Home Kisah-Sejarah Kisah Sahabat Tak Hiraukan Seruan Jihad, Ini yang Dialami Sahabat Rasulullah

Tak Hiraukan Seruan Jihad, Ini yang Dialami Sahabat Rasulullah

648
0

Adalah seorang sahabat bernama Ka’ab bin Malik. Dia salah seorang sahabat yang tidak pernah absen pada setiap peperangan bersama Rasulullah SAW, kecuali dalam peperangan yang justru telah terencana ini. Kala orang-orang menuju Tabuk, kala seluruh kaum muslimin menyambut seruan mulia ini, Ka’ab bin Malik tertinggal karena kemalasannya sendiri.


“Ketidakikutsertann-ku dalam perang Tabuk itu memang kelalaianku sendiri karena urusan dunia,” ujarnya. “Padahal ketika itu keadaan ekonomiku jauh lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Demi Allah, aku tidak pernah memiliki barang dagangan lebih dari dua muatan unta. Akan tetapi pada waktu peperangan itu aku memilikinya,” terangnya.


Ka’ab bin Malik bercerita :


Rasulullah SAW mempersiapkan pasukan yang akan berangkat. Aku pun mempersiapkan diri untuk ikut serta. Namun tiba-tiba timbul pikiran ingin membatalkannya, lalu aku berkata dalam hati, ‘Aku bisa melakukannya kalau aku mau.!’
Akhirnya, aku terhanyut oleh berbagai niatan yang berujung pada satu keragu-raguan. Hingga aku melihat para pasukan kaum muslimin mulai meninggalkan Madinah. Timbul niatku untuk mengejar mereka, toh mereka belum jauh. Namun aku tidak melakukannya, rasa malas telah menghampiri bahkan menguasai diriku.


Tampaknya aku ditakdirkan untuk tidak ikut dalam peperangan itu. Akan tetapi, aku benar-benar merasakan penderitaan batin sejak Rasulullah SAW meninggalkan Madinah. Bila aku keluar rumah, aku seolah dikucilkan. Karena aku hanya melihat orang-orang yang diragukan keislamannya. Baik orang-orang yang sudah mendapat izin Allah karena uzur. Kalau tidak, mereka orang-orang munafik. Padahal, aku merasa aku tidak termasuk dalam keduanya.


Konon, Rasulullah SAW tidak pernah menyebut-nyebut namaku kecuali saat sampai ke Tabuk.


Setiba di sana, ketika beliau sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya, beliau bertanya, “Apa yang dilakukan Ka’ab bin Malik.?”


Seorang dari Bani Salamah menjawab, “Ya Rasulullah, ia ujub pada keadaan dan dirinya.!”


Mu’az bin Jabal menyangkal, “Buruk benar ucapanmu itu.! Demi Allah, wahai Rasulullah, aku tidak pernah mengerti melainkan kebaikannya saja.!” Rasulullah SAW pun hanya terdiam.


Waktu pun berlalu. Aku mendengar Rasulullah SAW hendak kembali dari kancah Tabuk. Pikiranku sibuk dengan berbagai alasan palsu untuk diajukan ke hadapan Rasulullah SAW. Aku terus bertanya pada diriku sendiri, bagaimana caranya supaya tidak terkena marahnya.


Aku pun meminta pendapat dari beberapa anggota keluargaku yang terkenal berpikiran bijak. Akan tetapi, ketika aku mendengar Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, lenyaplah semua pikiran jahat itu. Aku merasa yakin, aku tidak akan pernah mampu menyelamatkan diri dengan kebatilan. Sama sekali. Maka aku bertekad akan menemui Rasulullah SAW dan mengatakan yang sebenarnya.

(Yakhsyaaa/BersamaDakwah)

Dikutip dari buku: Ayat-Ayat Pedang-Kisah Kisah Pembangun Semangat Juang

Berlanjut ke: Tak Hiraukan Seruan Jihad, Ini yang Dialami Sahabat Rasulullah (2)