Beranda Suplemen Renungan Jadikan Ikhlas sebagai Karakter dalam Beramal

Jadikan Ikhlas sebagai Karakter dalam Beramal

0
ilustrasi @play.tojsiab

Tak jarang orang mengatakan “Aku ikhlas menjalani ini” saat beramal maupun bermuamallah dengan orang lain. Dalam mengucapkan terasa sangat mudah, namun sebaliknya, sulit dilaksanakan. Ikhlas mengandung arti meniadakan segala penyakit hati; riya, syirik, munafik dan takabur, dalam beribadah. Dalam ungkapan “Aku beribadah semata-mata menggapai ridha Allah Ta’ala”, setidaknya terdapat tiga pengertian yang sangat pokok dalam memenuhi kewajiban sebagai hamba.

1. Niat yang lurus karena Allah (shalih al-niyyat)
2. Adanya interkoneksi secara menyeluruh dengan tata cara yang telah dituntunkan (shalih al-kaifiyyat)
3. Tujuan pertama dan paling diutamakan untuk mencari ridha Allah Ta’ala (shalih al-ghayat)

Dikisahkan, terdapat suatu desa yang jauh dari keramaian kota. Seorang lelaki berjalan menyusuri lorong kecil di pinggir desa yang sangat sejuk dan matahari sedang mengintip penduduk alam semesta yang akan mengawali hidup dengan berbagai aktivitas. Ia berjalan seorang diri dengan perasaan gelisah, gundah, tak tentu arah, dan rasa putus asa telah merasuk dalam hatinya.

Ia sedang memikirkan kondisi finansial keluarga yang sudah di ujung tanduk. Tak terasa, kakinya terantuk batu di jalanan sepi, dan dilihatnya ternyata ada sebuah benda. Kemudian, ia membungkukkan badan seraya menggerutu pelan. “Benda apa ini, Oh, ternyata sekeping koin kuno yang sudah penyok.”

Kemudian ia membawanya ke sebuah Bank. “Hendaknya kamu bawa koin ini ke kolektor saja,” saran Teller. Lelaki itu segera menuju rumah kolektor dan beruntung sekali, koinnya dihargai 30 dolar.

Lalu ia pulang dengan hati riang dan langsung menuju toko perkakas. Ia melihat beberapa lembar kayu bermutu dan dibelinya seharga 30 dolar. Kayu tersebut akan dibuat lemari untuk dihadiahkan kepada sang istri. Setelahnya, ia segera beranjak pulang.

Ia melewati tempat pembuatan mebel. Tukang Kayu di tempat itu melihat sangat jeli dan sudah terlatih dengan kayu bermutu yang dipanggul lelaki itu. Kemudian, ia menawarkan lemari seharga 100 dollar untuk dibarter dengan kayu bermutu. Lelaki pun setuju dan meminjam gerobak pemilik bengkel untuk membawa pulang lemari itu.

Pada saat ia melewati perumahan di pinggir kota, terdapat seorang wanita melihat lemari yang indah dan elok itu. Wanita itu menawar seharga 200 dollar. Namun, lelaki itu tampak ragu sehingga sang wanita menaikkan tawarannya seharga 250 dolar. Lelaki itu pun setuju.

Lalu ia pulang melewati jalanan yang sepi di tepi desa. Sesampainya di persimpanagan depan rumah, ia merogoh sakunya dan menghitungnya untuk memastikan lembaran uang senilai 250 dolar.

Tiba-tiba, dua perampok datang sambil mengacungkan belati seraya merampas uang itu. Setelah mendapatkan uangnya, mereka kabur meninggalkan lelaki. Kebetulan, sang istri melihat dan berlari mendekati suaminya seraya bertanya, “Apa yang terjadi, wahai suamiku? Engkau dalam keadaan baik-baik saja, kan? Apa yang dilakukan perampok terhadap dirimu?”

“Oh, tidak apa-apa. Saya masih dalam keadaan baik. Alhamdulillah. Itu hanya sekeping koin penyok yang kutemukan tadi pagi dekat bebatuan.” Jawab sang suami dengan lemah lembut dan sangat tegar.

Dalam hatinya sudah terpatri karakter ikhlas yang membekas. Tidak gegabah dalam dalam menghadapi masalah. Ia tabah menjawab pertanyaan sang istri ketika kondisi finansial sedang diuji oleh Allah Ta’ala. Sebuah pengorbanan suami di saat roda kehidupan berada di bawah, keikhlasan dan kesabaran amat dibutuhkan dan dipadukan dengan ketakwaan.

Sepatutnya kita mensyukuri segala yang telah Allah Ta’ala berikan. Jangan terlalu tenggelam dalam kesenangan dan kesedihan. Karena kita datang dan pergi meninggalkan dunia, tak membawa satu pun, hanya amallah yang menemani kelak.

Sebenarnya, apa yang kita miliki di dunia ini? Apakah kita bisa membayar oksigen yang kita hirup sehari-hari? Sungguh, segala yang kita miliki tidak akan pernah abadi. Saat kehilangan sesuatu, ingatlah bahwa sesungguhnya kita tidak memilikinya selamanya. Jadi kehilangan tidaklah menyakitkan karena hanya sebuah tipu daya pikiran dengan keakuan.

Janganlah berbangga tatkala nikmat tergenggam erat, namun sedih tatkala nikmat tak melekat. Berharap banyak kepada sang Pencipta, bukan terlalu mengharapkan kepada yang diciptakan-Nya. Wallahu A’lam. [Hamizan/Bersamadakwah]

Editor: Pirman Bahagia

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.