Home Tazkiyah Fadhilah Wahai Anak, Jangan Durhaka Pada Orang Tuamu (Bagian 4)

Wahai Anak, Jangan Durhaka Pada Orang Tuamu (Bagian 4)

571
0
Ibu dan anak (muslimobserver)

Lanjutan dari Wahai Anak, Jangan Durhaka Pada Orang Tuamu (Bagian 3)

Saudaraku,

Kita tidak melihat seorang anak yang jatuh sakit karena kehilangan ayah atau ibunya. Kemudian renungkanlah kisah Ya’qub AlaihisSalam, ketika anaknya yang benama Yusuf menghilang, hal itu sangat berpengaruh kepada dirinya. Firman Allah Ta’ala,

وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ

“Dan kedua matanya menjadi putih karena sedih. Dia diam menahan amarah (terhadap anak-anaknya).” (QS. Yusuf: 84)

Di antara bentuk kedurhakaan yang banyak terjadi ialah melawan dan membuat sedih kedua orang tua, jarang menjenguk, tidak memperhatikan kondisi kesehatan dan keuangan. Begitu juga melakukan perbuatan mungkar dan mengabaikan ketaatan, tindakan ini sangat menyakitkan orang tua dan membuat sedih hatinya.

Yang juga terjadi pada sebagian orang ialah tidak menghormati orang tua, berdiri menyambutnya, mencium kepalanya, dan memenuhi permintaannya. Selanjutnya, adalah bangga diri, mereka malu menisbatkan nama kepada ayah mereka, apalagi bila mereka memiliki kedudukan sosial tinggi atau materi berkecukupan.

Seseorang datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam seraya berkata,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أَبُوكَ

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Beliau bersabda, “Ibumu.”

Ia bertanya, “Kemudian siapa?” Beliau bersabda, “Kemudian ibumu.”

Ia bertanya, “Kemudian siapa?” Beliau bersabda, “Kemudian ibumu.”

Ia bertanya, “Kemudian siapa?” Beliau bersabda, “Kemudian ayahmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ibnu Baththal berkata, “Seorang ibu memiliki tiga hal yang tidak dimiliki seorang ayah; kesulitan hamil, kesulitan melahirkan, dan kesulitan menyusui.”

Didahulukannya ibu atas ayah mempunyai hikmah agung, selain jerih payah yang dilakukan ibu yang melebihi jerih payah ayah, ibu juga membutuhkan orang yang mengasihi dan berbuat baik kepadanya, sebab fisiknya lemah dan tidak memiliki mata pencaharian.

Ia membutuhkan orang yang mengurusnya dengan penuh kasih sayang. Siapa lagi orang yang lebih berhak melakukannya kecuali anaknya sendiri? Semoga bermanfaat. Aamiin.

Sebagian tulisan ini dikutip dari artikel Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim dalam kitab Arba’una Darsan Liman Adraka Ramadhan.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]