Beranda Keluarga Bagaimana Menghadapi Suami Manja? (2)

Bagaimana Menghadapi Suami Manja? (2)

0
Pasangan suami istri (pinterest)

Lanjutan dari Bagaimana Menghadapi Suami Manja?

Ketika suami telah memahami apa yang diajarkan istrinya, maka jika ia ingin mengambil sesuatu yang telah ia letakkan atau yang ia butuhkan maka ia akan mengambilnya sendiri.

Ia tidak akan lagi mengajukan alasan-alasan yang lemah dan meletakkan buku dan kertas penting di atas meja kerja atau perpustakaan, tidak di ruang tamu atau di ruang makan.

Ia juga akan menggantungkan baju yang dilepas di tempatnya dan tidak digantungkan di setiap gantungan di dalam rumah.

Wahai istri yang mulia

Kamu masih memiliki kewajiban sebelum dapat tidur tenang. Pada malam hari, kamu sebagai seorang harus menyiapkan baju yang akan dikenakan suamimu pada esok hari sebelum berangkat kerja.

Kamu harus memasang kancing yang lepas, membersihkan kotoran dari sapu tangan dan kaus kakinya. Kamu juga harus menyetrika celana yang cocok dengan seragam kerja yang wajib dikenakan suami.

Janganlah kamu menunda sampai esok hari untuk melakukan semua ini. Sebab, jika suami mengetahui ternyata celana tidak cocok dengan baju kerjanya, lalu ditemukan masih kotor, maka suami marah dan terkadang keluar kata-kata yang tidak enak didengar olehmu.

Jika istri dihadapkan pada dua hal yang berlawanan; menyiapkan pakaian dan menyiapkan sarapan. Apa yang akan dilakukan oleh istri menghadapi kondisi seperti ini?

Istri yang tidak cerdas akan langsung menyuruh suaminya menyiapkan sendiri pakaiannya dan ia mengurus sarapannya, sehingga suami menggerutu dan marah kepada sang istri.

Sementara itu, istri yang cerdas, dengan gerakan lincah meletakkan tungku teh, telur mata sapi dan susu di atas kompor, kemudian meminta suaminya untuk menengoknya sewaktu-waktu dan mematikan kompor saat masakan telah matang.

Sementara sang istri menyiapkan pakaian sebagaimana ibunya dan saudarinya lakukan.

Dengan cara seperti ini kamu akan mendapati seorang suami yang asalnya malas akan menerima kondisi seperti ini tanpa menggerutu, apalagi marah kepadamu.

Inilah salah satu inti hidup berumah tangga. Saling memahami keadaan pasangan, saling melengkapi kekurangan, dan saling berbagi kebaikan dengan pasangan.

Dengan demikian, akan terwujud rumah tangga yang diliputi oleh sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang).

Dikutip dari buku Kuni Aniqah karya Shafa Syamandi.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]