Home Pemuda Dakwah Kampus Tuan, Akulah Pemuda Itu!

Tuan, Akulah Pemuda Itu!

3573
2
Youtube

Di atas mimbar salah satu rumah Allah di dataran India, seorang lelaki tua dengan sorot tajam membelakangi arah kiblat, menghadap jamaah shalat Jumat ynag khusuk mendengarkan khotbahnya. Suaranya kadang tegas, kadang lantang menantang, kadang perlahan membuat dada bergetar dan kepala tertunduk.

Itulah ia mengeluarkan gundah-gulananya, mengeluhkan kondisi India yang semakin parah. Tak terhitung jumlah dan jenis kemaksiatan yang dipertontonkan para pelakunya. Pemandangan yang sangat jauh dari tuntunan Ilahi berserakan di mana-mana.

Pilu.

Dengan lirih ia melambungkan tanda tanya. Belum lahirkah di tanah ini seorang pemuda yang akan meneruskan perjuangan dakwahnya, padahal ia telah renta dan ajal sudah tersenyum-senyum menantinya?

Lelaki tua itu berkali-kali mengatakan betapa ia sangat mengharapkan munculnya pemuda yang peduli akan kondisi umatnya, mengajak mereka ke pangkuan syariat Islam dan menegakkan kalimat Allah di muka bumi.

Antara jamaah yang mendengarkan nasihat itu, tampak sepasang mata bugar tak berkedip memandang lelaki tua itu. Telinganya tajam menyimak keluhan hati sang Syaikh. Ia begitu terkesima.

Seusai sholat Jumat, ketika satu persatu jamaah masjid pulang ke rumah masing-masing, pemuda itu menghampiri sang Syaikh. Dengan penuh rasa takzim ia berkata mantap, “Ya Syaikh, sayalah pemuda itu!”

Ikrar diri yang digaungkan pemuda itu tidak main-main. Seketika sesudahnya, pemuda itu menghabiskan banyak waktunya banyak di perpustakaan selama lima tahun. Ia kumpulkan bekal sebanyak-banyaknya. Waktu demi waktunya tak ada yang ia biarkan sia-sia.

Akhirnya sejarahlah yang mencatatnya. Allah tidak menyiakan jerih payah hambaNya. Pemuda itu di kemudian hari mendirikan gerakan Islam yang sangat diperhitungkan. Siapakah pemuda tersebut?

Dialah Abul A’la Al Maududi, pendiri Jamaat Islami. Remaja yang ketika itu masih berusia lima belas tahun telah mengantongi segenap tekad kuat. Hanya dengan kalimat yang ia ikrarkan kepada sesepuhnya, “Akulah pemuda itu!”

Ia telah berikrar.

Ia benarkan ikrar itu pula. Ia telah membuktikan kata-katanya, hingga menjadi mujaddid dan mujahid dakwah sampai ketika senja menjemput usianya.

Kini, kita memerlukan sosok itu. Yang kata sesuai nyata.  Kita tak perlu menaruh harapan pada mereka yang berjas warna hebat, banyak nongkrong di tujuh sebelas,  yang baju kotornya ditaruh di binatu, kerjaannya selfie dan stalking foto IG mantan selalu. Kita tak butuh itu. Luka Indonesia tak butuh muka itu. Wallahua’lam.  [IG: @paramuda / BersamaDakwah]

2 KOMENTAR

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here