Beranda Kisah-Sejarah Kisah Nyata Nyata “Ah” Kepada Ibu, Lidah Tergigit Sendiri dan Nyaris Putus

Nyata “Ah” Kepada Ibu, Lidah Tergigit Sendiri dan Nyaris Putus

Unsplash (ilustrasi)

Jauh-jauh hari Rasulullah Saw. mengingatkan kepada kita untuk tak berkata “ah” kepada ibu kita. Tidak menolak perintah ibu asal bukan dalam kerangka menjauhkan diri dari Allah Swt.

Dulu ada orang Jakarta, perempuan, datang ke Pondok Pesantren Daaruttauhid, Gegerkalong, Bandung dan berkisah tentang lidahnya yang tergigit sendiri, nyaris putus. Bagaimana kisah nyata ini bicara? Rupanya bermula dari permintaan seorang ibu.

“Ning, kamu jangan sibuk aja. Sekali-kali anter mama ke pasar.”

“Ah, si Mama, kan bisa naik becak. Jangan ngeganggu urusan kantor!”

“Wah, Nak. Bentar aja. Sekali aja. Mama pengin sekali diantar ke pasar naik mobil kamu.”

“Ah, nanti saja kalau nggak terlalu sibuk.”

Besoknya lagi mama meminta lagi.

“Aduh, Ma. Nggak bisa, Ma. Udah deh nanti mama dipesenin. Taksi atau naik apa gitu. Aku banyak urusan di kantor!”

Hingga berulang beberapa kali dimintai tolong nggak mau. Nah, mulai kesal lah ibunya. Perkataan kasar pun mulai datang pula dari anak perempuannya.

“Mama gimana sih? Aku tuh kan manajer! Kalau telat nanti nggak jadi contoh untuk orang kantor!”

“Ya, Allah…anakku manajer,” kata ibunya. “Aku belum pernah diajak main mobil oleh anakku. Ya sudah.” lanjut ibunya sambil mengusap dada.

“Udah. Aku harus pergi sekarang, Ma!”

“Nak, mama udah sakit hati beneran.”

Kemudian anaknya pergi ke kantor. Naik mobil dengan rasa kesal di dada. Saking kesalnya di jalan raya, di depan ada mobil yang sedang diam. Nabrak lah mobil tersebut. Ketika nabrak, sedang megang setir dan langsung lidahnya ke gigit sendiri. Hampir mau putus.

Dibawalah perempuan itu ke rumah sakit. Sesampainya di sana tidak diinfus dulu, langsung dijahit begitu saja. Ia meronta kesakitan. Teriak-teriak. Ngilu dan ngeri yang teramat. Namun di situlah Allah memberikan hidayah dan taufik kepadanya.

Ya Allah ini benar-benar peringatan dari engkau Ya Allah. Sakitnya lidahku dengan beberapa jahitan. Tidak sesakit hati ibuku.

Ia nggak bisa makan dan nggak bisa minum. Hanya bertahan dengan infus setelah itu, beberapa hari. Ibu perempuan itu pun dipanggil. Perempuan itu tidak bisa bicara, hanya bisa menulis.

Maafkan anakmu. Aku akan bayar kesalahanku pada ibu. Wassalam. Anakmu.

Ibunya dipeluk erat. Dan sang ibu pun memaafkan kesalahan anaknya. [Paramuda/ BersamaDakwah]