Home Ilmu Islam Al Quran Sindiran Ngeri dalam Al-Qur’an untuk Pembela Penista Agama

Sindiran Ngeri dalam Al-Qur’an untuk Pembela Penista Agama

4810
0
plus.google.com

Pembelaan terhadap pejawat gubernur Ibu Kota terus menggaung dan menjadi-jadi. Para pembela penista agama akan melakukan apa saja agar junjungannya tidak ditahan atau tidak dibully. Anehnya diantara mereka ada yang beragama Islam. Lho, orang Islam kok mendukung orang yang menghina agamanya?

Allah memasangkan perangkap jujur dalam diri manusia. Tiap kali kita berbuat melenceng, perangkat itu akan mengingatkan, memberikan sinyal ‘itu tidak benar, sob’. Semakin diabaikan sinyal perangkat tersebut semakin tebal menutup perangkat.

Kalau ingin kamar mandi bersih itu digosek. Kalau ingin hati bersih, gosek itu timbal-timbal yang mengotori hati. Makin tebal kotoran, makin susah dibersihkan. Makin tebal kotoran, makin gelap, cahaya illahi akan susah tembus.

Dalam kitab suci pun, Allah menyindir mereka yang suka nyinyir dengan perjuangan umat Islam menuntut keadilan ditegakkan, yang mendustakan ayat-ayat Al-Qur’an. Allah menyindir dengan sindiran yang menohok.

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami, Kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau kami menghendaki, Sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia, dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS. al A’raf 175-176)

Dan di antara orang yang dibenci Allah Swt. adalah, Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang (QS. At-Taubah: 87)

Mengapa? Karena mereka membuang jauh-jauh cita-cita tertinggi  yaitu dekat dengan Allah Swt dan enggan turut berjuang di jalan Allah.

FirmanNya,

“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (QS. At-Taubah: 46)