Home Tazkiyah Adab Tiga Penyakit yang Bisa Melemahkan Juru Dakwah

Tiga Penyakit yang Bisa Melemahkan Juru Dakwah

1810
0
Aktivis dakwah harus bisa memberikan warna, bukan terwarnai. Ilustrasi: pexels

Menjadi penyampai kebenaran itu tidak mudah. Akan ada selalu cap-cap yang ditempelkan kepadanya, seperti radikalis, pemilik surga dan lain sebagainya. Juru dakwah memang harus hati-hati dengan penyakit jiwa yang dapat menjadi penghalang besar dalam menyampaikan kebenaran.

1. Tergesa-gesa

Tergesa-gesa tercermin dari sikapnya saat keinginannya lambat terpenuhi. Dia akan habis kesabaran, dadanya terasa sempit dan lupa pada Allah Swt. yang telah membuat aturan-aturan yang tak akan pernah berubah.

Segala sesuatu akan tiba masanya. Buah-buahan akan tiba masa matangnya dan saat akan panen akan berhasil dengan baik. Ketergesaan tidak akan membuat ‘buah matang’ sebelumn waktunya. Manusia tidak memiliki kemampuan itu, begitu pula dengan buah. Ia akan tunduk pada aturan-aturan atau sunnatullah yang dijalankan sesuai dengan ukuran dan kadarnya.

Oleh sebab itu, Allah Swt. menurunkan wahyu kepada Rasulullah yang berbunyi,

Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik. (Al-Ahqaf 46:35)

Jadi, janganlah tergesa meminta azab karena untuk mereka tidak disiapkan.

2. Emosi

Para juru dakwah kadang suka emosi ketika melihat orang yang jadi objek dakwah cuek bebek dari ajakannya. Emosi akan mendorong dirinya berputus asa, padahal dia harus sabar menghadapi orang yang didakwahi, agar suatu hari nanti hatinya bisa terbuka.

Allah Swt. berfirman kepada Rasulullah Saw. dan para penggiat dakwah,

Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya). (Al-Qalam 68:48)

Penggiat dakwah memang harus hati-hati merespons agar tak jadi dai pemarah sebagaimana dikisahkan tentang Nabi Yunus sehingga haru menjalani cobaan yang diterimanya.

3. Putus harapan

Orang putus asa atau harapan artinya tidak sabar. Oleh sebab itu sesuatu yang mendorong seorang petani menghadapi susahnya menanam, mengaliri dengan air dan merawat tanamannya adalah keoptimisan ketika memanen.

Jika putus harapan menguasai rasa optimisme, tak bersisa lagi kesabaran untuk meneruskan pekerjaan. Itulah yang harus dilawan para pekerja yang bergumul di medan dakwah. Oleh sebab itu, Al-Qur’an ingin mengusir kebimbangan atau kecemasan yang ada dalam diri kaum mukim dan menebarkan benih-benih optimisme dalam hati mereka.

Allah Swt. berfirman,

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali ‘Imran 3:139)

Berharap hanya kepada Allah Swt. saja. Ini merupakan pertolongan besar untuk meraih kesabaran, agar tidak mudah putus asa.

Wallahua’lam. [Paramuda/BersamaDakwah]

SHARE