Beranda Suplemen Editorial ‘Problem Jakarta Itu Macet dan Banjir, Kenapa Tikus yang Diributkan?’

‘Problem Jakarta Itu Macet dan Banjir, Kenapa Tikus yang Diributkan?’

0
HD Wallpaper (edited)

“Setahu saya problem di DKI Jakarta ini adalah banjir, macet dan angkutan umum. Kok yang diributin masalah tikus ya.”

Kalimat itu disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika era Susilo Bambang Yudhoyono, Tifatul Sembiring, melalui akun Twitternya @tifsembiring.

Seperti diketahui, Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menyatakan bahwa bagi tiap warga yang sukses mengumpulkan tikus dalam program Gerakan Basmi Tikus, akan diberikan imbalan Rp 20 ribu/ ekor.

Program tersebut muncul, katanya, untuk meningkatkan kebersihan warga DKI terutama di wilayah lingkungan padat penduduk. Adanya gerakan itu juga agar masyarakat dapat terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh tikus.

Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok setali tiga uang. Pejabat yang menghina Alquran itu menyambut baik aksi tersebut dengan kalimat “baguslah”.

Djarot malah menilai wacana program perburuan tikus adalah program yang baik-baik saja, positif. Aksi berburu hewan pengerat, masih kata Djarot, merupakan kegiatan real. Bahkan ia mengkomparasikan penangkapan tikus dengan permainan memburu Pokemon pada gim “Pokemon Go” yang dinilainya tak mempunyai nilai positif.

“Daripada nangkap Pokemon, dulu kan nyari Pokemon, ngapain. Ke taman nyari Pokemen gitu ya. Udah habis sekarang kan, udah enggak laku Pokemon kan. Dulu cari Pokemon sampai ke mana-mana. Nah ini (memburu tikus) nyata, nyata bermanfaat,” ujarnya kepada awak media.

Program ini katanya kemungkinan dilaksanakan dengan dengan cara warga diminta untuk memburu tikus-tikus got yang ada di lingkungan tempat tinggalnya.

Gagasan fulus Rp20 ribu untuk sebuah tikus ini sekilas memang positif dan menyehatkan. Akan tetapi gagasan ini teramat sangat remeh temeh di tengah kompleksitas permasalahan ibukota. Dari mulai langganan banjir tahunan, transportasi massal yang tak berpihak kepada publik, menangkap pelaku korupsi Sumber Waras, kemacetan yang sulit diurai dan sebagainya.

Mau tidak mau, gagasan menangkap tikus ini akan melahirkan peternak tikus dadakan. Dan tidak sulit membayangkan DKI Jakarta akan menjadi kandang tikus–titel kedua setelah parkir terbesar. Dari titik ini, timbul pertanyaan lain pula, tidak adakah program yang lebih baik dari sekadar sayembara penangkapan tikus? Bisa jadi. Agenda ini layak dicurigai sebagai upaya ‘serangan fajar’ prematur menjelang Pilkada DKI 2017

Suka tidak suka, kita sepakat dengan pendapat Tifatul “..Kok yang diributin masalah tikus ya?”