Home Tazkiyah Fadhilah Wahai Anak, Jangan Durhaka Pada Orang Tuamu (Bagian 2)

Wahai Anak, Jangan Durhaka Pada Orang Tuamu (Bagian 2)

433
0
ilustrasi ayah dan anak (mafamillemonchaos)

Lanjutan dari Wahai Anak, Jangan Durhaka Pada Orang Tuamu

Diriwayatkan dari Abu Ad-Darda` Radhiyallahu Anhu, bahwasanya seseorang datang kepadanya seraya berkata, “Aku mempunyai seorang istri dan ibuku menyuruhku untuk menceraikannya.”

Abu Ad-Darda` berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

اَلْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوْ احْفَظْهُ

Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kamu mau, abaikan pintu itu (dengan mendurhakai mereka) atau jagalah ia (dengan berbakti kepada mereka).” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

Di dalam hadits di atas, terdapat penjelasan bahwa durhaka kepada orang tua berarti menyia-nyiakan pintu surga yang paling tengah (paling utama), sedang berbakti kepada keduanya berarti menjaga pintu tersebut. Pintu paling tengah adalah pintu yang paling banyak mengandung kebaikan.

Orang yang menginginkan kebahagiaan tentu akan menjaganya, meski dengan mengorbankan kenyamanan dan kesenangannya. Orang yang menjual akhiratnya dengan dunianya, lebih mengutamakan kehidupan fana daripada kehidupan abadi, dan lebih mengedepankan kenikmatan sesaat, ia tidak akan peduli apakah pintu itu terjaga atau tersia-siakan.

Seorang perempuan muslimah yang takut kepada Allah Ta’ala, memiliki peran dalam membantu suami untuk berbakti kepada orang tua dan menghimpun pahala dalam amal ini.

Ia bisa mendorong suami untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya, dan memperhatikan kondisi serta usia mereka yang sudah lanjut. Salah satu bentuk sikap dan interaksi yang baik, adalah mencintai kedua orang tua, melayaninya, dan memperhatikan segala kebutuhannya.

Mujahid mengatakan,

“Tidak seyogianya seorang anak menangkis tangan ayahnya ketika ayah memukulnya. Anak yang memandang tajam kepada orang tua tidak dianggap berbakti kepadanya. Sedangkan anak yang membuat mereka berdua bersedih dianggap telah mendurhakai keduanya.”

Saudaraku, jauhilah sikap durhaka kepada orang tua. Diriwayatkan dari Abu Bakrah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ –ثَلاَثًا-

“Maukah aku beritahu kalian tentang dosa besar yang paling besar?” Beliau mengatakannya sebanyak tiga kali.

قَالُوْا بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ

Para shahabat menjawab, “Tentu kami mau wahai Rasulullah.”

قَالَ اْلإِشْرَاكُ بِاللهِ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَقَالَ أَلاَ وَقَوْلُ الزُّوْرِ قَالَ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا لَيْتَهُ سَكَتَ

Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Sebelumnya beliau bersandar lalu beliau duduk dan bersabda, “Ketahuilah, begitu juga dengan ucapan dusta.” Beliau terus mengulangnya hingga kami berkata, ‘Seandainya saja beliau diam.” (Al-Bukhari).

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Berlanjut ke Wahai Anak, Jangan Durhaka Pada Orang Tuamu (Bagian 3)

SHARE