Home Kisah-Sejarah Sirah Nabawiyah Terpelanting dari Kuda Karena Berniat Menjahili Rasulullah SAW

Terpelanting dari Kuda Karena Berniat Menjahili Rasulullah SAW

2964
0
Unsplash

Pada suatu hari,  ketika kelompok orang dari Bani Madlaj berkumpul,  hadirlah seorang laki-laki bernama Suraqah ibn Ja’tsam. Seseorang berkata di hadapan majelis itu,  “Sesungguhnya aku baru saja melihat titik hitam di dekat pesisir yang sepertinya adalah Muhammad dan temannya.”

Mendengar itu,  Suraqah pun langsung menyadari bahwa titik hitam dilihat orang tersebut adalah Muhammad Saw dan Abu Bakar As-Sidiq. Namun, agar semua yang hadir di sana enggan melakukan pengejaran,  Suraqah berkata, “Sesungguhnya yang kau lihat itu adalah si Fulan dan si Fulan. Kami tahu,  mereka pergi untuk mencari barang mereka yang hilang.” Setelah berkata demikian,  Suraqah pun duduk sejenak di tengah majelis,  kemudian pergi meninggalkan tempat itu dengan mengendarai kuda.

Singkat cerita,  akhirnya Suraqah berhasil mendekati Rasulullah Saw dan Abu Bakar r.a. Akan tetapi,  ketika Suraqah hampir sampai di tempat Rasulullah Saw.,  mendadak kuda yang tersandung. Suraqah terpelanting. Ia pun segera naik lagi ke punggung kudanya untuk melakukan pengejaran.

Suraqah melesat dengan kudanya. Akhirnya,  ia berhasil mendekati Rasulullah Saw. Bahkan,  karena sedemikian dekat,  Suraqah dapat mendengar bacaan yang dirapalkan Rasulullah Saw yang tidak sedikit pun menoleh ke arahnya. Tidak seperti Abu Bakar ra. yang berkali-kali menoleh ke arah Suraqah karena khawatir si musyrik itu berhasil menangkap mereka.

Mendadak,  ketika Suraqah memacu keras lari kudanya mengejar Rasulullah Saw. dan Abu Bakar ra., mendadak kedua kaki kudanya terperosok ke dalam pasir hingga sebatas lutut. Tubuh Suraqah kembali terpelanting untuk kedua kali. Suraqah segera bangkit dan berusaha mengeluarkan kedua kaki kudanya. Sebelum berhasil, ia melihat kepulan debu dari arah yang dituju Rasulullah Saw. Debu-debu itu membumbung tinggi seperti mega yang berarak. Seketika itu juga,  Suraqah menyadari bahwa ia tak kan mungkin dapat menangkap Rasulullah Saw. dan Abu Bakar ra. Bukan main takutnya Suraqah pada saat itu karena ia tahu,  kepulan debu yang dilihat itu adalah pasukan yang akan menjemput Rasulullah Saw. Oleh sebab itulah, Suraqah segera mohon ampun.

Singkat cerita,  setelah Rasulullah Saw. dan para sahabat berhenti, Suraqah segera menghampiri mereka.  Di hadapan Rasulullah Saw., ia sekali lagi menyatakan permintaan maaf seraya menawarkan beberapa barang bawaan dan bekal yang ia bawa kepada Rasulullah Saw. Rasulullah dan Abu Bakar berkata, “Kami tidak membutuhkan itu. Lebih baik kau rahasiakan saja berita tentang kami dari khalayak.”

Suraqah menjawab, “Akan kupenuhi permintaan kalian itu.”

Suraqah pun kembali ke Mekkah. Ia menghalangi dan memalingkan orang-orang musyrik dari mengejar Rasulullah Saw. dan para sahabat.

Demikianlah,  pagi hari Suraqah berangkat untuk mengejar dan membunuh Rasulullah dan Abu Bakar,  akan tetapi pada petang hari ia kembali pulang dan berusaha melindungi mereka. [Paramuda/ BersamaDakwah]

 

Komentar