Home Suplemen Motivasi Tidak Sekadar Sukses

Tidak Sekadar Sukses

804
1
ilustrasi @play.tojsiab

Sukses menurut anggapan kebanyakan orang adalah ketika seseorang telah mendapatkan apa yang dicita-citakannya. Benarkah demikian? Apakah kesuksesan sejati hanya dengan parameter keberhasilan seseorang mencapai apa yang ia harapkan?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, mari kita renungkan fenomena yang kadung terjadi di sekitar kita.

Tidak sedikit fenomena-fenomena tersebut terjadi di masyarakat kita. lulusan PTN terkenal dan berprestasi secara akademik, tapi ternyata masuk penjara karena pesta sabu-sabu. Seorang siswa yang berprestasi dan pernah menjadi juara olimpiade tingkat nasional kedapatan melakukan asusila setelah video mesumnya menyebar kemana-mana. Pemimpin dengan jabatan yang mentereng ternyata dibenci oleh bawahannya karena sikapnya yang arogan dan tidak pernah menghargai bawahannya.

Selain fenomena itu, kita juga bisa menengok sejarah untuk membuat kesimpulan, bahwa kesuksesan tidak bisa diukur dengan berbagai atribut dan materi duniawi, tidak juga dengan kecerdasan dan IQ yang tinggi.

Lihatlah bagaimana kesudahan raja Ramses II atau yang lebih dikenal dengan sebutan Fir’aun–sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur’an. Walaupun memiliki kekuasaan yang sangat besar dan masyarakat yang patuh, tapi dirinya terhinakan karena menolak kebenaran.

Contoh lainnya adalah Qarun, seorang yang asalnya saleh dan hamba Allah yang tawadhu’ menjadi takabur setelah dianugerahi harta yang melimpah.

Lalu dalam pentas sejarah dunia, kita bisa mencontoh bagaimana seorang Karl Marx. Konon katanya, dia adalah pemikir yang jenius dengan konsep-konsep yang disodorkannya. Banyak orang yang menuhankan ajarannya. Das Capitalnya booming di kalangan orang-orang atheis. Tapi rupanya, lebih banyak yang membenci dan mencaci makinya.

Ada juga sosok Hitler yang piawai dalam memimpin dan mempengaruhi masa. Ia pernah mendirikan imperium komunis besar pada masanya. Tapi di balik semua itu, tak sedikit orang yang merasa tertekan di bawah kekuasaannya. Setelah tumbangnya kekuasaannya, Hitler menorehkan sejarah kelam. Alih-alih dikenang kejayaannya, ia hanya diingat kekejamannya dalam memaksakan ideologi yang ia yakini kebenarannya.

Jadi, kesuksesan digapai ketika seseorang bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, tapi tidak keluar dari koridor kebenaran; ketika kita memperoleh apa yang diharapkan tapi tidak merugikan pihak lain, dan tidak memaksakan kehendak kita sendiri. [Husni Mubarok/Bersamadakwah]

Editor: Pirman Bahagia

Komentar