Di dunia ini tidak ada yang kita butuhkan melebihi penjagaan Allah dan pertolongan-Nya. Bagaiamana agar kita mendapatkan penjagaan Allah dan pertolongan-Nya? Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam menjelaskannya dalam Hadits Arbain Nawawi ke-19.
Arbain Nawawi (الأربعين النووية) adalah kumpulan hadits pilihan yang disusun oleh Imam An Nawawi rahimahullah. Jumlahnya hanya 42 hadits, tetapi mengandung pokok-pokok ajaran Islam. Demikian pula hadits ke-19 ini mengandung pokok ajaran Islam tentang aqidah Islam yang menenangkan dan membuat optimis menghadapi kehidupan.
Daftar Isi
Arbain Nawawi ke-19 dan Terjemah
عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمًا فَقَالَ « يَا غُلاَمُ إِنِّى أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ اِحْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ ». رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
وَفِيْ رِوَايَةٍ غَيْرِ التِّرْمِذِي اِحْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ ، تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Dari Abu Abbas Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, suatu hari aku berada di belakang (membonceng) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Nak, aku hendak mengajarimu beberapa kalimat. Jagalah Allah, pasti Dia menjagamu. Jagalah Allah, niscaya niscaya Dia selalu bersamamu. Jika kamu memohon sesuatu, mohonlah kepada Allah. Dan jika meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.
Ketahuilah, seandainya semua umat manusia bersatu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu kecuali yang sudah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya semua umat manusia bersatu untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu kecuali yang sudah Allah tetapkan untukmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” (HR. Timidzi. Dia berkata, hadits ini hasan shahih)
Riwayat lain menyebutkan, “Jagalah Allah, pasti kamu selalu bersama-Nya. Kenalilah Allah saat kamu lapang, pasti Dia mengenalimu saat kamu susah. Ketahuilah, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimua. Ketahuilah, kemenangan seiring dengan kesabaran, jalan keluar seiring dengan cobaan, dan kemudahan seiring dengan kesulitan.”
Baca juga: Hadits Arbain ke-1
Penjelasan Hadits

Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits ini dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Nama kunyahnya adalah Abu Abbas. Ia merupakan sepupu Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam karena ayahnya, Abbas bin Abdul Muthalib, adalah paman beliau.
Ibnu Abbas lahir tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah, di tengah situasi sulit ketika seluruh Bani Hasyim sedang menghadapi pemboikotan oleh kaum Quraisy. Saat masih kecil, sahabat Nabi ini telah mendapatkan berkah khusus dari Rasulullah dengan ludah beliau yang tercampur saat mentahniknya.
Rasulullah mendoakan Ibnu Abbas agar menjadi seorang yang faqih dan ahli tafsir.
اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِى الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ
Ya Allah, pahamkanlah dia dalam urusan agama dan ajarkanlah kepadanya takwil (tafsir Al-Qur’an). (HR. Ahmad; shahih)
Maka, Ibnu Abbas pun tumbuh seperti doa ini hingga mendapat gelar habrul ummah (tinta umat) dan tarjumul Qur’an (penerjemah Al-Qur’an). Ia juga memiliki julukan al-bahru (samudra) karena keluasan ilmunya.
Ibnu Abbas meriwayatkan 1.660 hadits. Salah satunya adalah hadits ini yang ia terima saat masih kecil. Ini menunjukkan hafalan dan pemahamannya yang luar biasa. Sebab hadits ini cukup panjang dan ia hafal hadits ini sejak kecil.
Ilmu, pemahaman, dan hikmah yang ia peroleh sebagaimana doa Rasulullah membuatnya menjadi tokoh alimnya para sahabat Nabi, menjadi guru besar bagi para tabi’in. Dengan izin Allah, ia bisa membawa 2.000 orang khawarij untuk bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kata khalafa (خلف) artinya di belakang. Khalafan nabiy (خلف النبي) maksudnya membonceng di belakang Nabi.
Kata ya ghulam (يا غلام) artinya wahai Nak. Ghulam adalah sebutan untuk anak kecil hingga usia baligh, mulai 2 tahun hingga 15 tahun. Menurut sebagian ulama, Ibnu Abbas menerima hadits ini saat berusia 10 tahun.
Ada beberapa istilah untuk anak-anak dalam bahasa Arab sebagai berikut:
- Thifl (طفل): Bayi/anak kecil (baru lahir – 7 tahun).
- Ghulam (غلام): Anak-anak yang sudah disapih hingga masuk baligh.
- Fata (فتى): Pemuda yang sudah baligh/beranjak dewasa.
- Syabb (شاب): Pemuda matang.
Kata ihfadhillah (احفظ الله) secara harfiah berarti jagalah Allah. Maksudnya, jagalah perintah-perintah Allah dan syariat-Nya.
Yahfadhka (يحفظك) artinya niscaya Dia menjagamu. Yakni menjaga dan melindungi dirimu dan agamamu.
Tujahaka (تجاهك) artinya di hadapanmu. Maksudnya, engkau mendapatkan perlindungan dan pertolongan-Nya.
Al-ummah (الأمة) artinya umat. Maksudnya adalah semua makhluk yang berakal.
Rufi’atul aqlam (رفعة الأقلام) artinya pena telah diangkat. Maksudnya semua telah Allah tentukan dengan ilmu dan ketetapan-Nya.
Wajaffatish shuhuf (وجفت الصحف) artinya dan lembaran-lembaran telah kering. Maksudnya ketentuan telah Allah tetapkan.
Imam Al-Fakihani dalam Al-Manhaj al-Mubin fi Syarh al-Arba’in mengatakan, hadits ini mengandung jawami’ul kalim serta ungkapan yang paling indah tentang maknanya, paling fasih, dan paling agung.
Baca juga: Hadits Arbain ke-2
Kandungan Hadits dan Pelajaran Penting
Syekh Muhyidin Mistu dalam Al-Wafi mengutip perkataan sebagian ulama: “Saya merenungi makna hadits ini. Saya kagum dan hampir tak sadarkan diri. Sungguh sayang sekali bagi orang yang tak memahami hadits ini.”
“Hadits ini memuat pesan-pesan dan kaidah-kaidah yang sangat penting,” kata Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam.
Hadits ke-19 Arbain Nawawi ini mengandung banyak pelajaran penting. Berikut ini beberapa poin utama yang bisa kita ambil dari hadits ini:
1. Pentingnya pendidikan anak dan generasi muda
Hadits ini menunjukkan perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada pendidikan anak dan pembinaan generasi muda.
Ghulam (غلام) adalah anak kecil berusia 2-15 tahun. Rasulullah memberikan nasihat kepada Abdullah bin Abbas yang masih berusia 10 tahun dengan nasihat yang dalam maknanya dan cukup panjang redaksinya. Menunjukkan pentingnya pendidikan anak dan generasi muda sekaligus keutamaan Ibnu Abbas.
Baca juga: Hadits Arbain ke-3
2. Memilih waktu, tempat, dan kondisi yang tepat dalam menasihati anak
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan nasihat tersebut saat Ibnu Abbas sedang membonceng beliau.
Hal ini menunjukkan perlunya memilih waktu, tempat, dan kondisi yang tepat dalam menasihati anak. Selain saat bepergian, Rasulullah mencontohkan waktu yang tepat lainnya untuk menasihati anak adalah ketika makan bersama dan ketika seorang anak sedang sakit.
3. Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu
Pelajaran ketiga dari hadits Arbain Nawawi ke-19 ini adalah jawami’ul kalim dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
اِحْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ
Jagalah Allah, pasti Dia menjagamu. Jagalah Allah, niscaya niscaya Dia selalu bersamamu.
Maksudnya, jagalah syariat Allah dengan menjalankan apa yang Dia perintahkan dan menjauhi apa yang Dia larang. Niscaya Allah akan menjagamu dari gejolak nafsu dan godaan setan, menjagamu dari keburukan bangsa jin dan manusia, serta melindungimu dari berbagai bahaya. Allah akan membersamaimu dengan penjagaan dan perlindungan-Nya.
“Maknanya, jadilah hamba yang taat kepada Tuhanmu, melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Beramallah untuk-Nya dengan ketaatan, dan jangan sampai Dia melihatmu dalam kemaksiatan, karena kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu dalam kesulitan, sebagaimana terjadi pada tiga orang yang kehujanan lalu berlindung di gua, kemudian sebuah batu besar jatuh dan menutup pintu gua. Ketika mereka berdoa dengan wasilah amal shalih mereka, batu itu pun bergeser dan mereka bisa keluar dari gua,” tulis Imam Ibnu Daqiq Al-Ied dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah.
“Jagalah Allah dan waspadalah agar Dia tidak melihatmu di tempat yang Dia larang, dan jagalah batasan-batasan dan aturan-aturan-Nya yang Dia wajibkan atasmu dan jangan menyia-nyiakan sedikit pun darinya. Jika kamu melakukan itu, Allah akan menjagamu dalam dirimu dan agamamu,” tulis Imam Al-Fakihani dalam Al-Manhaj al-Mubin fi Syarh al-Arba’in.
Baca juga: Hadits Arbain ke-4
4. Berdoa dan minta pertolongan kepada Allah
Pelajaran berikutnya adalah berdoa dan minta pertolongan hanya kepada Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
Dan jika meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.
Maksudnya, jika butuh sesuatu, mintalah kepada Allah. Para sahabat mencontohkan, mereka selalu berdoa kepada Allah meskipun soal kekurangan garam dan tali sandal yang putus. Apalagi jika butuh pertolongan Allah saat menghadapi masalah serius.
Berdoa adalah ibadah yang pasti berpahala dan mendekatkan diri kepada-Nya. Allah menjamin akan mengabulkan doa setiap hamba-Nya.
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu… (QS. Ghafir: 60)
Demikian pula ketika meminta pertolongan, mintalah hanya kepada Allah. Sebagaimana yang selalu kita baca pada setiap rakaat shalat.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya kepada-Mu kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan. (QS. Al-Fatihah: 5)
Melalui hadits ini, Rasulullah membimbing Ibnu Abbas dan umat beliau untuk bertawakal kepada Allah dan tidak menjadikan selain Dia sebagai tumpuan atau bergantung kepada selain-Nya dalam semua urusannya, baik yang kecil maupun yang besar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. (QS. Ath-Thalaq: )
5. Tak ada yang bisa memberi manfaat kecuali dengan izin-Nya
Pelajaran berikutnya dari hadits Arbain Nawawi ke-19 ini adalah keyakinan bahwa tidak ada yang memberi manfaat kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ
Ketahuilah, seandainya semua umat manusia bersatu untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu kecuali yang sudah Allah tetapkan untukmu.
Meskipun semua manusia bersatu untuk memberikan manfaat kepada seseorang, mereka tidak akan bisa kecuali atas izin Allah sebagaimana ketetapan takdir-Nya. Karenanya, jangan membanggakan diri dan jangan sombong dengan banyaknya pendukung dan luasnya jaringan.
Imam Al-Fakihani menegaskan pentingnya keyakinan ini sebab ia menjadi pembena antara keimanan dan kekufuran.
“Barang siapa yang meyakini bahwa makhluk memiliki pengaruh dalam rezeki atau hal lain dari makhluk, maka sungguh ia telah kufur, tersesat, dan merugi di dunia dan akhirat. Perdagangannya merugi dan transaksinya sia-sia. Kami berlindung kepada Allah dari hal itu, dan kami memohon kepada-Nya keyakinan dan keteguhan dalam agama. Sesungguhnya Dia adalah sebaik-baik Penyayang,” tulisnya dalam Al-Manhaj al-Mubin fi Syarh al-Arba’in.
Baca juga: Hadits Arbain ke-5
6. Tak ada yang bisa mencelakai kecuali dengan izin-Nya
Sebaliknya juga begitu, tidak ada yang bisa mencelakai kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ
Dan seandainya semua umat manusia bersatu untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu kecuali yang sudah Allah tetapkan untukmu.
Meskipun semua manusia bersatu untuk mencelakai seseorang, mereka tidak akan bisa kecuali atas izin Allah sebagaimana ketetapan takdir-Nya. Karenanya, jangan takut bertindak benar dan memperjuangkan kebenaran. Jangan takut berdakwah dan membela agama-Nya.
Baca juga: Hadits Arbain ke-6
7. Takdir telah ditetapkan
Pelajaran ke-7 dari hadits Arbain Nawawi ke-19 ini adalah penegasan bahwa takdir telah Allah tetapkan.
رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.
Para ulama menjelaskan bahwa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini bermakna bahwa takdir telah Dia tetapkan dan tidak akan berubah.
“Makna hadits ini adalah bahwa segala sesuatu telah ditulis dan ditetapkan. Pena telah selesai menuliskan apa yang ada dan apa yang akan ada, dan lembaran telah kering dengan takdir yang tidak akan berubah,” kata Imam Nawawi.
Al-Mubarakfuri menambahkan, “Ungkapan ini mengandung makna agar manusia tidak bersedih hati atas apa yang luput dan tidak sombong atas apa yang diperoleh, karena semua sudah tertulis di sisi Allah.”
Maka, selain memerintahkan untuk taat kepada Allah dan menjaga syariat-Nya, berdoa dan meminta pertolongan hanya kepada-Nya, hadits ini juga mengajarkan tawakkal karena takdir telah Allah tetapkan. Hal ini membuat hati akan menjadi lebih tenang serta optimis menghadapi kehidupan. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]
| < Hadits sebelumnya | Hadits berikutnya > |
| Arbain Nawawi 18 | Arbain Nawawi 20 |
