Beranda Suplemen Opini Arti Sebuah Rapor

Arti Sebuah Rapor

0
polskieradio.pl

Sejak duduk di bangku sekolah kita sudah mengenal adanya rapor. Menurut KBBI arti rapor yaitu buku yang berisi nilai kepandaian dan prestasi belajar murid di sekolah, berfungsi sebagai laporan guru kepada orangtua atau wali murid. Rapor pada umumnya adalah pemberian dari seseorang yang telah melewati waktu bersama, baik dalam belajar mengajar, diskusi, atau melalui sebuah penelitian. Seseorang yang telah mengetahui kelebihan dan kelemahan seseorang/anak didiknya/ bawahannya/objek penelitiannya, dari beberapa tes/uji coba yang dilakukan, sejauh mana seseorang yang akan diberi rapor itu memiliki sebuah nilai.

Pada pengertian yang luas rapor bahkan dapat diberikan kepada seseorang yang bukan murid, belum pernah diskusi bersama, dan hanya melakukan penelitian yang sifatnya personal. Biasanya orang yang memberikan nilai itu memiliki ilmu yang lebih mumpuni di bidangnya. Namun bagaimana dengan seseorang yang hanya muncul satu waktu memberi penilaian pada seorang public figur? Apatah orang yang memberi nilai rapor tersebut bisa dikatakan berhak memberikan nilai biru atau merah kepada seseorang yang tentu sosoknya telah diketahui khalayak ramai.

Apabila rapor yang dibuat sifatnya kritik membangun, mungkin rapor yang diberikan adalah ungkapan kasih sayang pemberi rapor kepada si penerima rapor, bahwa ia telah memperhatikan gerak-gerik penerima rapor  tersebut, mulai dari A sampai Z telah diteliti terlebih dahulu sehingga si pemberi rapor memberikan masukan pendapat atau ilmu baru. Tetapi apabila sifat rapornya menjatuhkan, kritik pedas, menuduh melakukan kesalahan tanpa bukti-bukti yang kuat, sampai jatuhnya pada fitnah dan pencemaran nama baik. Kemudian rapor tersebut tidak ditujukan secara privasi tetapi dibeberkan ke masyarakat luas tanpa si penerima lapor itu dimintai pendapatnya. Sikap seperti ini seperti seorang guru yang membeberkan kesalahan muridnya, atau seorang teman yang menikam dari belakang bisa dikatakan juga sebagai rival.

Sehingga dapat ditarik hasil akhir seberapa pentingkah nilai rapor yang ditujukan itu? Jika memang rapor yang diberikan akan membuat seorang penerima rapor itu merasa dirinya seperti mendapat buku evaluasi dirinya, ilmunya atau sebagainya. Serta ia menerima dengan terbuka sehingga rapor tersebut akhirnya akan menjadi tali silaturahim yang baik. Tetapi sebaliknya jika rapor itu hanya ingin menjatuhkan si penerima rapor agar tahu diatas dia masih ada yang lebih baik, lebih pintar, lebih mumpuni maka itu hanya menunjukkan sikap jemawanya.

Adapun jika kita memberikan sebuah rapor kepada seseorang entah itu public figure, ulama atau seseorang yang masih terus belajar. Sampaikan dengan bahasa hati penuh cinta agar pesan yang ingin disampaikan terjadi feedback yang indah. Kesombongan ilmu yang tidak pada tempatnya atau hanya mengoreksi jalan hidup orang dengan kacamata pribadi tidaklah sesuatu yang akan membuat seseorang semakin besar. Apabila memang memiliki ilmu yang tinggi, semangat yang tinggi untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik, lebih dekat kepada jalan Ilahi, maka buktikan dengan ilmu yang bermanfaat tanpa harus mendebat.

Jika engkau pejuang pena buktikan dengan menuliskan buku-buku positif mengajak pada ajaran Allah SWT. Jika memiliki ilmu dalam bidang agama jadilah ulama yang berjuang di jalan dakwah dan bersama-sama membangun ukhuwah.

Berikan rapor pada orang yang menentang ajaran Allah, merusak alam dan segala bentuk tindak kejahatan. Rapor merah untuk para preman, rapor merah untuk para pembegal dan rapor merah untuk yang suka korupsi, mencuri dan lain sebagainya.

Tak perlu lagi memberikan rapor merah kepada ulama yang sedang berjuang di medan dakwah, kepada sesama saudara seiman yang bertemu di jalan hanya karena kurang sesuatu yang berkenan dihati. Seperti kurang senyum, lupa mengucap salam, pakaiannya kurang syar’i, ikhwan abal-abal, akhwat gadungan dan sejenis gelar lain yang akan semakin membuka jurang pemisah.

Memang manusia tidak selalu benar setiap saat. Manusia akan ada ruang berbuat salah, agar menjadi bahan untuk  introspeksi diri dan tidak sombong. Namun berbuat baik bisa diusahakan secara maksimal setiap saat. Menebar kebaikan lebih utama daripada menebar kebencian. Cintailah saudara kita sesama muslim seperti wasiat rosulullah SAW.

Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia mencintai bagi saudaranya apa yang dia cintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). (pm)

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.