Home Ilmu Islam Fiqih Shalat Sunnah Tahiyyatul Masjid di Selain Masjid Wakaf, Apa Hukumnya? (Bagian 2)

Shalat Sunnah Tahiyyatul Masjid di Selain Masjid Wakaf, Apa Hukumnya? (Bagian 2)

569
0
shalat (darussalam foto)

Lanjutan dari Shalat Sunnah Tahiyyatul Masjid di Selain Masjid Wakaf, Apa Hukumnya?

Menurut madzhab Maliki, bangunan yang digunakan untuk melaksanakan shalat walaupun bukan masjid wakaf, maka hukumnya sama dengan masjid wakaf. An-Nafrawi dalam kitab Al-Fawakih Ad-Dawani ketika menanggapi kitab Ar-Risalah, mengatakan,

“Siapa saja yang memasuki masjid dalam keadaan berwudhu maka janganlah dia duduk sebelum mengerjakan shalat sunnah (tahiyyatul masjid) sebanyak dua rakaat. Apakah hal ini bersifat umum sehingga mencakup masjid-masjid yang berada di kompleks perumahan atau hanya masjid wakaf?

Saya katakan, hukum tersebut mencakup semua bangunan yang dinamai dengan masjid.”

Sementara itu, menurut madzhab Syafi’i, syarat sahnya shalat tahiyyatul masjid adalah jika dilaksanakan pada masjid wakaf dan tanah tempat bangunannya juga tanah wakaf.

Namun, jika tanah tersebut dimiliki oleh pihak-pihak tertentu atau disewa, maka tanah itu bukan tanah wakaf, namun bangunan yang berdiri di tanah tersebut bisa dijadikan wakaf. Sehingga, boleh melaksanakan shalat tahiyyatul masjid di sana.

Dalam kitab Futuhat Al-Wahhab yang bermadzhab syafi’i disebutkan, bangunan yang berada di kawasan bebas dari bangunan, tidak bisa disebut masjid, seperti di pinggir sungai. Namun, bangunan di kawasan yang boleh untuk mendirikan bangunan, maka boleh diwakafkan sebagai masjid sekalipun akad awalnya untuk disewa. Dengan demikian, di tempat itu tetap boleh melaksanakan shalat tahiyyatul masjid.

Selanjutnya, apakah boleh dilaksanakan i’tikaf di dalam masjid tersebut?

Jumhur (mayoritas) ulama sepakat bahwa masjid jami’ (masjid yang di dalamnya ditegakkan shalat jum’at) boleh digunakan untuk beri’tikaf.

Para ulama berbeda pendapat terkait masjid yang di dalamnya tidak dilaksanakan shalat jum’at. Menurut pendapat yang rajih (kuat), di masjid manapun i’tikaf boleh dilaksanakan, selama shalat berjamaah didirikan di dalamnya.

Pendapat ini juga diutarakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan ditegaskan oleh Ibnu Qudamah dari kalangan madzhab Hanbali. Wallahu A’lam.

Bagi umat Islam yang memahami agama dengan baik, tentu perbedaan dalam masalah fikih tidak membuat perpecahan selama pendapat yang disampaikan berlandaskan dalil yang shahih. Semoga bermanfaat.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]