Beranda Ilmu Islam Al Quran 5 Ayat Paling Sering Diselewengkan (Bagian ke-1)

5 Ayat Paling Sering Diselewengkan (Bagian ke-1)

2
Mushaf Al Quran © devianart.com

Gelombang sentimen negatif terhadap Islam dan muslim akhir-akhir ini menggiring opini publik seolah agama sejalan dengan kekerasan. Upaya ini juga menghasilkan tuduhan tak masuk akal terhadap Al Quran.

Ayat apa saja yang paling banyak salahartikan dalam Al Quran? Apakah tuduhan kekerasan sudah melalui penelitian akademis yang cermat, ataukah ayat-ayat ini diselewengkan untuk mengesankan kebalikan dari maksud sebenarnya?

Agama sejak dulu selalu menjadi kambing hitam  kekerasan. Para ekstrimis dan maniak pembantaian sepanjang sejarah sering menggunakan agama sebagai tameng dalam konflik duniawi. Konflik politik, kediktatoran dan peperangan yang menyeret negara-negara muslim beberapa dekade terakhir ini telah melahirkan kelompok-kelompok ekstrim modern yang berupaya menggunakan kekerasan atas nama Islam. Kekacauan, ketidakstabilan dan perang berkepanjangan menciptakan vakum politik dimana kelompok-kelompok yang haus kekuasaan berlomba-lomba mendapatkannya. Kelompok-kelompok ini akan menggunakan bendera apapun untuk mencapai tujuan, apakah itu identitas etnik, budaya, kebangsaan, ideologi tertentu ataupun agama.

Seseorang akan dengan mudah bersikap skeptis dan menyalahkan agama yang telah ada sekitar 1400-an tahun serta dipraktekkan oleh hampir dua milyar penganut di seluruh dunia. Beberapa ayat dari Al Quran telah digunakan oleh kelompok radikal dan anti-Islam, yang menyatakan bahwa beberapa ayat dalam Al Quran mendukung aktivitas kekerasan

Sangatlah mudah menyelewengkan sebuah teks. Cukup dengan mengambil sebagian kalimat dan meninggalkan konteks kalimatnya. Apa yang membuat lima ayat Al Quran paling sering diselewangkan menjadi menarik adalah kekerasan yang mereka sangkakan melekat pada ayat itu, tiba-tiba hilang setelah melihat pada tekstual dan konteks sejarahnya. Yang dibutuhkan hanya melengkapi kalimat itu, atau dengan membaca kalimat sebelum atau sesudahnya, dan ini cukup menjadi bukti bahwa ayat itu tidak mengajarkan kekerasan. Sebagai tambahan, perspektif ini lebih mendalam saat seseorang melihat kepada surat-surat lain dalam Al Quran dan penjelasan Nabi Muhammad SAW, yang dengan tegas mengutuk kekerasan dan menyerukan kedamaian. Lebih dari itu, 1400 tahun analisa keilmuan terhadap Al Quran mampu menghalau salah-tafsir dari kelompok radikal kontemporer dan kelompok fanatik anti-muslim.

Kesalahan 1 – Al Baqoroh:191

Kalimat “Bunuhlah mereka dimana saja kamu jumpai mereka” sejauh ini adalah frase yang paling banyak disalahartikan kelompok anti-islam dan ekstrimis radikal. Akam tetapi seruan perang ini tepat setelah ayat yang menyatakan “Perangilah di jalan Alloh orang-orang yang memerangi kamu…” dan juga sebelum bagian ayat yang menyatakan “Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zholim”.

Apakah konteks sejarah dari ayat 2:190-193 dan kepada siapa ditujukan? Ibnu Abbas, sahabat terkenal dan ahli tafsir Al Quran, mengatakan bahwa ayat ini ditujukan kepada kaum Quraish[1]. Mereka telah menganiaya dan menyiksa umat Islam selama tiga belas tahun di Mekkah. Mereka telah mengusir umat Islam dari rumah mereka, merampas harta benda dan memerangi umat Islam setelah hijrah ke Madinah. Oleh sebab itu muncul kekhawatiran akan serangan lainnya di saat mereka melaksanakan ibadah haji dimana ketika itu berperang adalah sesuatu yang dilarang. Inilah sebab ayat ini diturunkan untuk menenangkan hati mereka bahwa mereka akan mampu membela diri dari serangan Quraish selama haji. Perang yang dikhawatirkan tidak pernah terjadi, karena ada perjanjian damai dan ibadah haji pun telah diperbolehkan.[2]

Kalimat “Jangan berbuat aniaya” telah dijelaskan oleh Ibnu Abbas, “Jangan menyerang wanita, anak-anak, orang tua atau siapapun yang tidak memerangi kamu”, oleh sebab itu, mencelakai siapapun yang tidak berperang dianggap melanggar ketentuan Robb yang Mahakuasa[3]. Ahli tafsir lain, Ibnu Ashur (w.1393H) berkata, “ Jika mereka berhenti memerangimu, maka jangan perangi mereka karena sungguh Tuhan Maha Pengampun dan Maha Penyayang, sepatutnyalah seorang muslim menunjukkan kasih sayang”[4]. Dalam hal ini, ayat ini senada dengan QS. Annisa:89  yang mewajibkan memerangi musuh tetapi langsung diikuti pernyataan, “Tetapi jika mereka membiarkanmu dan tidak memerangimu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Alloh tidak memberi jalan bagimu (untuk melawan dan membunuh) mereka.”

Kembali ke ayat 2:190-193, kata fitnah yang dimaksud adalah menganiaya dan menghukum seseorang karena keyakinannya dan memaksanya untuk kafir dan syirik. Ulama Quran terkemuka, Imam Kisaa’I (w.189), menjelaskan bahwa fitnah yang dimaksud adalah “siksaan, karena Quraish bisa menyiksa mereka yang memeluk Islam”[5]. Ibnu Jarir At Thobari (w.310H) menjelaskan bahwa kalimat “Fitnah lebih buruk dari pembunuhan” berarti bahwa “menganiaya seorang mu’min karena keimanannya sampai ia kembali menjadi penyembah berhala adalah lebih menyakitkan baginya daripada dibunuh diatas keimanannya”.[6]

Oleh karena itu, ayat ini dengan gamblang menjelaskan larangan memerangi mereka yang tidak berperang. Secara khusus kalimat yang disalahartikan menjelaskan berperang dalam rangka membela diri dari para pelaku penganiayaan dan penyiksaan atas dasar anti-agama.

Kesalahan 2 – At Taubah:5

Ayat berikutnya hampir serupa – “maka bunuhlah orang-orang musyirikin di mana saja kamu jumpai mereka”, lagi-lagi keterkaitan dengan konteks sejarah membantah kesalahan ini. Ayat ini berbicara perihal mereka yang memegang perjanjian damai dengan orang-orang yang tidak pernah mendukung tentara musuh melawan umat Islam- Kalau begitu kepada siapa At Taubah:5 ini ditujukan? Al Baydhawi (w.685H) dan Al Alusi (w.127H) menjelaskan bahwa ayat ini ditujukan kepada musyrikin Arab yang melanggar perjanjian damai dengan berperang melawan umat Islam (nakitheen)[7], oleh karena itu Abu Bakar Al Jassas (w.370H) mencatat bahwa ayat-ayat ini khusus bagi bangsa Arab musyrik dan tidak bisa diterapkan kepada yang lain[8]. Pendapat ini dikuatkan oleh Al Qur’an sendiri. Pada ayat 13 dalam surat yang sama Alloh berfirman, yang artinya,” Mengapa kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras untuk mengusir Rasul dan mereka yang pertama kali mamulai memerangi kamu?” dan ayat 36, “dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya” konteks tekstual sangatlah jelas bahwa ayat 9:5 bukanlah perintah tanpa pandang bulu akan tetapi berkaitan suku-suku Arab musyrik, yang tengah perang dengan umat Islam[9]. Oleh karena itu, menafsirkan Al Quran yang tidak merujuk kepada konteks ayatnya adalah sangat bertentangan dengan Al Quran itu sendiri.

Lebih dari itu, yang menakjubkan adalah ayat selanjutnya (At Taubah:6) menyatakan bahwa apabila tentara musuh tiba-tiba minta perlindungan, maka seseorang diwajibkan secara syariat untuk melindungi, menjelaskan pesan Islam kepadanya, dan apabila ia menolak menerima, kawal ia ke tempat yang aman. Perintah untuk melindungi dan mengamankan tentara musuh (yang meminta perlindungan) ke tempat aman jelas tidak bisa diartikan sebagai kekerasan.

Kesalahan 3 – Al Anfaal:60

Ayat favorit lain yang sering disalahartikan adalah, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang” akan tetapi lagi-lagi ayat berikutnya menjelaskan, “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya”-

Lebih dari itu, siapakah yang dimaksud dalam kutipan ayat ini? Konteks historis dengan jelas menempatkan ayat-ayat ini, lagi-lagi merujuk kepada perang berlarut-larut antara pasukan muslim dengan tentara musuh dari suku Quraish Mekkah dan dan sekutu-sekutu mereka[10]. Surat ini diturunkan berkaitan dengan perang Badar antara pasukan muslim yang mencari perlindungan di Madinah dan suku Quraish yang telah menyiksa dan mengusir keluar dari Mekkah. Surat ini juga menggambarkan ancaman dan penganiayaan muslim periode awal.

“Dan ingatlah (hai para muhajirin), ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Medinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolonganNya dan diberi-Nya kamu rezki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.” (QS. Al Anfaal:26)

Perlu dicatat terkadang para pelaku Islamophobia mengutif ayat Al Anfaal:12, “maka penggallah kepala-kepala mereka”, adalah sama sekali salah kaprah. Faktanya ayat ini menjelaskan apa yang dikatakan Tuhan kepada para malaikat saat perang badar. Bagian pertama ayat, (Ingatlah), ketika Rabbmu mewahyukan kepada para malaikat,:”Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Untuk menyelewengkannya menjadi sebuah perintah umum untuk para muslim menyerang non-muslim adalah bohong besar.

Diterjemahkan dengan penyesuaian dari tulisan Dr. M. Nazir Khan dalam situr www.spiritualperception.org yang berjudul Top Five Misquotations of The Quran

Bersambung ke bagian-2


[1] Lihat Asbabun Nuzûl oleh Al-Wahidi (d.468H)

[2] Ibnu Abbas menjelaskan bahwa saat umat Islam berangkat ke Mekkah di tahun 6 H untuk berhaji, mereka tidak diperbolehkan oleh kaum Quraish. Sebelum kembali ke Madinah, mereka membuat perjanjian damai yang mengijinkan umat Islam kembali untuk berhaji di tahun berikutnya. Meski begitu mereka tetap enggan kembali lagi, karena kuatir dibantai saat berhaji karena kaum Quraish sudah berencana menyerang mereka pada waktu itu. Ayat-ayat ini diturunkan untuk meyakinkan mereka dapat membela diri dari ancaman itu di wilayah Mekkah. Pada akhirnya, pertempuran itu tidak pernah terjadi sama sekali dan umat Islam dapat berhaji dengan damai (al-Wahidi, al-Samarqandi, al-Tabari).

[3] Lihat Tafsir Ibnu Jarir At Thabari (w. 310H) dan Tsa’labi (w. 427H). Juga, ulama awal terkenal Abul A’liyah, Said bin Zubair dan Ibnu Zaid semuanya menjelaskan bahwa yang dimaksud agresi (serangan) adalah “Menyerang siapapun yang tidak memerangi kamu”. Khalifah bani Umayyah terkenal sekaligus ulama Umar bin Abdul Aziz ditanya perihal ayat ini dan ia menyatakan bahwa dilarang memerangi orang yang tidak terlibat dalam peperangan. Pendapat ini telah diambil oleh para ulama Islam perihal larangan mencelakai siapapun yang tidak berperang.

[4] Tahrir wat Tanwir 2:192. Beberapa sumber penafsiran awal menjelaskan bahwa kalimat “ Jika mereka berhenti memerangimu, maka sungguh Tuhan Maha Pengampun dan Maha Penyayang” bermakna apabila mereka berhenti memerangi kamu dan menghentikan peperangan melawan kamu, termasuk tafsir Muqatil b. Sulaiman (w.150H), tafsir Al Samarqandi (w.375H) dan Tafsir Tsa’labi (w.427H)

[5] Diriwayatkan oleh Tsa’labi dan Thabarani (w.360H). sebagian orang boleh jadi heran apakah seorang ulama seperti Imam Al Kisa’I diselisihi oleh pernyataan beberapa ahli tafsir belakangan yang mengatakan bahwa fitnah berarti kekufuran dan keryirikan. Akan tetapi, Ibnu Jarir At Thabari (w310H) dan yang lain menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan “memaksa muslim untuk berbuat kufur/ syirik” adalah juga sebagai bentuk penganiayaan terhadap muslim. Ulama Quran awal yang terkenal Makki bin Abi Thalib (w.437H) mencatat “Fitnah secara Bahasa adalah ujian, oleh karena itu sebuah ujian yang menyebabkan seseorang kehilangan imannya adalah lebih buruk dari pada dibunuh.” Ibnu Jarir At Thabari menyatakan hal yang sama (lihat catatan kaki selanjutnya). Terlebih lagi, kita punya dalil tak terbantahkan dari sahabat Abdullah bin Umar dalam Shahih Bukhari. Ibnu Umar telah ditanya terkait kecondongannya berdamai selama perang di era Khalifah Ali, khususnya saat Quran menyatakan “Perangi mereka sampai tidak adalagi fitnah.” Ibnu Umar menjawab bahwa saat penganiayaan muslim karena keimanannya telah berhenti dan penyiksaan serta pembunuhan telah reda, maka tidak adalagi fitnah.”  (وقاتلوهم حتى لا تكون فتنة قال ابن عمر قد فعلنا على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم إذ كان الإسلام قليلا فكان الرجل يفتن في دينه إما يقتلونه وإما يوثقونه حتى كثر الإسلام فلم تكن فتنة)

[6] Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil ay al-Qur’an (2:190-193)ofImamal-Tabari menyatakan:

وقد بـينت فـيـما مضى أن أصل الفتنة الابتلاء والاختبـار فتأويـل الكلام: وابتلاء الـمؤمن فـي دينه حتـى يرجع عنه فـيصير مشركا بـالله من بعد إسلامه أشدّ علـيه وأضرّ من أن يقتل مقـيـماً علـى دينه متـمسكاً علـيه مـحقّاً فـيه

[7] Anwar At Tanzil wa Asrarut Ta’wil (9:5) Imam Al Baydhawi dan Ruhul Ma’ani (9:5) Imam Alusi. Penafsiran semacam ini diberikan otoritas karena sesuai dengan teks Al Quran itu sendiri. Saat membaca komentar-komentar figure klasik yang bervariasi, adalah penting untuk mencatat konteks sejarah dari komentar-komentar mereka. Banyak ahli tafsir hidup di era persaingan kekuasaan untuk mengendalikan satu dengan lainnya. Sering kali, orang-orang pada masa itu menyaksikan penaklukan kerajaan dan ekspansi politik sebagai satu-satunya cara untuk menyampaikan pesan kebenaran kepada komunitas lain yang hidup di bawah entitas-entitas politik permusuhan, dan karena itu beberapa dari mereka berupaya untuk mendafsirkan ulang beberapa surat dalam rangka untuk mendapatkan cakupan yang lebih luas. Bagaimanapun, penafsiran seperti ini disangkal oleh konteks tekstual dan sejarah Al Quran. Terlebih lagi, figure-figur itu sendiri berkata bahwa tujuan puncak adalah membangun keamanan di tanah-tanah umat Islam (lihat Bidayatul Mujtahid Ibnu Rusyd) atau menyampaikan pesan keimanan kepada orang lain. Jadi ekspansi politik hukum Islam sebagai alat penyebaran menjadi tidak relevan di era digital dan komunikasi massa serta global.

[8] Abu Bakr al-Jassas menyatakan, “صار قوله تعالى: {فَاقْتُلُوا المُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ} خاصّاً في مشركي العرب دون غيرهم.”

[9] Perhatikan juga bahwa ayat 9:8 dan 9:10 memberi karakteristik yang dimaksud oleh ayat-ayat ini lebih jauh dengan menyatakan bahwa mereka yang dimaksud adalah orang yang “Memperhatikan perjanjian atau hubungan kekeluargaan saat berhubungan dengan orang beriman””. Pentingnya memahami kondisi umum kesukuan bangsa Arab tak bisa dianggap remeh. Hari ini, seseorang bisa tenang turun ke jalanan tanpa khawatir barang bawaannya dirampok, pun seandainya ada maka dengan mudah memanggil polisi jika keamanannya terancam. Berbeda saat abad ke-7 di Arabia, tidak ada polisi, tidak ada hukum, yang ada hanya perlindungan masing-masing suku. Dan suku-suku ini dahulu saling berperang terus-menerus. Al Quran sendiri menyinggung masalah ini, “Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok.?” (QS. Al Ankabuut:67). Mengembara di tengah gurun bisa dipastikan baik dibunuh maupun dirampok,- atau lebih buruk lagi dijual sebagai budak faktanya, persis seperti yang terjadi pada beberapa orang sahabat Nabi-shallallahu’alaihiwasallam- termasuk Suhaib Al Rumi, Salman Al Farisi dan Zaid bin Haritsah. Adalah tidak mungkin membaca surat 9 (At Taubah) tanpa memahami latar belakang konteks ini untuk membentuk perintah dan aturan yang telah ada sejak dahulu dalam perang (suku di) Arabia

[10] Zad al-Masir (8:60) Ibnul Jawzi (d.597H) dan Nazhmud Dhurar (8:60) Al-Biqa’i (d.885H).


 

2 KOMENTAR

  1. Kamu harus lebih banyak belajar agama dan adab. Islam itu rahmatan lil ‘alamin. Akan berlaku sepanjang masa, sampai hari kiamat. Kalau anda menganggap beberapa ajaran Qur’an dan Sunnah tidak bisa diterapkan, maka keislaman anda patut dipertanyakan. Janganlah kamu sok pintar berbicara masalah agama dan persoalan orang banyak padahal ilmu dan adab masih dangkal. Adab anda dalam menyampaikan saja sudah membuktikanbahwa anda tidak punya adab. Dan adab itu lebih tinggi dari ilmu. Kalau orang sudah tidak punya adab, artinya dia juga tudak punya ilmu. Wallahu a’lam

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.