Beranda Suplemen Opini 8 Hal Menyebalkan dari Tetangga yang “Masa’ Gitu Sih?”

8 Hal Menyebalkan dari Tetangga yang “Masa’ Gitu Sih?”

0
www.emotionus.com

Sebagai manusia, kita nggak bisa hidup sendiri (kalimat ini agak nggak enak didengar untuk jomblo, maaf ya Jom). Kita perlu bersosialiasi. Bentuk sosialisasi satu diantaranya yakni hidup bertetangga. Namanya juga bertetangga,pasti ada yang menyenangkan pasti juga ada yang “ih…tetangga masa gitu?”

Bersama Dakwah akan mengulas tentang seperti apa sih tetangga yang menyebalkan itu. Bismillah, yuk cek satu persatu!

1. Hilang Ramah, Hilang Feeling

pinterest

Kebayang nggak sih, kalau kita sudah senyum semanis Meyda Sefira kepada tetangga tapi senyum kita tak bersambut? Menggantung di atas angin, detik kemudian sadar atau tidak kita orang-yang-merasa-berdosa-sama-tetangga. Seakan ingin katakan “ada yang salah ya sama diri gue ya? Jangan-jangan ada potongan cabe keriting di gigi.”

“Tetangga yang nggak senyum kalau ketemu kita. Nggak nyapa nggak apa-apa deh, yang penting senyum.” Liia Rahmawati.

Pilihanmu senyum atau menyapa lebih awal lebih baik sih. Meski kadang bikin ilfil dan nyelekit juga jika cinta tak bersambut (duh!)

2. Tetangga Berisik, Seakan Konser Musik

domain.com.au

Entah apa yang ada di benak para tetangga yang suka nyetel musik keras-keras. Mungkin dia terobsesi ngadain konser tunggal kali ya, atau dia tipikal orang yang sosialnya tinggi sehingga ingin “berbagi”.

“Nyetel lagu dangdut keras-keras.” Novera Elba Rora​.

“Samaaa.. nyetel dangdut keras-keras dan hampir 12 jam. Sampai kayaknya hafal.. >,<. “ Inar.

Rasanya pengin menggedor pintu rumah tetangga tersebut. Ngasih semangkok kolak pisang dan bilang, “Ini kolak pisang manis buat Mas. Ehmm, enak nih musiknya kayaknya. Oh ya, Mas, menurut penelitian di NTU, menikmati kolak lebih nikmat kalau dalam keadaan tenang lho Mas. Coba deh, biar taste dari gula merahnya kerasa di lidah.”

3. Tak Ada Asap Kalau Tidak Ada Api (Sampah). Tak Ada Aroma (Jengkol) Kalau Tidak Masak

anewfreelife

Tetangga itu rumahnya macam-macam jaraknya. Bisa jauh bisa dekat dari rumah kita. Bisa sepuluh langkah, bisa hanya selangkah (ini ukuran jarak dari mana ya?). Tapi tetap saja kalau ada apa-apa akan ‘kena juga’. Salah satunya ketika bakar sampah atau pas masak.

“Bakar sampah yang asapnya masuk ke dalam rumah. Udah disindir tapi nggak sadar-sadar,” Opick NA.

“Tetangga di sini kalo masak, masak Jengkol jadi harumnya semerbak haha..” Ricky Abdurrahman Hafidz.

Bisa dimaklumi sih jika sekali dua kali bakar sampah. Bisa dimaklumi juga kalau asapnya itu baunya bau sate (?). Bisa dimaklumi juga kalau masak jengkolnya jarang-jarang, nah kalau terus-terusan kan kita kena aroma jengkol yang bau. Bisa-bisa kita semprotin parfum ke baju aroma woody floral musk, eh keluarnya aroma semur jengkol.

Tapi kalau keterusan kok ya kebangetannya tingkat presiden deh. Mungkin jalan salah satunya ngomong dari hati ke hati kecuali dia udah nggak punya hati. Atau lapor ke pak RT. Kalau tak mempan lapor saja ke Komnas Perlindungan Anak (ok ini tidak tepat. Ya habisnya kelakuan tetangga kekanakan sih)

4. Dianggap Mahluk Halus

telegraph

Maksudnya kita dianggap tidak ada. Padahal di awal kita udah senyum, udah nyapa, udah follow juga akun Twitternya (pfuuh). Seakan kalau ada apa-apa yang menyangkut rumah kita, tidak ada izin sama sekali.

“Ngebangun rumah, tapi ndak ‘kulo nuwun” selain berisik eh sampah sisa bangunannya ada di talang air atap rumah kita.” Handoko Susilo.

Apakah kita harus menegur dia? Tentu sudah dilakukan. Tapi kok tetap begitu? Sepertinya harus sering menegur karena tembok yang menutup hatinya terlalu tebal.

5. Jemuranmu Bukan Jemuranku

kompasiana

Tidak semua orang dikaruniai rumah yang luas, yang tidak mepet-mepet. Bagi orang yang hidup di luar karunia itu, pasti mengalami peristiwa jemur-menjemur baju yang kadang bisa menyeret tetangga ke jalur hukum (halah).

“Berhubung rumah padat penduduk, jadi kalau ada yang jemur pakaian suka pada nggak diperes airnya, suka ngucur dan ngalir kemana-mana.” Fahmi Afriyadi.

Lagi-lagi kita memang harus memperingatkan, meski seringnya tak mempan. Mungkin tetangga menganggapnya sudah hal yang lumrah, yang membuat kita pengin lapor pak lurah.

6. Biang dari Digosok yang Makin Sip

terasmedan

Kalau ada pengiriman pesan paling cepat di dunia setelah email mungkin itu berupa tetangga. Atau kalau ada wartawan infotainment tanpa bayaran ya itu tetangga. Ingat ya, tetangga yang doyang gosip. Makin digosok makin sip.

“Kepo pake bingit. Habis kepo, menyimpulkan sendiri terus disebarluaskan seantero RT *penyakit emak-emak.” Dana Uminya Zalfa​.

Sampai masalah anak kita yang sedang ngupil pun tahu, bahkan tahu detail bahwa itu ngupil perdana anak kita.

Nggak bisa dihindari sih dari tetangga yang mulutnya kreatif begini. Minimal kita tidak ikut nimbrung atau balas gosipin. Bungkam saja mereka dengan kesholehan diri kita.

7. Parkir Kok Nggak Mikir

vemale

Ketahuilah, rumah kita bukan mall atau balaikota gubernur yang halaman parkirannya luas. Mungkin tetangga merasa ingin begitu atau mungkin wajah kita kelewat baik sehingga membuatnya “ah nggak apa-apa. Investasi dia kok untuk akhirat.”

“Parkir mobil nggak pakai mikir orang akan susah lewat atau nggak. Dan garasinya kosong tapi mobil parkir di jalan. Ya di situ kadang saya merasa susah lewat.” Diana Damayanti​.

Duh, nggak tahu diri atau nggak tahu ngukur tanah sih? Dibiarin kok makin ngeselin. Diingetin kok makin ngeselin. Hanya bisa tarik nafas dan berdo’a, do’a orang teraniaya kan mudah diijabah, ” Ya Allah kayakan aku, agar aku tidak kaya dia (tetangga).”

8. Rumput Tetangga Lebih Hijau, Kok Masih Makan Tanaman Saya

bpp-lembang

Apa-apa yang dimiliki tetangga itu bikin ngiri seakan rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri. Tapi ternyata tetangga suka nggak menyadari itu hingga merasa kita yang punya rumput yang lebih hijau dari dia. Yang terjadi, dia ingin memilik juga.

“Seenaknya panen tanaman yang jelas punya kita. Rasa memilikinya tinggi banget.” Johansyah Tanjung​.

Kalau tetangga kita punya kambing saja, dan makan rumput depan rumah kita, kita saja pengin ngusir. Masa iya tetangga kita usir juga. Harusnya memang minta izin. Mungkin tetangga khawatir kita orangnya pelit– sehingga tidak berani izin dan merasa memiliki–padahal kan iya (eh?!)

Nah, itu dia hal-hal yang menyebalkan yang ada pada tetangga.
Jika kita perhatikan hadits nabi yang berbunyi : Dari Abu Zar ra, katanya: “Rasulullah SAW bersabda: “Hai Abu Zar, jikalau engkau memasak kuah, maka perbanyaklah airnya dan saling berjanjilah dengan tetangga-tetanggamu – untuk saling beri-memberikan”. (HR Muslim)

Jelaslah, bahwa adab dalam bertetangga adalah saling memberi. Suka memberi pertolongan terhadap tetangga yang membutuhkan. Sebagai tetangga yang baik dan mengerti betul akan adab bertetangga tentu tidak selayaknya untuk membenci apalagi membuat merasa tidak nyaman untuknya, melainkan terus mengingatkan secara santun dan cara yang baik pula.

Tanpa tetangga apalah kita. Kalau ada kebakaran, tetangga kita yang paling pertama menolong. Kalau ada yang meninggal, tetangga pula yang ikut mengurus jenazah atau pemakaman kita. Ada yang bilang “lebih baik berpagar mangkok, daripada berpagar tembok.”

Eh, tunggu…tunggu…jangan-jangan si tetangga menyebalkan itu kita sendiri? (pm)

Twitter: @paramuda

 

 

 

 

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.