Beranda Tazkiyah Tazkiyatun Nafs 3 Amal Paling Berat Menurut Imam Syafi’i (Bagian 2)

3 Amal Paling Berat Menurut Imam Syafi’i (Bagian 2)

1
ilustrasi (Yufidia.com)

Ada amal-amal tertentu yang lebih berat dibandingkan dengan amal lainnya. Karena melakukannya berat, insya Allah timbangannya di akhirat juga berat. Menurut Imam Syafi’i rahimahullah, ada tiga amal yang paling berat.

“Amal yang paling berat ada tiga,” kata Imam Syafi’i seperti dikutip Syaikh Tariq Suwaidan dalam Silsilah al-Aimmah al-Mushawwarah, “murah hati saat miskin, wara’ saat sendiri, dan mengucapkan kebenaran di hadapan orang yang ditakuti.”

Setelah membahas poin pertama, murah hati saat miskin, berikut ini amal yang kedua yakni wara’ saat sendiri.

2. Wara’ saat sendiri

Wara’ secara sederhana dapat didefinisikan sebagai sikap meninggalkan hal-hal yang haram dan syubhat. Secara lebih mendalam, wara’ bukan hanya meninggalkan hal-hal yang haram dan syubhat tetapi juga meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat serta hal-hal mubah yang berlebihan. Persis sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

”Diantara tanda kebaikan (kesempurnaan) Islam seseorang, ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya” (HR. Tirmidzi)

Meninggakan hal-hal yang haram adalah amal yang berat bagi banyak orang. Karenanya kita lihat ada orang-orang yang suka minum-minuman keras, berjudi, berzina dan sebagainya. Bahkan di antara mereka, ada yang melakukannya secara terang-terangan di depan banyak orang.

Meninggalkan hal-hal yang haram saat sendirian tentu lebih berat lagi. Karenanya ada orang yang kelihatan baik ketika di depan publik, tetapi diam-diam ia melakukan korupsi. Ada orang yang tampak mulia tetapi ia bermaksiat dalam kesendiriannya. Sungguh sangat tepat nasehat Bilal Sa’ad rahimahullah. Tabi’in yang wafat di Syam ini mengatakan,

لَا تَكُنْ وَلِيًّا لِلَّهِ تَعَالَى فِي العَلَانِيَةِ وَ عَدُوَّهُ فِي السِّرِّ

“Janganlah engkau (tampak) menjadi wali Allah Ta’ala di tengah keramaian, tetapi menjadi musuh-Nya ketika sendirian”

Menjauhi syubhat lebih berat lagi. Hal yang masih samar hukumnya, apakah ini halal atau tercampur dengan hal yang haram, menjadi lebih berat untuk ditinggalkan. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang mampu mempraktikkan wara’ dengan sempurna. Suatu hari ketika ia mendapat makanan dari seorang sahabat, ia memakannya. Setelah ingat, barulah ia bertanya dari mana makanan itu. Begitu sahabat tadi memberi tahu bahwa makanan tersebut pemberian orang yang dulu pernah diruqyahnya di masa jahiliyah, Abu Bakar langsung memasukkan jari-jari ke mulutnya dan memuntahkan semua makanan yang telah masuk ke perutnya. Sementara di zaman kita, seakan hilang kepedulian untuk bertanya uang ini dari mana, harta ini dari mana, makanan ini dari mana.

Apalagi menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat dan hal mubah yang berlebihan. Jauh lebih berat lagi. Sehingga tak salah jika Imam Syafi’i memasukkan wara’ saat sendiri merupakan salah satu amal yang paling berat. [Muchlisin BK/bersamadakwah]

bersambung ke bagian 3

mengucapkan kebenaran di depan orang yang ditakuti

BARU 1 KOMENTAR

  1. benar” amalan yang berat masya Alloh wa subhanallahiwalhamdulillahiwalaaailaaahailallohuallooohuakbar,.,. semoga diri ku bisa melaksanakannya Amiiiin.

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.