Beranda Tazkiyah Tazkiyatun Nafs 3 Amal Paling Berat Menurut Imam Syafi’i (Bagian 3)

3 Amal Paling Berat Menurut Imam Syafi’i (Bagian 3)

1
ilustrasi jalan dakwah (twitter.com)

Ada amal-amal tertentu yang lebih berat dibandingkan dengan amal lainnya. Karena melakukannya berat, insya Allah timbangannya di akhirat juga berat. Menurut Imam Syafi’i rahimahullah, ada tiga amal yang paling berat.

“Amal yang paling berat ada tiga,” kata Imam Syafi’i seperti dikutip Syaikh Tariq Suwaidan dalam Silsilah al-Aimmah al-Mushawwarah, “murah hati saat miskin, wara’ saat sendiri, dan mengucapkan kebenaran di hadapan orang yang ditakuti.”

Setelah membahas poin pertama (murah hati saat miskin) dan poin kedua (wara’ saat sendiri), berikut ini amal yang ketiga yakni mengucapkan kebenaran di hadapan orang yang ditakuti.

3. Mengucapkan kebenaran di hadapan orang yang ditakuti

Berdakwah adalah tugas setiap muslim. Melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah tugas setiap muslim. Tugas itu berat, terbukti banyak orang yang melalaikannya. Namun, yang lebih berat adalah berdakwah dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar di hadapan orang yang ditakuti, khususnya penguasa.

Mengapa? Sebab menyamaikan kebenaran di hadapan orang yang ditakuti memiliki resiko lebih tinggi dibandingkan menyampaikan kebenaran di hadapan orang umum. Jika orang umum menolak kebenaran itu mungkin ia hanya mencemooh atau mencela. Tetapi jika orang yang punya kekuasaan menolak kebenaran itu, dalam ketersinggungannya ia bisa menjatuhkan hukuman berat atau memberangus dakwah di hadapannya.

Jadi, menyampaikan kebenaran di hadapan orang yang ditakuti ini membutuhkan keberanian sekaligus resikonya adalah nyawa. Persis jihad. Bahkan lebih berat lagi karena jihad dilakukan bersama sementara amal ini sering dilakukan secara pribadi. Dan jika jihad langsung berhadapan dengan tentara kafir, amal ini berhadapan dengan penguasa yang bisa jadi secara identitas masih muslim.

Rasulullah menyebut amal ini sebagai “afdhalul jihad”, jihad yang paling utama. Beliau bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

”Jihad yang paling utama adalah perkataan adil di hadapan penguasa zalim” (HR. Abu Daud)

Sedangkan dalam riwayat An Nasa’i dipakai istilah “kalimatu haq”: perkataan yang haq (kebenaran).

Amal ini sangat tepat disebut sebagai amal yang paling berat karena yang berani menyampaikan kebenaran kepada Raja Namrud adalah Nabi Ibrahim, lalu Nabi Ibrahim menghadapi resikonya: dibakar. Yang berani menyampaikan kebenaran kepada Fir’aun adalah Nabi Musa, lalu Nabi Musa menghadapi resikonya: dikejar-kejar untuk dipenggal. Yang berani menyampaikan kebenaran kepada pembesar Quraisy adalah Rasulullah Muhammad, lalu beliau menghadapi resikonya: dikepung untuk dibunuh.

Di zaman setelahnya, orang-orang yang mampu menegakkan amal ini adalah apara ulama pemberani. Imam Ahmad bin Hanbal yang menghadapi resiko penjara. Ibnu Taimiyah juga mendekam di balik jeruji besi. Hasan Al Banna diberondong. Sayyid Quthb digantung. [Muchlisin BK/bersamadakwah]

BARU 1 KOMENTAR

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.