Daftar Isi
Surat Al-A’raf Ayat 8 dan Artinya
وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (۸)
Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-A’raf: 8)
| < Al-A’raf ayat 7 | Al-A’raf ayat 9 > |
Surat Al-A’raf Ayat 8 Arti per Kata
| dan timbangan | وَالْوَزْنُ |
| pada hari itu | يَوْمَئِذٍ |
| adalah benar | الْحَقُّ |
| maka barangsiapa | فَمَنْ |
| berat | ثَقُلَتْ |
| timbangannya | مَوَازِينُهُ |
| maka mereka | فَأُولَئِكَ |
| mereka | هُمُ |
| orang-orang yang beruntung | الْمُفْلِحُونَ |
Baca juga: Surat Al-Kahfi Ayat 1-10
Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 8
Berikut ini tafsir Surat Al A’raf ayat 8 dari Tafsir Al-Muyassar karya Syekh ‘Aidh Al-Qarni serta Tafsir Jalalain karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti. Lalu Tafsir Al-Wajiz karya Syekh Wahbah Az-Zuhaili. Terakhir, Tafsir Ibnu Katsir.
Tafsir Al-Muyassar
Amal kebaikan dan kejahatan manusia akan ditimbang dengan adil, tanpa kezaliman ataupun aniaya. Barangsiapa kebaikannya lebih berat daripada keburukannya, berarti dia beruntung dan berhasil serta akan dapat melewati jembatan (shirath). Sebab, lebih beratnya amal shalih daripada amal buruk merupakan bekal yang paling utama.
Tafsir Jalalain
Dan timbangan untuk amal-amal perbuatan atau untuk lembaran-lembaran catatan amal perbuatan yang ditaruh di dalamnya. Timbangan itu memiliki jarum penunjuk berat dan dua gantungan, demikian sebagaimana yang telah dijelaskan oleh hadits.
Timbangan itu ada pada hari itu yakni hari penghisaban yang telah disebutkan, yaitu hari kiamat adalah benaradalah adil, menjadi sifat dari lafal al-wazn maka barang siapa berat timbangannya oleh kebaikan maka mereka itulah orang-orang yang berbahagia orang-orang yang beruntung.
Tafsir Al-Wajiz
Dan timbangan amal pada hari kiamat itu pasti benar, detail, dan adil. Tidak ada kecurangan di dalamnya. Maka, barangsiapa kebaikannya lebih berat daripada keburukannya, maka mereka itu adalah orang yang memenangkan keridhaan dan surga.
Tafsir Ibnu Katsir
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:
وَالْوَزْنُ
“Dan timbangan”,
yaitu timbangan amal-amal pada hari Kiamat,
الْحَقُّ
“yang benar”,
yakni bahwa Allah Ta’ala tidak menzalimi seorang pun. Sebagaimana firman-Nya:
وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ
“Dan Kami akan memasang timbangan-timbangan yang adil pada hari Kiamat, maka tidak ada seorang pun yang dirugikan sedikit pun. Dan jika suatu amal itu seberat biji sawi, niscaya Kami akan mendatangkannya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya’: 47)
Allah Ta’ala juga berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi walaupun sebesar zarrah. Jika ada suatu kebaikan, niscaya Dia melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya.” (QS. An-Nisa’: 40)
Dan Allah Ta’ala berfirman:
فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ (٦) فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ (٧) وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ (۸) فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ (۹) وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ (۱٠) نَارٌ حَامِيَةٌ (۱۱)
“Adapun orang yang berat timbangan-timbangannya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Adapun orang yang ringan timbangan-timbangannya, maka tempat kembalinya adalah Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (QS. Al-Qari‘ah: 6–11)
Allah Ta’ala juga berfirman:
فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ (۱۰۱) فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (۱۰٢) وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ (۱۰٣)
“Apabila sangkakala ditiup, maka tidak ada lagi hubungan nasab di antara mereka pada hari itu dan mereka tidak saling bertanya. Barang siapa yang berat timbangan-timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang ringan timbangan-timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri; mereka kekal di dalam Jahanam.” (QS. Al-Mu’minun: 101–103)
Pasal
Adapun apa yang diletakkan di dalam timbangan pada hari Kiamat, maka ada yang mengatakan bahwa yang ditimbang adalah amal-amal, meskipun amal-amal itu merupakan sesuatu yang bersifat ‘aradh (aksiden, bukan benda yang berdiri sendiri). Akan tetapi, Allah Ta’ala akan mengubahnya pada hari Kiamat menjadi bentuk-bentuk jasmani.
Al-Baghawi berkata: Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits sahih bahwa surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran akan datang pada hari Kiamat seolah-olah keduanya adalah dua awan—atau dua naungan—atau dua kelompok burung yang membentangkan sayapnya.
Demikian pula terdapat keterangan dalam hadits sahih mengenai Al-Qur’an, bahwa ia akan datang kepada orang yang selalu bersamanya dalam bentuk seorang pemuda yang pucat wajahnya. Ia berkata:
مَنْ أَنْتَ؟
“Siapakah kamu?”
Al-Qur’an menjawab:
أَنَا الْقُرْآنُ الَّذِي أَسْهَرْتُ لَيْلَكَ وَأَظْمَأْتُ نَهَارَكَ
“Aku adalah Al-Qur’an yang membuatmu tidak tidur pada malam hari dan membuatmu haus pada siang hari.”
Dalam hadits Al-Bara’ tentang pertanyaan di dalam kubur juga disebutkan:
فَيَأْتِي الْمُؤْمِنَ شَابٌّ حَسَنُ اللَّوْنِ طَيِّبُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ
“Kemudian datang kepada seorang mukmin seorang pemuda yang tampan, wajahnya baik, dan baunya harum. Ia berkata, ‘Siapakah kamu?’ Dia menjawab, ‘Aku adalah amal salehmu.’”
Dan disebutkan pula kebalikannya dalam keadaan orang kafir dan munafik.
Ada pula yang mengatakan bahwa yang ditimbang adalah catatan amal, sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang kartu (al-bithaqah).
Dalam hadits tersebut dikisahkan tentang seorang laki-laki yang didatangkan pada hari Kiamat. Kemudian diletakkan untuknya sembilan puluh sembilan catatan amal pada salah satu sisi timbangan. Setiap catatan panjangnya sejauh mata memandang.
Kemudian didatangkan sebuah kartu yang di dalamnya tertulis: “Lā ilāha illallāh (Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah).”
Orang itu berkata: “Wahai Rabbku, apakah artinya kartu ini dibandingkan dengan catatan-catatan tersebut?”
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya kamu tidak akan dizalimi.”
Kemudian kartu tersebut diletakkan pada sisi timbangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka catatan-catatan itu menjadi ringan, sedangkan kartu tersebut menjadi berat.”
Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan redaksi yang kurang lebih seperti itu, dan beliau menilainya sahih.
Ada pula yang mengatakan bahwa yang ditimbang adalah orang yang melakukan amal tersebut, sebagaimana disebutkan dalam hadits:
يُؤْتَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِالرَّجُلِ السَّمِينِ، فَلَا يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ
“Pada hari Kiamat akan didatangkan seorang laki-laki yang sangat gemuk, tetapi di sisi Allah beratnya tidak lebih dari sayap seekor nyamuk.”
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca firman Allah:
فَلا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا
“Maka Kami tidak akan memberikan penimbangan apa pun bagi mereka pada hari Kiamat.” (QS. Al-Kahfi: 105)
Dalam kitab Manaqib Abdullah bin Mas‘ud disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَتَعْجَبُونَ مِنْ دِقَّةِ سَاقَيْهِ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَهُمَا فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ أُحُدٍ
“Apakah kalian merasa heran terhadap kecilnya kedua betisnya? Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kedua betisnya itu lebih berat dalam timbangan daripada Gunung Uhud.”
Ada kemungkinan bahwa berbagai riwayat tersebut dapat dipadukan, sehingga semuanya benar. Pada suatu keadaan, amal-amal yang ditimbang; pada keadaan lain, tempat atau wadah amal itu ditimbang; dan pada keadaan yang lain, pelaku amalnya yang ditimbang. Wallāhu a‘lam.
| < Sebelumnya | Surat | Berikutnya > |
| Al-A’raf ayat 7 | Al-A’raf | Al-A’raf ayat 9 |
