Ketika ada orang dermawan ingin membantu pendidikan, terbentur dengan persoalan administrasi kependudukan. “Artinya begini, sekolah tidak bisa diseragamkan semua. Harus ada bentuk-bentuk model PKLK (pendidikan khusus layanan khusus) yang sifatnya formal dan non-formal tetapi berijazah formal. Artinya ada standardisasi, kompetensi, memiliki ijazah yang disamakan, seperti paket A, paket B, paket C,” kata dia.

Ia mengetahui benar problemnya maka menggagas sekolah Master karena terobosan seperti itu belum ada. Menurutnya harus dikembangkan dan harus semakin banyak. “Alhamdulillah sekarang sudah mulai dikembangkan. Maksud saya biar banyak model seperti ini di kota-kota besar di Indonesia,” ungkapnya.

Banyak permintaan dari para mahasiswa dari berbagai kota di Indonesia untuk membikin serupa di kota lain. Ini hal sederhana, yang dimulai dari political will atau inisiasi dari pemangku kebijakan (stakeholder).Inilah pentingnya mengantarkan orang sholeh menjadi pemimpin sehingga ketika ada masalah akan diselesaikan dengan cepat.

Pendidikan itu, nilai dia, tidak bisa ditunda. Sebagaimana kebutuhan sandang, pangan, papan dan kesehatan. Pendidikan ini lebih urgen dari kebutuhan sekadar kebutuhan fisik. Harus jadi program jangka pendek, bukan jangka menengah dan panjang. Artinya belajar bisa di masjid, di rumah-rumah ibadah, bisa dimanapun berada. Tidak harus sekolah formal dan memiliki gedung. Gurunya tidak harus lulusan perguruan tinggi semua.

“Ciri orang cerdas itu bukan ributan masalah. Tapi mencari solusi masalah. Dan jadikan itu masalah kita semua. Jika tidak mengantisipasi pendidikan ini, akan menjadi bencana sosial,” kata nominee PKS Award 2017.

Ia biasanya duduk bareng dan gotong royong menemukan potensi masing-masing. Potensi apa yang bisa dielaborasikan sehingga terbentuk gerakan sosial bersama, kebangkitan umat dan lebih berdaya. Awal dari gregetan itulah membikin sekolah Master. Jika menunggu pemerintah bisa sampai lebaran kodok baru terwujud. Jadikan ini sebagai amal sholeh. Sayang jika dimanfaatkan untuk mengkritik. Banyak kesuksesan kita datang dari doa-doa mereka.

“Ajaran-ajaran ulama dan umaro terdahulu ya seperti ini. Orang-orang seperti ini harus menjadi prioritas. Mengelola badan amal zakat dan wakaf salah satunya untuk mereka. Di mana para mustahiq ini 10 tahun mendatang sudah menjadi muzakki dengan melalui wakaf produktif.”

Amar makrufnya bagus dan negara bisa memproteksi bagaimana kehancuran negeri agar tidak terjadi dengan membuat aturan yang jelas. Pentingnya orang baik dan sholeh itu paham mana yang harus dilindungi dan mana yang harus dikeluarkan kebijakannya. Anak-anak harus terlindungi dengan baik.

Kendala Rohim sendiri menangani Master adalah masalah birokrasi di awal. Kerja sosial hambatannya secara ekternal-internalnya itu jarang yang istiqomah di jalan ini. Muncul tenggelam dan berguguran di tengah perjuangan. Ibarat perang, tensinya mood-moodan. Sekadar iseng-iseng atau sisa waktu saja. Banyak relawan yang seperti jaelangkung. Datang nggak diundang, perginya nggak dianter. Ngilang begitu saja. Ibarat busi itu idealnya bareng semua. Anak makin banyak tapi SDM berkurang.

Yang kedua, banyak anak miskin yang belum terpenuhi hak-haknya. Di Master tidak hanya melayani pendidikan akan tetapi juga merangkap konsultan. “Dari urusan alam rahim hingga alam barzakh. Ada yang kebingungan ngelahirin datangnya ke sini. Keluarga ada yang meninggal dan kesulitan mau nguburin, datangnya ke sini. Jadi operasionalnya memang harus banyak banget. Untungnya kita terbiasa kerja tidak dengan uang dulu. Bismillah, ada nggak ada tetap jalan. ‘Ntar saweran, pahitnya yang ngutang dulu bayarnya kapan,” ungkapnya.

Tidak terencana seperti di kantoran yang anggarannya harus tersusun dulu baru bisa kerja. Kalau Master justru sebaliknya, kerja dulu, anggaran urusan belakangan. Pokoknya Allah saja yang aturlah. Jadi, tawakalnya harus tinggi sekali. Modalnya harus diperkuat dengan DUIT (Doa, Usaha, Iman dan Tawakal). “Bismillah kerjanya sama Allah. Kesadaran penuh. Tidak ada nyuruh-nyuruh atau nyuri-nyuri. Sudah punya kesadaran sudah bagus.” katanya, sambil menatap di masjid yang sedang terdengar murajaah Alquran anak-anak didiknya.

Ia menambahkan bahwa kendala lain adalah anak-anak yang bermasalah dengan hukum, yang terjerat dalam jaringan narkoba dan terjangkit virus HIV serta anak-anak yang masuk lingkaran pergaulan seks sesama jenis seperti sodom, lesbian dan gay. Kalau digabung takut menular dengan yang lain, kalau dibiarkan mereka butuh orang yang peduli. Pendekatannya menurutnya seperti menghadapi orang sakit. Dengan mendekati dan silaturahim. Tidak bisa dengan mencaci maki, mencela dan menyalahkan. Tidak bisa menghakimi seperti itu. Dalam kondisi normal saja, kata dia, tidak mau menghakimi anak dengan nilai. “Ini yang agak sulit. Tapi harus menjadi bahan evaluasi dan pemetaan. Anak jangan jadikan sasaran amarah jika ada yang tidak sehat, melainkan instropeksi di kita. Apakah sistem yang diberikan sudah baik atau belum?!” ujarnya.

Sekolah Master diakuinya dari banyak latar belakang agama yang berbeda. Dari mulai Budha, Kristen dan Islam. Ia menyebut Master sebagai miniatur keberagaman Indonesia yang bisa tetap akur dan berjalan beriringan.

Rohim mengisahkan satu diantara beberapa anak binaannya. Anak tersebut punya kebutuhan khusus. Ayah anak tersebut menduduki jabatan berkelas di perusahaan vendor telekomunikasi. Anak itu sengaja tidak disekolahkan ke Sekolah Luar Biasa oleh ayahnya karena dinilai akan menghambat perkembangannya.

Awal masuk Master, anak itu suka memeluk siswa perempuan dari belakang karena yang ia lihat di tempat tinggal dulu seperti itu. Tempat tinggalnya objek wisata yang mendatangkan banyak turis asing. Praktis anak perempuan teriak. Namun lambat laun berubah karena ternyata terhadap perempuan tidak boleh sembarangan begitu. “Anak itu hafal 10 surat Alquran. Karena sering dengar teman-temannya menghafal. Namun hingga saat ini tetap ia beragama Hindu,” seloroh Rohim.

Dengan segala keterbatasan tersebut ia tetap bertahan karena termotivasi dengan pejuang di Palestina yang dengan perlengkapan seadanya bisa tetap berjuang. “Masih syukur Allah berikan, sehingga banyak orang shaleh yang mau berdatangan ke sini. Pembebasan lahan, perusahaan yang ikut bangunin kelas gitu. Nggak ada anggaran rutin berapa dan berapa, nggak ada. Apalagi sekolah ini (biaya) gratis semua,” kata pengampu empat rumah tahfizh dan dua pesantren itu.

Banyak sekolah-sekolah formal yang menyangka Master adalah kumpulan orang-orang kaya. Dinas pendidikan juga masih memungut sejumlah Rp300 ribu per bulan. Padahal Master menerapkan kemitraan, tidak sibuk menumpuk proposal untuk menghimpun dana (fundraising). “Jika ada yang minta baru kita bikinkan. Sedari awal tidak niat menyuruh orang ke mana-mana untuk fundraising.”

Kegiatan yang seabrek-abrek, rencangan anggaran belanja (RAB) menggunakan uang Jepang alias Yen. “Yen ono yo dibayar. Yen ono yo dikasih, yen ora ono yo terima kasih,” kelakarnya menggunakan bahasa Jawa yang artinya jika ada ya dibayar, jika ada ya dikasih, jika tidak ada ya ‘terima kasih’.

Relawan yang tidak kuat niat akan menggerutu sendiri karena belum mengenal Master. Mereka tidak akan betah mengurusi, istilah Rohim, anak-anak kucing garong. Mereka akan sulit berdamai dengan diri sendiri jika masih berpikir kirain dibayar, kirain ada uang transportasi, kirain donaturnya banyak. “Tidak ada donatur tetap. Untuk relawan tidak ada merekrut khusus karena kami nggak punya anggaran sekian-sekian untuk menggajinya. Jadi relawan harus menghadirkan hati dengan berempati,” ujarnya yang bermitra dengan perguruan tinggi dalam program pengabdian masyarakat bagi mahasiswa. Bersinergi.

Rohim tak pernah khawatir akan relawan yang sepi. Sebab ia hakulyakin Allah memiliki rencana-rencana yang indah apalagi untuk hamba yang memperjuangkan agamanya. Ia menyebut sistem manajemen berkah. “Allah tidak akan membiarkan umatnya terlantar dan berjuang dengan ikhlas,apalagi yang ingin memancarkan cahaya iman dan cahaya Islam. Saya selalu yakin, pasti Allah akan datangkan orang-orang baik yang peduli dengan kegiatan seperti ini. Hati mereka digerakkan oleh Allah SWT atas dasar keikhlasan,” tutur pria 45 tahun itu.

Kendala dan lelah itu pupus seketika saat ia melihat anak didiknya meraih keberhasilan. Tak ayal banyak anak didiknya yang tembus ke PTN seperti Universitas Indonesia bahkan kuliah luar negeri gratis seperti di New Castle, Rusia maupun di Madinah. Lebih dari itu, lelah itu lindap saat anak-anak jalanan itu mampu melawan kekalahan diri. [Paramuda/BersamaDakwah]