Beranda Tazkiyah Adab Yang (Tidak) Diperbolehkan Selama Menjadi Mata-Mata dalam Perang

Yang (Tidak) Diperbolehkan Selama Menjadi Mata-Mata dalam Perang

0
Photo by Sergiu Nista on Unsplash

Mematai-matai orang lain untuk mencari aib memang tidak diperbolehkan dalam Islam. Tajassus istilahnya. Akan tetapi ada mata-mata yang diperbolehkan bahkan dianjurkan.

Dalam jihad fii sabilillah, seorang imam (pemimpin) diperbolehkan menggunakan jasa mata-mata agar pasukan Muslim dapat mengetahui gerakan, kondisi, dan kekuatan musuh, baik dari segi jumlah, personil, maupun persenjataan dan cadangan logistik.

Memata-matai itu juga boleh dilakukan dengan beragam teknik dan metode, dengan syarat tidak membahayakan kemaslahatan yang lebih penting dari kegiatan mata-mata itu sendiri. Bahkan, memata-matai juga boleh menggunakan tipu muslihat atau siasat. Semua itu memang diperbolehkan oleh syariat, karena kegiatan mata-mata dalam perang memang harus dilakukan demi menjaga kemaslahatan umat Islam secara keseluruhan.

Dalam berbagai literatur sirah dikatakan, ketika Rasulullah Saw. sampai di dekat Badar, beliau memacu kudanya bersama salah seorang sahabat. Tidak lama berselang, beliau tiba di hadapan seorang Arab yang telah lanjut usia. Kepada orang tua itu Rasulullah Saw. menanyakan tentang orang-orang Quraisy, juga tentang Muhammad dan para pengikutnya.

Orang tua itu berkata, “Aku tidak akan memberi tahu tentang itu sampai kalian memberi tahu aku dari kelompok siapa kalian berdua.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Jika engkau sudah ‘memberi tahu kami, barulah kami akan memberitahumu.”

Orang tua itu lalu berkata lagi, “Apakah itu dibalas dengan itu?”

Rasulullah Saw. menjawab, “Ya.”

Maka, orang tua itu pun memberi tahu Rasulullah Saw. segala hal yang ia ketahui tentang orang-orang musyrik. Selain itu, ia juga memberi tahu semua yang ia dengar tentang Rasulullah Saw. dan para sahabat. Selesai berbicara panjang lebar, orang tua itu bertanya, “Dari pihak siapa kalian berdua?”

Rasulullah Saw. menjawab, “Kami dari arah air (sumur)?”

Selanjutnya, Rasulullah Saw. pergi meninggalkan orang tua itu. Si orang tua kontan berseru, “Dari air yang mana? Apakah dari air Irak sana?”

Wallahua’lam. [@Paramuda/BersamaDakwah]

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.